Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
100. Takdir Sementara


__ADS_3

Sejak perdebatan mereka malam itu, Laura tidak pernah lagi menemui Adam begitu juga sebaliknya.


Bukannya dia tidak peduli, Selamat sore untuk benar-benar melupakan Adam sepenuhnya. Namun, Laura terlalu sakit hati dengan perkataan Adam malam itu. Dia harus mempertahankan harga dirinya sendiri.


"Laura, makan yuk?" Suara Belen membuyarkan lamunan Laura. Dia sedikit terkejut ketika tangan Belen mengenai pundaknya.


Belen menoleh. "Kamu jalan saling ngelamun lagi?" gerutunya. "Sudah aku bilang itu berbahaya." Belen mendapati sikap lain Laura belakangan ini. Dia jadi banyak melamun, tidak bisa benar-benar fokus pada kegiatannya.


"Sudah kubilang berapa kali sama kamu, kalau ada masalah cerita sama aku." Belen mendesaknya. "Kamu suka memendamnya sendiri sekarang, seakan tidak menganggapku sebagai teman."


"Aku menjauhi Pak Adam." Laura akhirnya berbicara. Berhari-hari dia berusaha menyembunyikannya sendiri, berharap waktu bisa segera membiasakan dirinya.


Sayangnya, Laura seperti kehilangan sesuatu.


"Kalian bertengkar?" Belen mencoba untuk menyimpulkan. "Kalian sudah tidak lagi menjadi suami istri, apa yang kalian perdebatkan sampai kamu memutuskan itu?"


"Pak Adam yang bilang kalau aku mengganggunya. Aku tidak boleh datang padanya lagi." Laura menundukkan pandangan, berjalan sembari menatap irama langkah kakinya sendiri.


"Dia bilang begitu sama kamu?" tanya Belen. "Kamu yakin kamu tidak salah tangkap?" Belen tidak bisa langsung percaya begitu saja pada Laura, berulang kali gadis ini suka menyimpulkan sendiri.


"Kamu nggak percaya sama aku?" Laura memicingkan mata. "Kalau begitu datangi dia sendiri. Tanyakan itu padanya," gerutu Laura. Dia mempercepat langkah kaki.


Belen mendengus. "Laura! Come on!" Dia mencoba membujuk temannya. "Kamu menyerah untuk bisa mendapatkan hati Pak Adam? Katanya kamu menyukainya, dia juga punya respon yang bagus sama kamu."


"Dia membantu kamu, dia mengawasi kamu, dan dia melindungi kamu dari jauh." Belen senyum-senyum sendiri sembari membayangkan. "Itu sudah menandakan kalau dia juga menyukai kamu. Mungkin kalian saling menyukai."


Laura tidak memberi jawaban. Dia terus melangkahkan kakinya, tanpa arah tujuan yang pasti, Laura hanya ingin segera pulang ke rumah. Kembali pada rutinitas yang membosankan setelah pergi kerja.


Akan tetapi, nasib buruk menghadang langkah kakinya. Dia melihat Adam datang dari arah yang berlawanan. Laki-laki itu berhenti di tempatnya, itu juga dengan Laura.

__ADS_1


"Itu Pak Adam!" Belen menunjuk. Dia menyenggol bahu Laura. "Samperin, barangkali itu bisa memperbaiki hubungan kalian," bisiknya.


Belen melambai-lambai pada Adam yang jelas mengabaikannya. Fokusnya hanya untuk Laura.


"Kenapa malah diam saja?" Belen menoleh pada Laura. Dia mendorong tubuh Laura untuk berjalan menghampiri Adam. Namun, tanpa diduga, Adam memutar langkah kakinya. Dia tak jadi melewati jalan itu.


"Oh!" Belen mengerutkan keningnya sembari menunjuk punggung Adam yang menjauh. "Dia benar-benar menghindari kita?"


Laura berdecak. Dia Hampir menangis mengetahui fakta, untuk pertama kalinya dia melihat Adam berpaling darinya.


