Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
6. Malapetaka Laura


__ADS_3

Laura berharap lenyap ke dasar bumi daripada harus menikah dengan Adam. Bagi Laura, penampilan Adam saja sudah jauh dari tipe idamannya. Tak ada sisi menarik dari Adam yang mampu membuat Laura bertahan dalam menatapnya.


Desi melirik Laura yang duduk di ujung sofa, memilih jauh dari Adam. "Laura, kamu bisa memperkenalkan diri kamu pada mereka," bisiknya. Desi berharap penuh kesadaran dari Laura.


"Mama benar ingin melakukan ini di depan papa?" Laura mencari alasan. "Papa terbaring di sana dalam keadaan lemah tak berdaya, bukan ini yang seharusnya kita khawatirkan!"


Desi menggelengkan kepalanya. "Mama mohon pengertian kamu, Ra. Papa bisa mendengar kita."


Laura memalingkan wajah. Semuanya menghampiri dia begitu saja. Badai bertubi dan angin besar seakan mencoba menyeret Laura dalam lubang kematian tak berujung. Laura ingin segera pergi atau paling tidak bisa mengusir Adam dan keluarganya dari sini.


"Jangan memaksanya, Nyonya Desi." Wanita tua itu adalah Wanda, ibu angkat dari Adam.


Wanda merawat Adam sejak dua belas tahun silam, tepat saat kedua orang tua Adam meninggal dalam sebuah tragedi besar yang mengerikan.


Wanda tersenyum pada Laura. "Sepertinya dia masih belum bisa memahami situasinya, Nyonya Desi."


"Laura membutuhkan jeda untuk menyesuaikan diri," imbuh Wanda.


Laura menatap Wanda tanpa jeda. Raut wajahnya mengisyaratkan ketidaksukaannya. Bukan pada Adam saja, tetapi dia tidak nyaman dengan keluarga asing yang tiba-tiba mendatanginya.


"Lebih tepatnya aku tidak mau menikah dengan putramu, Bu." Laura menyahut dengan ketegasan. Dia terus menerus menolaknya. Tidak peduli apa dikata, Laura tetap tak akan melepaskan masa lajang begitu saja.


"Laura!" Desi mengambil alih. "Sopan lah sedikit," tuturnya. "Bu Wanda ini usianya jauh lebih tua dari Mama!"


"Suruh mereka pergi karena aku tidak akan menikah dengan siapa pun!" Laura beranjak dari tempat duduknya.


Sebelum Laura pergi, dia kembali menatap Adam seraya tersenyum kecut. "Mama mau aku menikah dengan pria miskin?" Laura memandang Desi. "Bagaimana hidupku dan sekolahku bisa terjamin olehnya?"


"Laura!" Desi berteriak lantang. "Pantaskah kamu bilang begitu?"


"Emangnya salah kalau aku bilang mereka itu keluarga miskin?" Laura mendebat. Dia memandang Desi penuh kekecewaan. "Mama sudah tidak mau mengurusku dan membuang aku pada mereka?"

__ADS_1


Desi bangkit dari tempat duduknya. "Keluarga Adam berjasa pada papa kamu di masa lalu, Laura! Kita sudah membuat janji di masa lalu."


"Janji untuk menjadikan aku budak mereka?" Laura menyeringai. "Aku tidak mau!"


Laura hampir pergi dari tempatnya, tetapi Adam tiba-tiba berbicara. Diamnya tak membuahkan hasil apapun. "Bukankah seharusnya aku yang menolak, Laura?"


Laura memandang Adam sembari mengerutkan ekor matanya. Senyuman Adam seakan mengisyaratkan sesuatu baginya.


"Kenapa harus begitu?" Laura menyahut. Nada bicaranya lirih, sedikit was-was.


Adam tertawa. Dia merapikan posisi duduknya. "Maaf mengatakan ini, Nyonya Desi ...." Adam memandang Desi alih-alih fokus pada Laura yang menunggunya berbicara.


"Putrimu hamil." Adam memulai serangannya.


Kiamat kecil terjadi di dalam diri Laura. Kedua lututnya gemetar ditambah lidahnya kelu yang tak mampu berbicara apapun. Adam memberi pukulan luar biasa, tanpa Laura duga. Inikah yang disebut pukulan balasan akan jauh lebih menyakitkan?


"A--apa yang kamu katakan, Nak Adam?" Desi terbata-bata. Kepalanya menggeleng samar tak percaya. Sejenak dia melirik Laura yang memalingkan wajah untuk menghindari kontak mata dengannya.


