
Senja menggantung langit mendung. Laura pulang, berharap dapat kenyamanan luar biasa. Namun, dia malah disambut dengan kebingungan yang membuatnya membeku di tempatnya.
"Tante?" Laura menatap Danira. Suaminya dan Nia ada di belakang wanita itu. Anehnya, pakaian Laura di keluarkan dari dalam almari. Dia bahkan melihat kopernya di sana.
Laura mendekatinya pelan-pelan. "Tante, ini ada apa?" tanyanya. Dia gugup. "Laura ... mau diusir?" Gadis itu berkaca-kaca. Dia menggelengkan kepalanya, memohon tanpa kata-kata.
Sayangnya, Danira manggut-manggut. Dia menunduk, tak berani menatap Laura. Dia merasa bersalah. Namun, dirinya hanya mengikuti perintah suaminya saja. Nia dan suaminya sudah sepakat kalau Danira harus mengeluarkan Laura dari sini.
"Maafin Tante, Ra," gumam Danira. "Tante harus menyuruh kamu pergi."
Laura gemetar di tempatnya. Dia berusaha meraih tangan Danira. Namun, kekecewaan menghentikan itu.
"Tante dan keluarga sudah sepakat karena tidak bisa menghidupi kamu, Ra." Danira berbicara lembut. Dia berusaha tidak menyakiti hati Laura. Namun, melihat Laura hampir menangis, Danira berarti menyakiti dirinya.
Laura menatap Nia dan pria di sampingnya. Kemudian, kembali pada Danira. "Laura salah apa, Tante?"
"Kita tidak bisa menampung anak manja sepertimu di rumah ini, Laura." Nia menjawab dengan ketus. Dia bersedekap rapi. "Jelas kamu hanya merepotkan saja."
Danira mengulum ludah. "Laura," panggil Danira. "Kamu bisa pulang ke rumah Adam."
Laura menggelengkan kepalanya. "Dia bukan suamiku lagi," jawabnya. "Dia juga akan menikah. Aku tidak bisa pulang ke sana."
"Aku harus tinggal di mana, Tante?" Laura merengek. Dia memohon di depan Danira. "Tolong kasih kesempatan Laura untuk tinggal di sini."
"Laura janji Laura akan lebih rajin!" Laura menggoncangkan tangan Danira. "Laura bahkan akan membayar biaya sewa jika perlu," ucapnya. Air mata Laura tidak bisa ditangani lagi. Dia merengek dan mengisi. "Laura mohon, Tan."
Danira tidak berani memasang Laura. Dia merasa bersalah bukan hanya pada gadis muda itu, tetapi juga pada Desi dan Faishal. Danira gagal melaksanakan tugasnya.
"Mending kamu pergi dari sini," ucap Nia ketus. "Jangan sok drama!" katanya lagi.
Laura menggelengkan kepalanya. "Tante, tolong Laura, please!"
Danira benar-benar bungkam. Dia memang menyayangi Laura, tetapi dia tetap seorang istri dan ibu. Nia dan suaminya lebih utama ketimbang Laura.
"Sayang, lekas selesaikan urusanmu dan masuk ke dalam. Langit mendung." Pria menepuk pundak Danira. Dia mengajak Nia untuk masuk ke dalam rumah bersamanya.
"Jangan berani-berani kembali ke sini lagi," pungkas Nia menutup kalimat. Dia berpaling dan mengikuti papanya masuk ke dalam rumah. Suara pintu dibanting cukup keras, Danira dan Laura sama-sama terkejut.
Danira memandang Laura. Dia berpaling dan mulai mengemasi barang-barang Laura yang berserak di atas tanah. "Kamu harus segera pergi, sebelum hujan."
__ADS_1
"Tante tahu kalau sebentar lagi hujan, kenapa menyuruhku pergi?" tanya Laura. "Aku mau ke mana lagi?" Laura merengek. "Tante, Laura mohon. Kasih Laura kesempatan lagi."
Laura menepuk dadanya. "Laura akan berubah! Laura tidak akan menjadi anak manja."
Laura merengek-rengek. "Laura akan berguna. Laura akan cari uang untuk kalian. Namun, jangan usir Laura."
"Laura!" Desi membentaknya. Cukup membuat Laura diam tanpa kata. "Tolong turuti saja perintah Tante."
"Aku mau ke mana setelah ini?" Laura memprotes. Isak tangis tidak bisa dibendung. "Hanya Tante keluarga Laura di Jakarta. Rumah mama dan papa disita bank dan dijual."
Laura mengusap wajahnya frustasi. "Aku juga tidak bisa kembali ke rumah Pak Adam! Keluarganya juga tidak akan menerima aku."
