Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
76. Pengakuan Laura


__ADS_3

Kehidupan Laura tidak akan pernah bisa kembali lagi. Keadaan tidak akan pernah sama lagi. Semua mata mengalihkan pandangannya. Laura bukan lagi objek menarik untuk dipandang dan dipuji, kenyataannya teman-temannya mulai menjauhi Laura.


Laura memilih duduk di pojok kantin. Semangkuk bakso dan teh hangat menemani makan siangnya kali ini.


"Sekarang dia tidak punya teman." Bisik suara masuk ke dalam telinga Laura.


"Kehidupan yang benar-benar berubah setelah ayahnya bangkrut."


"Aku penasaran sampai kapan dia bisa bertahan? Sebelumnya dia hanyalah anak yang manja."


Laura berusaha mengabaikan semua kalimat itu. Kenyataannya memang dia tidak bisa melakukan apapun, dia juga tidak mungkin memberontak dan membentak semua teman-temannya.


"Katanya Daffa juga memutuskan hubungan mereka. Mereka tidak berkomunikasi lagi."


"Daffa sudah benar. Laura menghianatinya dengan menikah bersama pria lain. Dia bahkan membohongi kita semua."


Semua yang didengar Laura begitu menyakitkan. Gadis itu berusaha untuk mengabaikannya dengan menyantap bakso di depannya. Berpura-pura tidak pernah mendengar apa yang dia dengar hari ini, adalah cara Laura menghindari perkelahian.


"Kenapa makan sendiri?" Belen tiba-tiba mendatanginya. Tanpa meminta izin dari Laura, gadis itu menarik kursi dan duduk di depannya.


Laura memicingkan mata. Sedikit heran melihat Belen di depannya.


Belen meletakkan nampan berisi semangkuk mie ayam dan es jeruk. "Sekali-kali cobalah makan mie ayam di sini. Rasanya enak."


Laura tidak berbicara sepatah kata pun. Sesekali dia menoleh pada Belen, lalu melirik lalu lalang orang di depannya yang menatap Laura dengan sinis.


Terkadang hukuman terberat adalah sanksi sosial.


"Kenapa menatapku begitu?" Belen memprotes Laura ketika dia mendapat pandangan mata aneh darinya. "Ada yang salah di wajahku?"


Laura menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak mau kalau aku duduk di sini dan makan sama kamu?" tanyanya lagi. "Kalau begitu aku akan ...."


Laura menghentikan Belen yang hendak mengambil makan siangnya dan pergi dari hadapan Laura.

__ADS_1


"Tetap di sini." Laura memerintah pelan. Namun, Belen masih bergeming. "Tolong," pintanya.


Mendengar kata itu, Belen tersenyum tipis. Dia kembali duduk di depan Laura.


"Pak Adam mengajarkan kamu banyak hal rupanya, meskipun pernikahan kalian tidak berjalan lancar," kekeh Belen.


Laura memandang lawan bicaranya itu dengan sayup-sayup. Tatapannya sendu, menyimpan banyak kesedihan.


"Belen," panggil Laura ragu. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Belen menatapnya. "Lain kali jangan duduk di pojokan sendiri seperti ini. Kamu akan jadi sasaran empuk Almira dan gengnya."


"Aku tahu kalau semua orang di sini membenci kamu, tetapi setidaknya jangan mengintimidasi diri sendiri," ucap Belen sedikit ketus.


Belen memandang suasana kantin yang begitu ramai. "Banyak kursi kosong di sana, bisa duduk di sana. Kenapa malah duduk di sini?"


Belen memandang Laura lagi. "Kamu tahu apa yang paling membuat mereka membencimu?" tanyanya. Belen benar-benar mendominasi pembicaraan, sedangkan Laura diam tanpa bahasa.


"Bukan tentang kabar bahwa keluarga kamu bangkrut dan kamu jatuh miskin, tidak ada yang peduli dengan itu, Laura." Belen menandaskan. "Kamu membohongi mereka semua."


Laura menunduk. Dia menyadari kesalahannya.


Belen menghela napas. "Setidaknya keadaannya tidak akan lebih parah dari ini. "


"Aku minta maaf." Laura menunduk lagi. Suaranya begitu pelan, hampir tidak bisa didengar oleh Belen.


Belen mengerutkan dahi. "Minta maaf soal apa?"


"Semuanya." Laura kembali menatap Belen. "Aku membohongimu, aku tidak menghargai kamu, aku bahkan menampar kamu di depan banyak orang waktu itu."


Belen menghela napas. "Benar. Kamu memang seharusnya minta maaf."


Gadis itu mulai menyantap mie ayam yang dia pesan. Mencoba untuk menikmati suasana canggung di antara dirinya dan Laura.


Belen juga tidak tahu, sejak kapan dirinya merasa begitu asing dengan Laura. Padahal sebelumnya mereka seperti perangko dan surat.

__ADS_1


"Belen," panggil Laura lagi. "Ada yang ingin aku bicarakan lagi denganmu."


Belen hanya menganggukkan kepalanya. Namun, dia tidak menghentikan aktivitas makannya. "Katakan saja," gumam Belen di tengah mulutnya yang penuh makanan.


"Soal papa dan mama ...." Laura mulai merasakan ragu.


Belen melirik Laura. "Hm. Papa dan mama kamu? Mereka di mana sekarang? Kamu tinggal sama bibi kamu."


"Mereka pergi ke luar negeri?" Belen mencoba untuk menerka-nerka. Sesekali menyantap kembali mie ayam di depannya. "Mereka mencoba untuk mengembangkan perusahaan lain di luar negeri?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Mereka pergi jauh."


Belen melirik Laura. "Ke mana?"


"Kapan mereka kembali ke Jakarta? Aku ingin menemui mereka." Belen tersenyum.


"Mereka tidak akan pernah kembali, Belen." Laura menyahut. "Papa dan mamaku sudah tidak ada. Mereka meninggal dunia lebih dari satu bulan yang lalu."


Belen memuntahkan kembali makanan dalam mulutnya. Dia terkejut bukan main mendengar pengakuan Laura yang satu ini.


"Ra?" Belen masih di ambang ketidakpercayaan. "Kamu jangan ngawur!"


"Aku tahu mungkin kamu marah sama papa dan mama kamu, tetapi berbicara seperti itu ...." Belen tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Laura memandang dirinya dengan sedih, tatapan itu sudah menjelaskan semuanya.


"Kamu serius?" Belen melirih. Hatinya seakan merasakan kesedihan Laura.


"Aku pernah hamil anak Daffa." Laura mengaku lagi.


Sekarang Belen dibuat diam di tempatnya. Dia terperangah tak percaya. Laura punya kebohongan yang luar biasa hebatnya.


"Itu sebabnya aku menikah dengan Pak Adam," ucap Laura menunduk. "Semua karena tragedi itu."


Belen mendesah kasar. Dia melempar sendok ke dalam mangkuk. "Wah! Kamu benar-benar membohongiku!"


"Maafkan aku, Belen," gumam Laura.

__ADS_1


Belen memicingkan mata. "Aku menyesal mendatangimu tadi."


Next.


__ADS_2