Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
51. Cinta Penuh Luka (1)


__ADS_3

"Daffa!" Laura berlari ketika mendapati Daffa dikeroyok beberapa orang di sebuah gang kecil. Laura mengabaikan rasa lelah yang dia rasakan secara berlebihan setelah turun dari taksi dan berlari sesuai dengan arahan pesan yang masuk dalam ponselnya.


"Lepaskan Daffa!" Laura berteriak. Meskipun dia tahu akan sia-sia, sebab tubuhnya tak sebanding dengan mereka, tetapi Laura masih berusaha untuk menyelamatkan mantan kekasihnya.


Laura mendorong satu persatu lelaki bertubuh kekar hingga gempal itu. Sesekali juga tubuhnya ikut terdorong sebab tenaganya tak terlalu kuat untuk menahan serangan.


Laura mengambil kayu lapuk di sisinya. Dia mencari celah untuk memukul salah satu lelaki di sana. Tak peduli, mati atau tidak. Pikiran Laura hanya tentang keselamatan Daffa.


"Pergi dari sini!" teriak Laura lagi. Dua lelaki bertubuh kekar jangkung mencoba untuk menghadang Laura. Perkelahian kecil terjadi di antara mereka.


Daffa juga sekuat tenaga berusaha mengalahkan mereka. Dia mengabaikan pukulan yang mendarat di tubuhnya, demi melindungi Laura.


"Hei! Ada yang bertengkar! Tolong!" Seorang warga yang melintas menjadi penyelamat untuk Laura dan Daffa. Para lelaki itu lekas menghentikan 'penyiksaan' mereka.


"Ada gadis yang ditonjok!" Wanita itu berteriak lagi. Dia menunjuk-nunjuk ke arah Luara.


"Kita harus segera pergi," gumam salah satu dari mereka.


Seorang pria gempal menarik kerah baju Daffa. "Bayar hutangmu minggu ini atau kamu benar-benar kehilangan matamu untuk dijual!"


Kalimat itu mengakhiri perkelahiannya. Bersama dengan beberapa warga yang datang, para preman itu pergi meninggalkan Daffa dan Laura.


"Nak! Nak!" Seseorang mendekati Laura yang lemas di pojok gang. Kamu gak papa?" tanya pria itu. Dia memandang wajah Laura yang pucat.


Pria itu menatap celah kaki Laura. "Astaga, kamu pendarahan?" tanyanya panik. Dia langsung memanggil orang-orang untuk datang menolongnya.


Daffa ikut panik. Pemuda itu lekas berdiri dan berlari mendekati Laura. Dia menerobos kerumunan di depan Laura.


"Ra?" Daffa berjongkok di depannya. "Kamu pucat sekali."


Laura menggelengkan kepalanya. "Kamu gak papa?" tanyanya dengan lirih. "Wajah kamu babak belur."


"Itu sekarang nggak penting!" Daffa mulai panik. Dia menatap beberapa warga yang ada di sekitarnya. "Bapak, Ibu, bisa tolong saya carikan taksi?"

__ADS_1


"Kamu siapanya?" tanya salah seorang wanita. "Sepertinya dia pendarahan parah, kita bawa ke klinik temanku saja. Tempatnya tidak jauh."


Daffa menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kita harus membawanya ke rumah sakit besar. Kalau klinik nanti malah jadi tambah parah."


"Rumah sakit besar jauh dari tempat ini, Nak," desak seseorang lagi. "Lebih baik ikuti saja perintahnya."


Laura mencoba menolak. "Aku tidak papa ...." Dia keras kepala. Laura berusaha berdiri dengan meraih tangan Daffa. "Bantu aku berdiri ...."


"Ra, kamu harus pergi ke rumah sakit." Daffa menolaknya. "Kamu harus dirawat."


Laura memandang dengan wajah pucatnya. Peluh membasahi pelipisnya, sebab Laura terlalu keras kepala untuk menahan rasa sakit itu.


Laura menggeleng dengan samar. Napasnya mulai terengah-engah, tersita banyak karena dia berusaha menahan sakit dan kram perut yang luar biasa.


"Nanti ... Pak Adam akan ...." Laura belum selesai berbicara, pandangan matanya mulai kabur. Bayangan orang di depannya seakan berlari-lari tak beraturan di depannya. Suara Daffa yang memanggilnya mulai hilang ditelan cahaya gelap yang menutup pandangannya.


Laura pingsan.


"Ra!" Daffa berteriak panik. "Tolong saya! Tolong bawa dia!"


SMA Menjura, Jakarta.


Adam masuk ke dalam kelas. Seperti biasa, sorak-sorai menyambut kedatangan pangeran tertampan di SMA Menjura tahun ini.


"Selama siang," sapa Adam dengan ramah. Dia meletakkan setumpuk kertas di atas meja. "Kita ulangan hari ini."


Semua sorakan itu berhenti. Wajah murid-murid Adam berubah lesu begitu saja.


"Kenapa harus mendadak, Pak?" Belen mengangkat tangannya. "Seharusnya bilang dulu," ucapnya. Belen tidak benar-benar marah, dia tetap genit pada Adam seperti biasanya.


Adam tersenyum. "Itulah kenapa kalian harus belajar setiap malam." Lelaki itu tertawa seadanya.


Adam mulai pembelajaran. "Keluarkan kertas. Ini hanya soal lima esai. Kalian pasti bisa menjawabnya."

__ADS_1


Adam memandang semua bangku di dalam ruang kelas ini. Ada satu yang mencuri perhatiannya. Bangku di samping Belen kosong lagi.


"Laura di mana?" tanya Adam. "Dia tidak masuk lagi?"


Belen mendesah. "Tadi pagi ada. Namun, dia pergi sampai sekarang nggak kembali, Pak."


Adam mengerutkan kening. "Ke mana? Ada yang tahu?"


"Aku melihat Laura berlari ke luar gerbang belakang sekolah. Dia naik taksi seperti orang buru-buru, Pak!" Seorang menyahut Adam.


Adam terdiam. Mencoba menerka. Tak berselang lama, ponselnya berdering. Adam merogoh saku celana dan mengambil ponselnya.


Nomor tak dikenal.


"Saya angkat telepon dulu. Kalian siapkan kertas," ucap Adam memerintah. Dia berjalan keluar kelas, mencari tempat yang sepi.


"Halo?" Adam mengangkat teleponnya. Suara seorang laki-laki terdengar menyahut, samar-samar.


Adam mengenal suara itu. "Daffa?" tanyanya mencoba untuk memastikan. "Ini Daffa?"


Daffa menghela napas panjang, mencari ancang-ancang untuk berbicara. Adam pasti mengumpat padanya.


"Pak Adam bisa datang ke sini?" Daffa berbicara dengan nada yang panik.


Adam mengerutkan kening. "Kenapa aku harus ke sana?"


"Daffa! Aku tidak ada urusan dengan kamu dan—"


"Laura masuk rumah sakit," ucap Daffa memotong kalimat Adam. "Dia pendarahan hebat."


Adam langsung menutup ponselnya. Tanpa basa-basi dia berpaling, hendak pergi meninggalkan tempatnya. Namun, Belen tiba-tiba berdiri di belakang Adam. Gadis itu memandang Adam dengan jeli.


"Ada masalah, Pak?" tanya Belen. "Itu tadi Daffa mantannya Laura kan?"

__ADS_1


Next.


__ADS_2