Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
115. Lelaki Jalang?


__ADS_3

Fajar menyingsing. Hangat dirasakan Laura ketika dia berhasil bangun dari mimpinya, sayup-sayup pandangan mata mulai menyambut dunia.


"Argh ...." Dia mengerang ringan. Ingatannya belum sepenuhnya kembali, tetapi rasa lelah dia dapatkan begitu nyata.


Laura membuka mata, dia berharap menyambut wajah Adam di sampingnya. Namun, ranjang besar ini hanya berisi dirinya saja. Adam hilang entah ke mana.


"Di mana dia?" Laura memaksa matanya terbuka lebar. Kesadarannya dipaksa untuk segera kembali. "Pak Adam sudah pergi?"


Gadis itu memandang ke arah jam dinding. "Masih pukul setengah tujuh?" tanyanya seorang diri. Laura mengusap wajahnya. "Argh, sial."


Tentu saja Laura kecewa jika ada memang pergi begitu saja tanpa membangunkannya. Padahal dia sudah berangan-angan, menyambut pagi yang bahagia layaknya sepasang suami istri.


"Setelah bermain dengan tubuhku dia pergi begitu saja?" gerutu Laura. Gadis itu berusaha meraih pakaiannya yang berserak di atas lantai. Laura hanya dibungkus selimut tebal, tanpa sehelai kain pun.


"Kalau tahu begini, kemarin malam aku jual mahal aja!" gerutunya lagi. "Biar dia tahu rasa!"


Laura hendak turun dengan keadaan telanjang, tetapi tiba-tiba suara pintu terbuka. Gadis itu langsung melompat dan bersembunyi di bawah selimut. Takut jika itu orang asing, seperti tamu yang tak diundang barangkali. Siapa lagi kalau bukan Belen?


"Pak Adam?" Laura mengerutkan kening ketika melihat penampilan Adam layaknya seperti koki masak pagi ini. "Pak Adam ngapain ...." Dia langsung menganggukkan kepalanya ketika tersadar. "Ah, Pak Adam sedang masak?"


"Aku ganggu kamu tidur?" Adam berjalan mendekatinya. Dia duduk di ujung ranjang, tidak jauh dari Laura.


Secara bersamaan, gadis itu menenggelamkan diri di bawah selimut. "Kenapa tiba-tiba masuk?" tanya Laura dengan lirih. Dia berusaha menyembunyikan tubuhnya, takut jika ada melahapnya lagi seperti kemarin malam.


Adam sama dengan pria yang lainnya, meskipun terlihat begitu polos dan pendiam.


"Apa yang kamu sembunyikan?" Adam menggoda dengan menarik selimut Laura. "Apa yang tidak boleh aku lihat?" kekehnya.

__ADS_1


Laura juga menarik selimut untuk tetap melindunginya. "Aku tidak berpakaian," jawab Laura. "Aku telanjang."


Adam tersenyum tipis. "Memangnya kenapa kalau kamu telanjang?" godanya. Dia mendekati Laura. Mendekatkan wajahnya kemudian. "Lagian aku sudah melihat semuanya kemarin malam," bisiknya. "Tidak bolehkah aku melihat lagi?".


Laura tersipu. Wajahnya memerah seketika, mirip seperti kepiting rebus.


"Pak Adam ini!" Laura menggerutu. "Aku jadi malu!" Gadis itu memprotesnya.


Adam tertawa geli. Dia mengusap puncak kepala Laura dengan kasar. "Mandilah. Aku sudah siapkan sarapan," ucapnya.


"Aku akan menunggu di meja makan. Kamu jangan lama-lama. Aku harus segera pulang," ucap Adam lagi. Dia beranjak dari tempatnya.


Laura menarik tangan Adam. "Kenapa buru-buru?" tanyanya. "Ini adalah akhir pekan. Pak Adam tidak perlu bekerja, bukan?"


Adam menganggukkan kepalanya. "Bu Wanda menghubungiku," katanya. "Baru pagi tadi aku bisa membukanya, ternyata dia mengirimi aku banyak pesan."


Laura menemukan raut wajah Adam yang tak biasa. "Ada masalah?"


Laura jadi ikut melukiskan raut wajah kecewa. Dia tidak tahu kenapa dirinya harus sakit hati, semuanya tidak ada hubungannya dengan Laura.


"Pak Adam ...."


"Aku tidak akan kembali pada Nurwa," ucap Adam dengan yakin, dia tahu apa yang dicemaskan Laura saat ini. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan tetap bersamamu."


Laura memaksakan senyum. "Kamu sudah berjanji, oke?" Laura menatapnya dengan penuh harapan. "Jangan mengingkari itu."


Adam manggut-manggut. "Aku akan berusaha menjaga janjiku."

__ADS_1


>>>><<<<


Adam pulang ke rumah. Dia disambut oleh pandangan mata yang seperti ingin menghakiminya. Tentu saja, Wanda juga turut serta di dalamnya.


Bukan tentang keputusan Adam untuk menghentikan pernikahan bersama Nurwa, tetapi tentang fakta bahwa putranya menghilang satu malam penuh. Adam tidak ada di rumahnya, tidak ada teman dekatnya yang sedang bersamanya. Jawabannya hanya satu, Laura Mentari.


"Duduklah, Nak." Wanda mengundang Adam dengan begitu ramah. "Ada yang ingin kami bicarakan denganmu."


Seperti layaknya seorang pria dewasa, Adam harus bertanggung jawab atas keputusannya. Dia sudah memperkirakan hal ini terjadi. Tidak mungkin bermasalah hanya akan selesai begitu saja.


"Maaf karena aku terlambat, Bu." Adam duduk di sofa paling ujung. Pandangan matanya mengenali satu persatu orang yang ada di depannya. Tempat duduk di depannya, Nurwa berada. Gadis itu terus menunduk, tidak berani menatap Adam. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, Adam!" Wanita di depannya berbicara dengan begitu tegas. Itu adalah ibu kandung dari Nurwa. "Ini tentang putriku!"


Adam manggut-manggut. "Maafkan aku, Bu. Aku belum sempat menemui Ibu terkait keputusanku dan Nurwa untuk ...."


"Lanjutkan pernikahan kalian!" Wanita itu dengan tegas memberi perintah. "Aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan dengan putriku, tidak ada yang menjamin kalau dia masih perawan bukan?"


Adam mengerutkan kening. Dia menoleh pada Nurwa.


"Kenapa malah diam saja?" Wanita tua di depannya semakin menjadi-jadi. "Tanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan padanya, Dam! Nikahi dia!"


Adam semakin tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi?


"Apa harus menunggu hasil Nurwa positif hamil dulu, baru kamu mau bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan, huh?" tanyanya dengan nada meninggi.


Adam menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah ...."

__ADS_1


"Tanggung jawab, Dam! Nikahi Nurwa! Kamu sudah mengambil keperawanannya!"


Next.


__ADS_2