Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
60. Tragedi Tespack


__ADS_3

"Ada tespack, Mba?" Laura berbisik, takut ada yang mendengarnya.


"Ada. Sebentar ya," jawabnya. Laura mengangguk dan menunggu. Entah ada apa dengan dirinya, tetapi kenangan yang hilang semalam bersama Adam mengganggunya sampai detik ini.


"Ini yang paling bagus dan akurat," ucapnya pada Laura.


"25. 000 ribu, Kak. Ada tambahan lagi?" Apoteker berbicara dengan ramah sembari terus memandang raut wajah Laura yang gelisah.


"Ada tambahannya, Kak?" Apoteker itu mengulangi sebab tak ada jawaban apapun dari Laura.


Laura tersentak dari lamunannya. Gadis itu memandang dengan tatapan kosong. Ribuan kata 'andai' membuat dirinya tak fokus kali ini. Gadis itu baru saja lepas dari kehamilannya atas Daffa, sekarang harus mengandung lagi anak Adam? Laura hampir gila sekarang.


"Enggak," jawab Laura sedanya. Seadanya dia mengambil uang dari saku rok pendeknya.


Namun, tiba-tiba seseorang meletakkan uang di samping Laura. "Aku yang bayar," ucapnya dengan tegas.


Laura menoleh. Dia tersentak ketika mendapati Adam di sisinya. Tersenyum aneh seakan sedang menertawai kebodohannya sore ini.


"Dia istriku," tutur Adam berusaha menjawab kebingungan apoteker di depannya. "Tolong bungkus tespack-nya, ya?"


Laura mematung. Dia tak berani menatap Adam, bahkan melirik pun tidak. Dia yakin kalau dirinya sudah mengendap-endap datang kemari. Bahkan, Laura rela naik bus berlawanan arah untuk mencari apotek paling jauh.


"Terimakasih." Adam tersenyum ringan ketika menerima barang yang dia beli. Lelaki itu menyerahkannya pada Laura.


Laura awalnya enggan menerima, tetapi Adam memaksa. Lelaki itu berpaling dari hadapan Laura setelah memberikan tespack padanya.


"Pak Adam!" Laura mengejarnya keluar dari apotek. Anehnya, Adam tak mau berhenti. Dia berjalan menyusuri trotoar dengan begitu santai. Terpaksa Laura mengikutinya.


"Bagaimana ... Pak Adam bisa datang ke sini?" tanya Laura sedikit ragu. Dia memandang wajah Adam. Tidak ada yang aneh, semuanya normal.


Adam melirik kantung plastik yang ada di dalam genggaman Laura. "Untuk siapa? Kamu?" Adam mengabaikan pertanyaan Laura.


Laura diam lagi. Dia tidak menyiapkan jawaban untuk kejadian semacam ini.


"Kenapa harus tes?" Adam mencecar. "Kamu melakukan kesalahan saat mabuk?"


Laura langsung menggoyang telapak tangan, tidak. Kalau soal mabuk malam itu, Laura ingat betul apa yang dia lakukan. Anehnya, malam kemarin dia tidak ingat sama sekali.

__ADS_1


"Aku nggak melakukan apapun," balas Laura. "Kalau Pak Adam tidak percaya, Pak Adam bisa tanya Agnes."


"Pak Adam juga sudah melaporkan tempat itu ke polisi. Aku tidak pernah berhubungan dengan mereka lagi," gumam Laura. "Aku sudah meninggalkan tempat itu." Laura mendesah kasar. Dia masih kecewa.


Adam mengangguk. Ditatapnya wajah Laura dengan saksama. "Lalu, kenapa membeli itu?"


Laura menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia bingung, bahkan Laura juga tidak menyadari kebodohannya kali ini. Laura hanya mengikuti saran Dinda. Bisa saja kehamilan ada di perutnya sekarang.


"Laura?" Adam memanggilnya lagi. "Kenapa membeli itu?" tanyanya.


Laura memandang Adam. Dia berhenti tiba-tiba. Adam pun begitu. Wajahnya dipenuhi tanda tanya ketika Laura mulai serius memandangnya.


"Apa yang kita lakukan semalam?" tanya Laura. Dia berbicara setegas mungkin, meskipun rasa takut merenggut kenyamanannya sekarang.


