
Adam duduk di depan meja kerjanya. Dia sibuk dengan beberapa pekerjaan yang menumpuk menjelang akhir tahun pembelajaran di sekolah ini.
Nyatanya, Adam kembali kemari lagi. Sedikit butuh perjuangan untuk meyakinkan orang-orang di sekolah ini bahwa dia tidak akan membuat kesalahan apa pun.
"Nilai ujian kelas tiga sudah keluar."
Pembicaraan itu menghentikan aktivitas Adam. Lelaki itu melirik kelompok guru penilai ujian yang berkumpul di ujung ruangan, mengelilingi sebuah meja berukuran cukup besar.
"Sesuai dugaan, peringkatnya tidak pernah berubah."
Adam tersenyum tipis. Dia melanjutkan aktivitasnya, mencoba menutupi rasa bahagianya. Bahkan tanpa disebut, Adam tahu siapa objek pembicaraan guru-guru di sekolah ini kalau sudah menyangkut tentang nilai dan prestasi.
"Laura Mentari mendapat nilai sempurna."
Benar. Itu adalah dugaan Adam sedari tadi.
Adam menganggukkan kepalanya dan bergumam, "Aku bangga sama kamu, Ra."
"Sayangnya, saya dengar perekonomian keluarga Laura tidak sebaik dulu lagi. Laura Mentari sudah tidak punya orang tua," ucap seorang guru. "Dia mungkin tidak bisa melanjutkan kuliahnya."
Adam terdiam. Gerakan pena yang menggores keras telah berhenti, pandangan matanya tertuju pada satu titik, diam tanpa aksi, tetapi pikirannya mulai mengembara.
"Padahal dengan nilai ini dia bisa masuk kuliah kedokteran di kampus paling bergengsi di luar negeri sekali pun," ujarnya lagi.
"Dia bisa menggunakan beasiswa," ucap yang lainnya.
"Laura Mentari tidak bisa mengambil beasiswa, dia melewatkan ujian itu beberapa minggu yang lalu."
Adam mengerutkan kening. Dia tidak tahu apa pun tentang itu.
"Laura harus menunggu ujian beasiswa berikutnya, tetapi sedikit lama."
Adam menutup bukunya. Dia memutuskan beranjak dari tempatnya. Ketika hendak pergi, seorang guru menegurnya.
"Pak Adam mau ke mana?" tanyanya.
Adam menoleh. Dia tersenyum sederhana. "Saya ada kelas," ucapnya berdusta. "Saya pamit dulu, Bu."
__ADS_1
Adam keluar dari ruang guru. Suasana tak seramai ketika dia mendengar obrolan tentang Laura tadi.
Pikiran Adam menjadi tidak tenang, sebenarnya masa depan Laura telah dipertaruhkan sejak kehamilan gadis itu.
Adam tidak bisa berbuat apa pun. Bodohnya, dia membiarkan semuanya terjadi begitu saja.
"Aku harus bagaimana?" Adam menghela napas panjang. Dia berjalan menyusuri lorong sekolah, hendak mencari tempat untuk merokok, paling tidak.
"Jika Laura benar-benar bisa kuliah di manapun yang dia mau dengan nilainya, bukankah aku terlalu jahat untuk menahannya di tempat ini?" Batin Adam mulai bergejolak.
"Dia bisa pergi ke Malaysia atau Singapura, tergantung di mana keluarganya mau menerima dia."
Di tengah lamunan Adam dan langkah kaki lelaki itu, suara gadis memanggilnya. Ketika Adam menoleh, dia adalah Laura.
Laura mendekati Adam. Senyuman merekah sesekali.
"Pak Adam, ada yang mau aku bicarakan." Laura memandang Adam dengan polos. Gadis itu terlihat begitu bersemangat.
Adam hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya.
"Kita bisa bicara di sini?" Laura celingukan ke sana kemari, memastikan keadaan aman dan kondusif untuk memulai perbincangan yang pribadi.
Laura tersenyum tipis. "Ini soal tawaran pernikahan yang Pak Adam ...."
"Tawaran?" Adam menyahut.
Laura terdiam sejenak, melongo ketika respon Adam tak sesuai harapannya.
"Maksud aku ... ajakan untuk membangun hubungan dengan Pak Adam lagi," balas Laura membenarkan kalimatnya.
Adam terdiam lagi. Dia hanya memandangi Laura yang berusaha menghilangkan gugup di dalam dirinya. Adam mengenal Laura, si super gengsi kalau sudah membahas tentang perasaan. Namun, gadis ini sedang berjuang untuk menyisihkan gengsi itu sekarang ini.
"Aku sudah memikirkannya," ucap Laura lagi.
Sedangkan Adam hanya terdiam sedari tadi, menunggu Laura menyelesaikan kalimatnya.
Laura mengulum ludah, dia was-was tanpa sebab. Padahal Adam tidak akan menolak perasannya. Mereka sama-sama tahu, jika cinta telah bersemi di hati mereka berdua.
__ADS_1
"Aku terima." Laura menutup kalimatnya dengan memalingkan wajahnya. Ternyata tidak semudah yang dia duga.
"Apanya?" tanya Adam lagi.
Laura memandang Adam. "Tawarannya," balas Laura. Dia berusaha menyembunyikan senyum malu-malu di wajahnya. "Tawaran pernikahan juga," gumam Laura dengan lirih.
Laura menunduk, bermain dengan ujung kakinya ketika canggung mengembang di antara mereka.
"Aku tidak bisa menikah denganmu, Laura." Kalimat Adam menjadi bom yang baru saja meledak di hari Laura.
Gadis itu mendongak, ditatapnya Adam dalam diam, sedikit terkejut. Tidak! Laura benar-benar terkejut.
"Pak Adam?"
Adam menghela napas. "Laura, aku tidak bisa menikahimu." Adam mengulang kembali kalimatnya. Kali ini lebih tegas. "Kita tidak bisa menikah."
Hati Laura begitu sakit, sesak rasanya. Hampir saja dia menangis.
"Kenapa ...." Laura gagap, kehilangan kemampuan berbicara.
Adam mendesah panjang. "Apa yang bisa diharapkan dari kita berdua setelah menikah?"
Laura benar-benar terdiam. Adam berubah dalam satu malam. Bahkan, sekarang ini, Adam memandangnya dengan tak suka.
"Laura, pikirkan tentang pernikahan yang rumit." Adam tiba-tiba berusaha bijak, padahal sebelumnya dia tak peduli tentang itu.
"Kita pernah menikah dan kita gagal dengan itu," ucap Adam lagi. "Kita tidak bisa mengulangi kegagalan yang akan ...."
Laura menampar Adam. Cukup keras. Untung saja tidak ada yang melihat mereka saat ini.
"Banjingan," gumam Laura dengan amarah menggebu. Kedua matanya berkaca-kaca, memerah.
Laura tak mau menangis, tetapi hatinya sakit. Dia baru saja terbang ke angkasa, tetapi Adam telah menjatuhkannya begitu saja. Rasanya benar-benar sakit dan sesak yang tidak bisa didefinisikan oleh apa pun juga.
"Katakan saja kalau tidak mau menikah denganku!" Laura berteriak. "Jangan berlindung atas masa lalu!"
Adam tidak sempat menjawab, Laura sudah berpaling dari hadapannya. Gadis itu pergi meninggalkan Adam begitu saja. Adam pun, enggan mengejarnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Laura."
Next.