"Laura, apa yang—" Kalimat gadis itu terhenti ketika Laura berpaling dari tempatnya. Gadis itu pun memilih pergi menyeberang jalan, tidak jadi mengikuti langkah temannya itu.


"Laura!" Belen memanggil namanya. "Ra! Laura!" Dia mendengus. "Sial!" ketusnya sembari menjejakkan kakinya di tanah. "Kalian ini kenapa?"


>>>><<<


"Pak Adam!" Belen berteriak. "Pak Adam! Tunggu!" Belen tidak peduli orang-orang melihat ke arahnya dengan aneh, hanya ingin menghentikan Adam saja.


"Pak Adam!"


"Pak Adam ini cepat sekali jalannya," gerutu Belen. Dia menatap kaki jenjang Adam. "Mungkin karena kaki Pak Adam jenjang?"


Adam tersenyum tipis. "Kenapa harus mengejarku?" tanyanya. "Kamu bisa mengirimi pesan kalau butuh sesuatu."


"Aku butuh penjelasan langsung dari Pak Adam." Belen tiba-tiba berkacak pinggang di depannya. "Aku ingin Pak Adam jujur!"


Adam manggut-manggut. "Tentang Laura?" Dia menebak. Memangnya tentang apa? Belen hanya punya Laura untuk dibahas.


"Kenapa Pak Adam pergi tadi?" tanyanya. "Kalau dipikir-pikir hampir seminggu lebih Pak Adam tidak muncul di hadapan kita."

__ADS_1


"Pak Adam benar-benar melupakan kita semua?" tanya Belen dengan ketus. "Apa karena Pak Adam sudah menemukan kehidupan yang baru dan mau menikah dengan perempuan Pak Adam?"


Adam tertawa kecil. "Laura bilang apa sama kamu?" tanyanya. "Sepertinya kamu salah paham masalah kita berdua. Aku hanya ...."


"Laura menyukai Pak Adam!" Belen mengutarakannya. Melihat bagaimana Adam terkejut, Belen tersenyum miring. "Jangan bilang kalau Pak Adam tidak menyadarinya?"


Adam tersenyum tipis. "Belen, aku tidak mau membahas seperti ini sama kamu."


"Aku dan Laura sama-sama sepakat untuk tidak saling mengganggu satu sama lain lagi, Belen." Adam berusaha lembut. "Kita sama-sama berusaha tidak melanggar privasi masing-masing."


Belen tertawa. "Aku mengenal Laura dengan baik, dia tidak seperti menyetujui itu."


"Belen, aku hanya ...."


"Pak Adam tidak menyukai Laura juga?" Belen langsung pada intinya. "Kenapa diam saja?"


"Belen, aku minta maaf sama kamu. Aku tidak bisa menjawabnya," ucap Adam dengan yakin. "Ini bukan urusan kamu."


Adam menghela napas. "Aku ada urusan setelah ini. Jadi aku harus kembali ke rumah, Belen."


"Maafkan aku," imbuh Adam menutup kalimatnya. Dia berpaling dari Belen. Namun, Belen tidak akan melepaskan Adam begitu saja. Dia menarik tangannya.


"Belen!" Adam sedikit kesal. "Jangan buat aku membentak kamu."


"Pak Adam, aku tidak peduli Pak Adam membohongi diriku, Laura, atau pasangan Pak Adam sekarang," ucap Belen dengan tegas.


Dia menatap Adam tajam. "Namun, cobalah untuk jujur pada dirimu sendiri. Toh juga, perasaan itu milikmu."


"Terus menerus membohongi dirimu sendiri, tidak baik, Pak Adam." Belen menutup kalimatnya. "Katakan apa yang ingin Pak Adam katakan, lakukan apa yang ingin Pak Adam lakukan. Menahannya sangat tidak enak," pungkasnya. Belen pergi meninggalkan Adam setelahnya.

__ADS_1


Next.


__ADS_2