
"Kanan atau kiri?" Laura terus menatap etalase kue di depannya. Sebenarnya dia menyukai keduanya, tetapi uangnya tidak cukup untuk membeli keduanya. Jika dia keras kepala, maka Laura tidak makan nasi sampai nanti malam.
"Dua-duanya saja." Seseorang menyela dirinya. Ketika Laura menoleh, Daffa berdiri di sampingnya sembari tersenyum padanya.
Laura mengerjapkan mata beberapa kali, hendak bertanya tetapi dia tersadar bahwa ini lingkungan rumah Daffa. Wajar saja jika dia bertemu dengan pemuda ini sekarang.
"Mau aku belikan?" tanya Daffa. "Aku baru dapat gaji hari ini."
Laura tidak menjawab apa pun. Dia terdiam di tengah kebimbangan yang luar biasa. Sesekali menggigit bibir bawahnya, beginilah rasanya sedang ngidam.
"Begini ...." Laura menggaruk-garuk sisi kepalanya. "Aku akan diberi gaji minggu ini. Jadi ...."
"Aku akan membelikan untuk hadiah," ucap Daffa tiba-tiba. Dia membawa Laura masuk ke dalam toko kue. Memesan sesuai keinginan Laura.
Sembari menunggu, mereka sama-sama terdiam dan berusaha menghindari pandangan mata satu sama lain.
"Aku akan mengganti uangnya." Laura yang memulai pembicaraan. "Minggu depan aku bayar di sekolah."
Daffa memandangnya sembari menggelengkan kepala. "Aku nggak akan datang ke sekolah lagi," jawabnya.
Laura mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Aku hanya menyelesaikan ujian akhir. Ibuku yang akan mengambil hasilnya, aku juga akan melewatkan wisuda." Daffa menjelaskan singkat. "Aku ada kerjaan di luar kota, ikut pamanku."
Laura manggut-manggut. Penjelasannya cukup mudah dimengerti. Namun, ada yang aneh di dalam hatinya sekarang. Laura tidak perlu merasa cemas atau bahkan sedih mendengar hal itu. Dia tidak seharusnya memperdulikan apa yang dilakukan Daffa, mereka sudah tidak punya hubungan apapun.
Sayang oh sayang, Laura merasakan itu di dalam hatinya.
"Hitung-hitung cicilan bayar hutangku, Laura," imbuh Daffa. Dia memandang Laura. "Aku berhutang banyak padamu bukan?"
Laura manggut-manggut. "Ah, uang itu," gumamnya. "Itu punya Pak Adam."
"Jadi itu benar uangnya?" Daffa langsung menyahut.
Laura mengangguk tanpa memahami apa pun. Sepertinya telah terjadi sesuatu di antara Daffa dan Adam yang tidak diketahui oleh Laura.
__ADS_1
"Ada sesuatu di antara kalian tentang uang itu?" Laura bertanya dengan serius. Namun, pembicaraan mereka di sela oleh pelayan toko.
Daffa mengangguk sekali, lalu menerima pesanan mereka. Dia membayar sejumlah uang dan memberikan senyum seadanya.
Pemuda itu berpaling dari Laura, berjalan ke luar toko.
Laura yang begitu penasaran mencoba untuk mengejarnya. Dia menarik tangan Daffa tepat saat mereka keluar dari dalam toko kue. Sialnya, Adam tak sengaja lewat di depan toko itu. Pertemuan yang luar biasa!
"Pak Adam?" Daffa terkejut, begitu juga dengan Laura. Tak aneh jika Adam membeku sejenak saat melihat Laura memegang tangan Daffa, merengek padanya.
Laura yang tahu situasi aneh, mulai memanfaatkan ini. Entah setan apa yang berbisik, suara Belen tentang hubungan Laura, Daffa, dan Adam tiba-tiba melintas begitu saja. Gadis itu malah mempererat genggaman tangannya.
Daffa berusaha memahami situasi. Apapun yang terjadi, hubungan Laura dan Adam pasti sedang tidak baik-baik saja. Itulah kesimpulannya.
