Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
71. Bertemu Mantan Suami


__ADS_3

Brian membawa Laura keluar diskotik kota ketika melihat gadis itu sudah teler. Tidak ada pria baik yang datang ke diskotik malam dan menargetkan gadis cantik berpakaian seksi seperti Laura malam ini. Brian adalah pria itu.


"Laura?" Brian berusaha untuk menyadarkan Laura, memastikan gadis itu tidak bisa melakukan apapun selain menurutinya.


"Kita mampir di hotel depan sana, ya?" Brian menawarkan. "Aku akan pilihkan kamar yang bagus," imbuhnya sembari tersenyum.


Laura hanya manggut-manggut. Dia juga tidak yakin, sebab kesadarannya direnggut alkohol yang dia tenggak habis sebelumnya.


Brian merangkul Laura. Membawanya semakin jauh dari bangun diskotik. "Kita akan bersenang-senang, Laura!"


Brian jadi pria yang paling bahagia hari ini setelah dia mendapatkan mangsa barunya. Brian benar tahu bagaimana cara Jakarta bekerja di malam hari.


"Lepaskan dia." Seseorang menghadang langkah kaki Brian dan Laura. "Kembalikan padaku," ucapnya sembari mengulurkan tangannya. Meminta sesuatu pada Brian.


Brian mengerutkan keningnya. Pandangan matanya meneliti penampilan pria asing di depannya itu. "Kamu siapa?" tanyanya dengan ketus.


"Adam." Adam menjawab singkat. "Kembalikan dia padaku," titah Adam. Adam menatap Laura yang teler di dalam pelukan Brian. Jika saja dia ditinggal di tengah jalan, Laura tidak akan menyadarinya.


Adam bahkan tidak yakin kalau gadis itu masih dengan kewarasannya.


"Kamu siapa?" Brian menyeringai. "Aku pacarnya! Aku berhak membawa dia ke manapun aku suka!"


Brian kembali melangkah, hendak mendorong tubuh Adam agar memberinya celah berjalan. Namun, Adam menahannya.


"Kamu itu siapa!" Brian berteriak kesal. Adam mengacaukan malamnya. "Jangan coba-coba ikut campur! Ini bukan urusan kamu, Pak!"


Adam melirik leher Laura. Ada kalung yang disembunyikan Laura di dalam gaun pendeknya malam ini. Adam mendekati Laura, mengabaikan Brian yang berusaha mendorong tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan, Pak?" Brian memprotes ketika melihat Adam mengambil sesuatu dari balik rambut Laura.


Adam tersenyum manis. "Dia masih memakainya," gumam Adam.


Adam menatap Brian. Dia memamerkan cincin yang masih melingkar di jari manisnya, cocokan dengan liontin kalung milik Laura. "Aku suaminya."

__ADS_1


Brian terdiam sejenak. Melirik Laura yang mulai tak sadarkan diri, tubuh Laura semakin berat terasa disangga olehnya.


"Sekarang lepaskan dia dan kembalikan dia padaku, kamu yang tidak berhak menyentuhnya," timpal Adam. Tatapan Adam semakin tajam, berusaha untuk mengintimidasinya.


Adam menyeringai. "Kamu tidak mau melepaskannya?"


Brian berdecak. "Ternyata kamu gak membual," gumamnya pada Laura. "Kamu benar-benar sudah punya suami," imbuh Brian. "Sayang sekali."


Adam tak sabar. Dia langsung menarik tubuh Laura dari dekapan Brian. Membuat gadis itu merintih kesakitan ketika tidur nyenyaknya diganggu.


"Lain kali jangan bersikap begini," tutur Adam pada Brian. "Jika aku melihat wajahmu sekali lagi, aku benar-benar akan menghancurkannya dalam sekali tonjokan, Nak!"


Brian tertawa. "Kamu mengancamku?"


"Aku sedang memperingatkan dirimu," ucap Adam tegas. "Kamu harus lebih berhati-hati."


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Adam membawa Laura dalam gendongannya. Entah dia harus memulangkan Laura ke mana, dia bahkan tidak tahu di mana Laura tinggal. Adam tak ingat jalan rumah Tante Danira.


"Aku mau ...." Di tengah langkah kaki, Laura bergumam tiba-tiba. "Mau muntah," imbuhnya lagi.


"Aku mau muntah," ulang Laura pelan. Adam sekarang mulai yakin itu bukan hanya sekadar mengigau. Dia sesegera mungkin mencari tempat untuk Laura melepaskan beban di perutnya.


Di sisi trotoar jalan yang sepi, minim cahaya, Adam menurunkan Laura. Gadis itu setengah sadar berlari gontai mencari tempat sampah. Memuntahkan semua isi perutnya malam ini.


Adam menghela napas sembari memandangnya dari kejauhan. "Gadis aneh," gumamnya. "Sok-sok mabuk, tetapi baru begini saja sudah muntah."


Adam mendekati Laura. Menepuk punggung gadis itu untuk membantunya. Sesekali dia menghela napas, meratapi nasib mereka berdua.


Setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya, Laura mengusap bibirnya sembari menoleh. Ditatapnya Adam dalam pandangan sayup-sayup. "Pak Adam?"


Adam diam. Menarik tangannya dari pundak Laura. "Ada apa?" tanyanya heran. "Kenapa menatapku begitu?"


"Ini benar Pak Adam?" Laura tiba-tiba meraih pipi Adam yang dingin. "Benar, ini Pak Adam," gumamnya sembari tersenyum kuda.

__ADS_1


Adam mengerutkan keningnya. "Kamu masih mabuk?" tanyanya. Adam yakin Laura tak sadar apa yang sedang dia lakukan.


Laura mendekatinya. Tanpa kata-kata dia jatuh di pelukan Adam. "Nyamannya," ucap Laura. Dia merasakan kehangatan.


Adam memandang puncak kepala Laura. Aroma alkohol begitu menyengat di lubang hidungnya sekarang ini.


"Laura, kamu harus pulang." Adam berbicara pelan. "Di mana rumah Tante Danira?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau pulang."


"Terus kamu mau tidur di mana?" tanya Adam. "Rumah lama kita?" tanya Adam lagi. "Aku sudah mengosongkan rumahnya. Tidak ada apa-apa di sana."


Adam menarik pundak Laura. Mencoba membuatnya sadar. "Katakan di mana rumah Tante Danira? Aku akan mengantarmu pulang."


Laura tersenyum kuda. Matanya masih terpejam rapat. Dia menggelengkan kepalanya lagi. "Aku gak mau pulang."


Adam mendesah panjang. "Lantas?"


Laura menunjuk bangunan hotel tak mewah di pinggir jalan. Tempat di mana dia akan dibawa oleh Brian tadi. "Ayo bermalam di sana," ujar Laura masih setengah sadar.


Adam diam, tanpa kata-kata. Laura memang gila kalau sedang mabuk.


Laura tiba-tiba merangkul pinggang Adam dan menggodanya. "Tubuhku butuh kehangatan, Adam."


"Adam?" Adam mengerutkan keningnya. "Kamu lancang sekali."


Laura tertawa manja. "Haruskah aku memanggil sayang?" kekehnya. Gadis itu memeluk Adam erat. "Ayo tidur denganku, Honey."


Adam tertawa kecil. "Bolehkah?" gumamnya.


Laura manggut-manggut pasti. "Sangat boleh."


Laura merentangkan tangannya setelah dia melepaskan pelukan itu. "Tubuhku milikmu malam ini, Honey," balasnya lagi. "Kamu bebas melakukan apapun! Semuanya gratis!"

__ADS_1


Next.


__ADS_2