Laura belum siap mendengar jawaban Adam.


"Semalam?" Adam mengerutkan kening. Dia memandang Laura tanpa henti. Ketika memorinya kembali, Adam malah tertawa terbahak-bahak.


"Pak Adam!" gerutu Laura di tempatnya. "Apa yang kita lakukan?" tanya Laura lagi, sedikit memaksa.


Adam mengehentikan tawanya. Dia manggut-manggut karena memahami tingkah lucu Laura kali ini. "Jadi, kamu membeli itu karena takut hamil?"


"Kamu takut kita melakukan sesuatu yang buruk kemarin?" Adam menggodanya. "Apa salahnya? Kita suami dan istri sekarang," gumam Adam padanya.


Adam mencubit pipi Laura. "Aku boleh melakukan apapun sama kamu, Ra. Itu sah secara agama," kekehnya.


Laura memukul pundak Adam. "Pak Adam ini sinting!"


"Gimana kalau aku hamil?" tanya Laura. Nada bicaranya dipenuhi protes. "Aku ada ujian sebentar lagi! Aku bahagia ketika anak sialan di dalam perutku ini hilang dan sekarang aku harus hamil lagi anakmu? Tidak sudi!" cecar Laura. Dia berbicara tanpa henti.


"Aku tidak sudi hamil anak Pak Adam!" gerutu Laura lagi. "Aku hanya ...." Laura diam ketika melihat perubahan raut wajah Adam. Sepertinya dia salah berbicara.


"Kenapa tidak sudi?" Adam menyahut dengan raut wajah kecewa. "Kamu takut anaknya jelek?"


Laura tak bisa berkata-kata. Dia menunduk, mengakui kelancangannnya kali ini.


"Bukan gitu," gumam Laura. "Aku hanya ...."

__ADS_1


"Aku orang tampan," sahut Adam tiba-tiba. Laura mendongak menatapnya. "Orang bilang kalau aku punya anak, anaknya pasti tampan sepertiku."


Laura mengedipkan matanya beberapa kali.


"Baru kamu yang takut akan itu." Adam menutup kalimatnya. Dia kembali berjalan kemudian. Laura mengekori. Berusaha berjalan di sampingnya.


"Maafkan aku," ucap Adam tiba-tiba. Laura mendongak menatapnya, sebab Laura hanya setinggi bahu Adam.


Adam menghela napas. "Soal semalam," ucapnya. "Aku menampar kamu terlalu keras." Adam menunduk. "Aku hanya terlalu marah ketika kamu menyingung soal orang tuaku. Aku harap kamu mengerti."


Laura tidak berbicara apapun. Dia hanya mengangguk seadanya. Dia juga bersalah, tetapi Laura terlalu gengsi untuk meminta maaf.


"Aku akan masak makanan yang enak sebagai bentuk minta maaf. Kamu mau?" Adam menoleh. "Kamu mau makan apa?"


Laura tersenyum seadanya. "Apapun. Aku akan makan."


Adam manggut-manggut. "Baiklah. Kita pikirkan sambil berjalan."


>>>><<<<


"Nasi goreng pedas dengan telur." Laura berbicara sembari memutar langkah kaki. Dia berjalan mundur, dengan Adam yang ada di depannya.


Adam manggut-manggut. "Setuju. Kita ...." Adam berhenti ketika melihat sesuatu yang asing di depan rumahnya. Dia langsung menarik tubuh Laura hingga jatuh ke pelukannya.


Laura memberontak. "Pak Adam ini ...." Dia belum selesai berbicara, tetapi Adam meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, menyuruh Laura untuk diam.


"Ada apa?" Laura berbisik.


Adam menunjuk ke arah rumahnya. Laura ikut memandang dan terkejut ketika melihat beberapa temannya berdiri di depan rumah Adam.


"Almira?" Laura mengerutkan kening. "Ngapain dia ke sini?" tanyanya.


Laura memandang Adam. "Pak Adam mengundang mereka semua?" tanya Laura.


Adam menggelengkan kepala tak yakin. "Aku kira mereka cuma bercanda mau belajar bersama di rumahku hari ini."


"What?" Laura terkejut. "Pak Adam ini bodoh sekali!"

__ADS_1


Next.


__ADS_2