"Pak Adam ngapain ke sini?" Laura berusaha bertanya dengan ketus. Semua kata-kata Wanda kemarin masih melekat kuat di dalam memorinya. Rasa sakitnya berlipat ganda sebab tidak kunjung mendapatkan permintaan maaf dari mereka.
Adam memandang jari jemari Laura, nyaman di sela jari jemari Daffa. "Jalan-jalan," jawab Adam seadanya.
Laura tahu ini bukan jalan yang menghubungkan tempat kerja dengan rumah Adam. Terlalu jauh jika lewat jalan ini.
"Kita tidak sengaja ...."
"Kita berkencan," ucap Laura dengan mantap, lebih tepatnya berusaha mantap. Laura sekuat tenaga berpura-pura bahagia. "Kami sepasang kekasih sekarang."
Adam menatap Daffa. Jelas sekali pemuda itu kebingungan dengan Laura.
"Dia akan menikahiku setelah lulus," ucap Laura sembari bergelayut manja. "Benarkan, Daff?"
Daffa terdiam.
"Nggak perlu ragu! Aku dan orang ini sudah tidak hubungan apapun!" Laura meneruskan kalimatnya. "Dia membuangku ... ah, tidak! Aku yang membuangnya."
Adam tersenyum tipis sembari menundukkan kepalanya. Laura memang paling bodoh ketika disuruh berbohong dan berakting begini. Bahkan untuk pemain figuran saja, dia tidak akan lulus seleksi.
"Hmm, benar." Daffa akhirnya berbicara ketika Laura menginjak ujung kakinya. "Kita akan menikah."
__ADS_1
Adam menatap Daffa. Dia sejenak menghela napas. "Jadi kamu yang akan menjadi ayah untuk anaknya nanti?"
"Kamu hamil, Ra?" Daffa terkejut. Dia langsung menoleh pada Laura. "Anak siapa?"
Laura mengulum ludah. Dia memalingkan wajah kemudian. "Nanti aku ceritakan."
"Jadi ... Daffa mau menikahi kamu tetapi tidak tahu kalau kamu sedang hamil?" tanya Adam lagi. "Bukankah itu lucu, Laura?"
Laura menatap Adam yang tertawa. Di dalam hatinya, hanya ada sumpah serapah untuknya.
"Pak Adam pikir ini lucu?" Laura menyahut dengan ada bicara tak suka. Ketika Adam memandangnya, raut wajah Laura sudah tidak bersahabat. Dia akan memangsa Adam jika Laura adalah predator yang lapar.
Adam mengangguk. "Kamu sangat ...."
"Ibu sama anak sama saja," sahut Laura. "Kalian menyebalkan!" Setelah menyelesaikan kalimatnya, Laura beranjak dari tempatnya. Dia hendak meninggalkan Daffa dan Adam di sana.
"Apa yang ibuku katakan?" Adam mencegah Laura pergi. "Dia bilang sesuatu?"
Laura tak mau menjawab. Dia hanya menatap Adam dengan marah. Gadis itu melepaskan genggaman tangan Adam kemudian.
Melihat Laura yang pergi sendirian, Daffa mencoba mengejarnya. Namun, Adam pun mencegah Daffa.
"Jangan mengikutinya. Biar aku!" tegas Adam berbicara.
Daffa menyeringai tajam. "Pak Adam sudah melukainya, masih berpikir untuk mengejarnya?" tanya Daffa ketus. "Diam saja! Dasar pria tua menyebalkan!"
Daffa mendorong tubuh Adam menjauh. "Asal Pak Adam tahu, mau beli roti saja ... Laura harus memilih."
Adam mengerutkan kening.
"Awalnya aku berpikir dia hanya tinggal membeli mana yang dia suka, tetapi sekarang aku tahu kenapa begitu berat memilih untuknya tadi!" Daffa mendekati Adam, menarik kerah bajunya. "Ah, ternyata dia sedang ngidam," gumamnya tepat di hadapan Adam.
Sebelum Daffa pergi, satu kalimat benar-benar membuat Adam membeku. "Aku penasaran siapa yang membuat dia hamil sekarang? Jika orangnya ada di depanku, bukannya dia lebih bajingan dari aku?"
Daffa tidak memberikan Adam waktu untuk berbicara, dia pergi begitu saja.
__ADS_1
Next.