
Menerima bantuan dari Adam? Laura sama keras kepalanya dengan lelaki itu. Semua saran yang diberikan oleh Belen, seakan dianggap angin berlalu oleh Laura. Pada akhirnya Laura mendatangi kantor polisi seorang diri, mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya.
"Nona Laura Mentari?"
Laura berdiri di belakang Daffa. Sosok lelaki yang ingin sekali dia beri bogem mentah siang ini. Laura harus izin tak masuk sekolah demi menyelesaikan permasalahan yang tidak pernah dia lakukan.
"Silakan duduk, Nona Laura."
Laura mengangguk, menarik kursi di depannya dan duduk dengan rapi. Dia menoleh pada Daffa yang enggan menatapnya. Daffa masih punya malu, tentu saja dia menghindari kontak mata dengan Laura.
"Nona Laura, apakah Anda sudah tahu akar permasalahannya?" Dia di depannya menyodorkan secarik kertas kepada Laura.
Laura memang tergolong gadis pandai di sekolah. Namun, informasi yang diberikan padanya melalui kertas itu membingungkan dirinya kali ini. Catatan transaksi luar negeri dengan mata uang asing tertangkap oleh lensa matanya. Laura hanya tahu jika Daffa menggunakan rekening atas nama dirinya, lelaki itu memang tak tahu diri.
"Intinya, rekening atas namamu telah melakukan transaksi narkoba sebanyak 20 kali. Kami hanya ingin tahu, apakah Anda mengakuinya?"
Laura tidak memberi jawaban. Dia hanya menundukkan pandangan mata, merasa bersalah pada kebodohannya sendiri.
"Nona Laura Mentari?" Pria di depannya kembali memastikan Laura mendengarnya, duduk di antara mereka juga tidak terlalu jauh hanya terpisah satu meja yang cukup luas.
Laura menghela napas. Dia terpaksa menganggukkan kepalanya. "Itu memang rekening saya. Atas nama saya."
"Baiklah. Kami akan memprosesnya."
"Namun, saya tidak pernah menggunakan narkoba sedikit pun." Laura berusaha mengelak. Dia mengulurkan tangannya, bertindak bodoh dalam kepanikan. "Bapak bisa melakukan tes urin, darah, atau apapun itu!"
Laura menoleh pada Daffa. "Bajingan ini ... benar-benar memanfaatkan kebaikanku," gerutu Laura sembari menggertakkan giginya. Dia amat marah pada Daffa.
Jika ini bukan kantor polisi, Laura pasti sudah menonjok wajahnya sampai babak belur.
"Tentu saja kami akan melakukan tes urine pada anda, Nona Laura. Meskipun anda masih berstatus sebagai saksi, tetapi tidak menutup kemungkinan Anda akan menjadi tersangka nantinya."
__ADS_1
Laura mengulum ludah. Dia memalingkan wajah. "Seharusnya aku mendengarkan Belen sejak awal."
"Meskipun bukan sebagai tersangka utama dalam transaksi ilegal ini, tetapi jika bukti cukup untuk menaikan status tersangka, Anda adalah kaki tangan pelaku." Polisi memberikan penjelasan singkat pada Laura agar dia mengerti.
Sekali lagi, Laura membisu. Ada banyak caci maki di dalam benaknya. Namun, dia tidak bisa mengeluarkan itu sekarang. Laura harus menjaga sikapnya di kantor polisi.
"Saya tinggal sebentar. Kalian tunggu dulu."
Pria gempal di depan Laura pergi begitu saja. Meninggalkan Laura bersama Daffa yang larut dalam keheningan. Dua minggu tidak bertemu Daffa, Laura mengira lelaki ini benar-benar menghilang ditelan bumi atau merealisasikan keinginannya untuk pergi bekerja di luar kota.
Semesta memberi kejutan yang luar biasa. Laura berakhir di kantor polisi tanpa tahu dosa apa yang telah diperbuat olehnya.
"Daffa," panggil Laura pada akhirnya. "Tidak ada yang ingin kamu katakan sama aku?"
Daffa membisu. Dia hanya menundukkan pandangan mata, menyibukkan diri dalam keheningan dan larut dalam rasa bersalah.