"Aku tidak tahu ...." Kalimat Laura terhenti ketika Danira tiba-tiba memberikan sebuah kunci yang dia ambil dari saku celananya.
"Apa ini?" tanya Laura sedikit tenang.
Danira tersenyum tipis. "Tante tidak tahu bagaimana keadaan rumah itu sekarang. Mamamu dan Tante dulu tinggal di sana sebelumnya mamamu menikah dengan papamu, begitu juga dengan Tante."
"Mamamu sengaja tidak mau menjualnya, seperti dia sudah merasakan hal ini akan terjadi, Laura," imbuh Danira. Wanita itu memaksa Laura untuk menggenggam kuncingnya. "Datanglah ke sana. Bersihkan rumahnya dan buat kamu nyaman di sana."
Laura menggelengkan kepalanya. "Aku enggak berani tinggal sendiri, Tan."
"Kamu harus belajar mandiri dan menerima keadaan kamu sekarang," ucap Danira lagi. "Semuanya demi kebaikan kamu, Laura."
Laura terpaksa menyerah. Dia juga tidak mungkin memprotes dengan mendatangi Nia dan ayahnya. Semuanya akan sia-sia saja.
"Maafin Tante, Ra." Danira menutup kalimatnya. "Kamu bisa pergi sekarang sebelum hujan. Alamatnya akan Tante kirim lewat pesan."
Laura mengangguk. Wajah sedihnya membuat perpisahan yang berarti. Danira tidak tega melihatnya pergi, tetapi dia juga tidak bisa berbuat apapun.
Laura semakin jauh dalam berjalan. Punggungnya mulai terlihat samar.
Danira mengeluarkan ponsel. Dia mencari nama Adam di dalam kontak panggilannya. Adam sudah lama meninggalkan nomornya, tetapi Danira tidak pernah sekalipun menghubungi pria itu.
Mungkin, sekarang adalah saatnya. Hanya Adam yang bisa membantu Laura.
>>>><<<<
"Mas Adam mau beli kemeja tidak?" Nurwa menawarkan ketika melihat ruko dengan jajaran kemeja yang menurutnya cocok untuk Adam.
__ADS_1
Adam menggelengkan kepalanya. "Katanya sudah selesai belanjanya," ucap Adam. "Kamu belanja banyak hari ini, Nur." Dia tertawa.
Sejak siang, Adam menemani Nurwa berkeliling mal kota. Perempuan ini minta ditemani beli ini dan itu. Sesekali menunjuk perabotan rumah tangga untuk keperluan mereka nanti.
"Sekalian kita di sini," jawab Nurwa. "Mal ini jaraknya jauh dari rumah, ke sini perlu waktu dan tenaga," ucap Nurwa ikut tertawa.
Adam manggut-manggut. "Benar juga. Kita ...." Belum sempat Adam berbicara, suara dering ponselnya menyela.
Adam merogoh masuk ke dalam saku celana, mengeluarkan ponsel. Nomor yang tidak dikenali.
"Siapa, Mas?" tanya Nurwa. "Nomor asing?"
Adam melirik Nurwa. Lalu menjawab panggilan itu. "Halo?" sapanya dengan ramah.
"Adam, ini Tante Danira." Suara Danira mengisyaratkan kecemasan. "Laura ... butuh bantuanmu."
Adam menoleh pada Nurwa. Tentu saja perempuan itu mendengar suara Danira menyebutkan Laura.
"Laura?" Adam mengulang. "Kenapa dia?"
"Suamiku dan putriku mengusir Laura. Sekarang dia harus pergi tanpa tujuan. Aku khawatir dengan dia. Dia anak yang tidak bisa pergi sendirian. Aku takut ... dia dijahati orang."
Adam tiba-tiba merasa khawatir. "Di mana Laura sekarang?" tanyanya. "Aku akan segera menyusul."
Nurwa mendapati kekhawatiran itu.
"Aku akan mengirimkan alamatnya," ucap Danira lagi.
Adam manggut-manggut. Dia menutup teleponnya. Kekhawatiran itu tak bisa disembunyikan. Adam juga tahu seperti apa Laura.
"Nurwa," panggil Adam lirih. "Aku minta maaf, tapi bisakah kamu pulang sendiri?"
Nurwa terdiam. Dia menghentikan langkah kaki. "Mas Adam?"
"Aku tahu ini salah, tetapi Laura membutuhkan aku. Aku harus datang," ujar Adam lagi. "Sekali lagi aku minta maaf padamu."
Adam beranjak. "Aku akan mengganti kesalahan hari ini!" Dia semakin jauh dari pandangan Nurwa. "Hubungi aku jika sudah sampai di rumah, Nur!"
Nurwa menyungging senyum. "Ternyata kamu masih mencintainya, Mas."
__ADS_1
Next.