Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
26. Jemput Aku, Sekarang!


__ADS_3

"Menampung kamu di rumah ini?"


"Jelas-jelas aku tidak bisa. Mama dan papaku tidak akan mengizinkan. Ini musim ujian, jadi aku harus belajar."


"Ra? Rumahku saja sudah sempit dengan anggota keluarga kami. Kalau ditambah kamu, aku yakin tidak bisa menampung."


"Emangnya kamu kenapa? Kalau ada masalah sama papa dan mama kamu, sebaiknya dibicarakan. Pergi dari rumah bukan hal yang bagus."


"Kamu pergi dari rumah? Ra! Kamu itu anak manja. Jangan sok-sokan pergi dari rumah hanya karena bertengkar dengan orang tuamu, balik ke rumah dan minta maaf. Besok pagi aku ajak ke diskotik untuk mengembalikan mood kamu!"


Kalimat itu terngiang-ngiang di dalam kepala Laura. Langkah kaki tanpa arah, membawa Laura jauh dari tujuan terakhirnya.


"Mereka meninggalkan aku?" gumam Laura. Sekarang dia tidak punya tujuan yang pasti.


Laura berhenti. Dari tempatnya, dia memandang restoran kecil yang ramai pengunjung. Tiba-tiba dia menjadi gadis miskin, yang harus menahan rasa lapar malam ini.


Dering ponsel membangunkan lamunan Laura. Dia mengambil ponsel dan melihat siapa yang membuat panggilan.


"Belen?"


-Ah, Laura baru ingat kalau rumah Belen tidak masuk dalam daftar orang yang dia datangi malam ini. Alasannya, Belen akan menghujani Laura dengan ribuan pertanyaan.


"Halo, Belen?" Laura terpaksa mengangkat panggilan Belen.


"Kamu di mana?" tanya Belen. "Aku dapat pesan dari teman-teman lama ... katanya kamu menelpon mereka dan minta tempat menginap."


Laura diam. Berpikir harus menjawab apa.


"Laura?" Belen membentak. "Kamu mengabaikan aku?"


"Aku baik-baik aja." Laura menjawab seadanya. "Kamu tidak perlu khawatir."

__ADS_1


"Kenapa tidak datang ke rumahku?" tanya Belen. "Aku pasti mengizinkan kamu menginap di sini untuk beberapa hari sampai perselisihan kamu dan papa mamamu selesai."


Laura mencari tempat duduk, beruntungnya dia berdiri di sisi tiang lampu jalan dengan kursi panjang di sampingnya.


Laura duduk di sana. "Aku sudah menemukan tempat." Gadis itu berbohong. "Kamu nggak perlu khawatir, aku baik-baik saja."


"Kamu bohong kan?" Belen menegaskan. "Kamu sedang ada di pinggir jalan."


Tebakan Belen, membuat Laura was-was. Pandangan matanya celingukan ke sana kemari, mencari sosok Belen.


"Suaranya bising. Ada motor lewat," sambung Belen.


Laura lega mendengarnya.


Laura tersenyum seadanya. "Aku benar-benar sudah menemukan tempat menginap. Gak enak kalau tiba-tiba aku pergi padahal sudah diizinkan."


"Di mana?" tanya Belen mencecar.


"Rumah teman SMP. Nanti aku kenalkan kalau kita bertemu," tandas Laura dengan yakin.


"Janji?" Belen langsung menyahut. Hanya mendapat gumam dari Laura.


"Kalau begitu aku tutup telfonnya, aku harus belajar." Belen menambah lagi. "Kamu besok masuk sekolah kan?"


Laura menganggukkan kepala. "Akan aku usahakan."


"Kalau begitu kita bicarakan besok, Ra. Jangan mencoba menghindari aku!" ketus Belen, tertawa picik kemudian. "Kita jarang berbicara belakangan ini."


Laura mengiyakan tanpa basa-basi. Setelahnya Belen menutup panggilan dan suara menghilang begitu saja.


Laura kembali sendirian. Meratapi nasib sebab kerasa kepala yang dia punya.

__ADS_1


Sialnya, gerimis jatuh membasahi kota. Laura menadahkan tangan, menerima hujan malam ini. Dia tidak mau berlindung, tetapi berusaha untuk menikmatinya. Semakin besar tetesan hujan, terasa sakit melukai puncak kepalanya.


"Haruskah aku ke rumah Daffa?" gumam Laura. "Dia punya rumah sendiri."


Bimbang? Tentu saja. Daffa mungkin dengan senang hati akan menerima Laura malam ini. Dia hanya cukup memohon sekali.


Semesta seakan mendengarkan Laura, panggilan masuk dari Daffa menghiasi layar ponselnya. Dengan ragu, Laura menerima panggilan itu.


Suara berat Daffa terdengar mengandung kecemasan. "Vania mengabari aku kalau kamu kabur dari rumah."


Daffa pergi pada inti pembicaraan. "Benar begitu?"


Laura mengulum ludah, semakin kuat merasakan dingin yang membelenggu di posisinya.


"Ra? Jawab aku!" Daffa semakin khawatir. "Kamu di mana sekarang?" tanya Daffa mencecar.


Laura memandang jalanan di depannya, sudah mulai basah dengan air hujan.


"Ini hujan dan sudah hampir larut malam," imbuh Daffa. Nada bicaranya terdengar menggebu-gebu. "Aku akan jemput kamu. Kamu di mana?"


Laura hampir meneteskan air mata, rasa sakit terasa jelas di dalam hatinya.


"Laura? Aku yakin kamu belum menemukan tempat menginap." Daffa mendesak. "Katakan di mana kamu sekarang?"


Laura hampir menjawab, tetapi seseorang merebut ponselnya. Ketika Laura menoleh, Adam menjawab panggilan dari Daffa.


"Bersamanya suaminya, Nak Daffa," jawab Adam dengan tegas. "Istriku baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas."


Laura tak terima. Dia langsung mengambil kembali ponselnya. Menatap Adam dengan marah.


"Jemput aku, Daf. Aku menunggumu," kata Laura setelah mendekatkan ponsel di telinga kirinya. "Aku tidak mau bersama Pak Adam."

__ADS_1


Next.


__ADS_2