"Benar-benar tidak ada?" Laura mendesak. "Kamu tidak merasa bersalah atas apa yang terjadi?" tanya Laura lagi.
Perlahan-lahan Daffa mulai menatap Laura. Kini, Laura jadi tahu kalau Daffa baru saja terlibat perkelahian yang cukup brutal. Wajahnya babak belur, bukan karena tinju dari Laura.
"Aku minta maaf." Daffa melirih. Kemudian dia kembali memalingkan pandangan. "Aku minta maaf, Ra."
"Hey!" Laura tiba-tiba saja berteriak. Suaranya menggema di ruangan dan mengejutkan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Dasar bajingan!" Laura tidak bisa lagi memendam kemarahannya, tidak peduli jika hukumannya bertambah karena sikap buruknya sekarang. "Kamu benar-benar hanya akan mengatakan itu?"
Sepasang mata Laura mulai merasakan pedih, dia menyimpan air mata penuh kemarahan dan kekecewaan pada lelaki ini.
"Aku membantu kamu banyak hal. Tidak pernah meminta bantuan itu dikembalikan," ucap Laura dengan ketus. Dia menggoncang tubuh Daffa. "Namun, kenapa kamu membalas semua kebaikanku dengan begini?"
Daffa tak mampu berkata apapun. Dia hanya diam, membiarkan Laura memuaskan kemarahan.
__ADS_1
Laura bangkit dari kursinya. Tanpa aba-aba dia menarik kerah baju Daffa dan memaksa lelaki itu bangun dari duduknya.
"Kamu tidak kasian sama aku, Daff?" Laura berteriak. Air matanya jatuh begitu saja. Suasana tegang memaksa beberapa petugas untuk melerai Daffa dan Laura.
Laura tak mau kalah, dia terus menggila. "Kamu tidak kasian sama anak di dalam kandunganku, huh?"
"Nona Laura, tolong tenang dulu!" Petugas berusaha menarik tubuh Laura. "Kita bisa bicara baik-baik. Ini kantor polisi!"
Laura menampar Daffa dengan begitu keras. "Kamu bajingan! Kamu tidak tahu malu! Kamu benar-benar menghancurkan seluruh hidupku!"
Polisi berhasil melerai Daffa dan Laura. Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Laura tidak punya siapa pun untuk diandalkan dalam situasi seperti ini. Dia akan membusuk di penjara dan paling tidak ... Laura akan melahirkan anaknya di dalam dinginnya sel tahanan.
"Bajingan!" Laura meronta-ronta, minta dilepaskan. Kemarahannya belum selesai dia limpahkan. "Lepaskan aku! Biarkan aku membunuhnya!"
Di tengah kepanikan yang meledak di udara, kedatangan Adam menyela kegilaan Laura. "Daffa!"
Mendengar suara Adam menggema di ruangan, seluruh fokus tertuju padanya. Salah satu petugas menghampiri Adam yang berjalan mengarah pada Daffa.
"Apakah Anda wali dari Nona Laura atau Daffa?" tanya petugas itu. Namun, Adam mengabaikannya.
Adam mempercepat langkah kakinya, menuju pada posisi Daffa berdiri. Tanpa basa-basi dia menjejakkan kakinya mengenai dada bidang Daffa. Membuat pemuda itu jatuh ambruk mengenai meja di belakangnya.
"Sudah aku bilang jangan macam-macam dengan Laura!" Adam menarik kerah baju Daffa, tinju beruntun diberikan pada pemuda itu.
Suasananya semakin tak terkendali. Adam menjadi gila dan bringas dalam sekejap mata. Laura hanya diam, memandang kebrutalan Adam yang tak pernah ditunjukkan oleh lelaki itu selama ini.
Bagi Laura, Adam hanya lelaki bodoh yang tak bersalah.
Sekarang Laura tahu, alasan Adam menjadi tersangka hanya karena memukuli temannya di masa lalu. Adam bisa membunuh dengan kemarahannya sekarang.
"Pak tolong hentikan! Anda bisa membunuhnya!"
__ADS_1
Next.