Desi tersenyum kecut. "Laura tidak ...." Dia menghentikan kata-kata, hatinya tak sampai membuat pembelaan untuk putrinya sendiri. Ketidakpercayaan mengerumuni benaknya.


Laura memandang sejenak, sebelum kembali memalingkan wajahnya.


"Laura!" Desi gemetar. Dia bahkan tak sanggup bertanya untuk memastikan. "Jawab Mama dengan jujur ...."


"Apa yang dikatakan Adam barusan itu benar? Kamu hamil?" Desi mendesak sembari menggoncang tubuh Laura. "Kamu hamil?" Dia mengulang lagi. "Jawab Mama, Ra! Katakan juga kalau tidak benar karena papa kamu bisa mendengar kita."


Laura mengulum ludah berat. Sejauh dia berpikir, nyatanya Laura buntu sampai di titik dia berdiri. Hanya tinggal berbohong, menyanggah apa yang dikatakan Adam lalu berteriak seperti biasanya, maka Desi akan membelanya.


Namun, Laura menyerah dan pasrah pada akhirnya. Toh juga, kehamilan ini adalah miliknya. Dia harus mengakui anaknya sendiri.


"Laura ...." Desi menyerah. Tak lagi ada tenaga, dia bersimpuh di depan Laura. Desi hafal benar seperti apa Laura Mentari kalau bersalah. Laura akan memilih diam, tak mau berdebat.

__ADS_1


Desi meneteskan air matanya. Bersimpuh di depan putrinya sembari memegangi lutut Laura. "Bagaimana bisa ...." Dia tak punya tenaga lagi untuk berkata-kata meksipun di dalam kepalanya dihujani ribuan pertanyaan.


"Laura, kenapa kamu melakukan itu?" Desi tersedu-sedu. Isak tangis menggores hati Laura. "Mama benar-benar bodoh!" Desi memukul dadanya sendiri. Berharap sesak keluar lewat isak tangisnya.


Laura memandang wajah papanya. Samar-samar tetesan air mata di ekor mata Faisal turut andil melukai Laura siang ini. Tentu saja, luka terbesar dirasakan Faisal ketika dia tahu bahwa dia kalah pada keadaan dalam mendidik putri semata wayangnya itu.


"Kami pergi dulu, Nyonya Desi." Wanda tiba-tiba berbicara. "Aku turut sedih atas apa yang menimpa putrimu dan suamimu," tandasnya lagi.


Wanda menoleh pada Laura yang tak berani memandang siapa pun. Isak tangis mamanya meraung-raung di dalam ruangan, membuat tubuh Laura gemetar hebat di tempatnya.


"Putrimu menolak kami dengan mengatakan kalau dia tidak percaya Adam akan menjamin hidupnya. Dia merendahkan putraku secara tidak langsung, Nyonya." Wanda mencoba tetap bijak.


Wanda kembali pada Desi. "Putraku juga berhak menolak perjodohan dan janji Pak Faisal dengan mendiang ayah Adam dulu setelah tau keadaan Laura," pungkasnya.


Wanda mengemasi barang-barang, dia bangkit dari tempatnya dan berjalan ke ambang pintu keluar.


Wanda memandang kekacauan yang ada, tragedi menghiasi ruangan. Desi bahkan mengabaikan kepergian dan kekecewaan tamunya, padahal dia tak pernah begitu sebelumnya.


"Selamat siang, Nyonya Desi. Terimakasih atas niat baiknya," ucap Wanda lagi. "Aku dan keluargaku terpaksa mengakhiri hubungan kita sampai di sini."


Wanda menoleh pada Adam yang sedari tadi tak lepas memandang Laura. Gadis itu terlihat lain, seperti patung yang dipahat atas kesedihan yang luar biasa.


"Kamu bisa menghubungi aku jika membutuhkan bantuan, Nyonya Desi. Aku akan membantu," ucap Wanda lagi. Dia benar-benar menutup pembicaraan.


Wanda hendak menarik pintu, tetapi suara lirih Laura menghentikannya.


"Tunggu," gumam Laura. Dia memandang Adam, berpapasan kontak mata dengan Wanda ketika menoleh. "Aku ingin menikah dengan Pak Adam."


Wanda langsung membeku di tempatnya, dia menoleh pada Adam yang juga terdiam tanpa kata-kata.


Laura mendekatinya. Tiba-tiba saja gadis itu memohon dengan bersimpuh di depan Wanda. "Aku akan menikah dengan Pak Adam. Aku menerima perjodohan ini," rengeknya sembari memohon.

__ADS_1


"Tolong aku, Pak Adam," pinta Laura meraih tangan Adam. "Aku mohon."


Next.


__ADS_2