Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
134. Sadar Diri


__ADS_3

"Kandungannya baik-baik saja," ucap dokter wanita pada Adam. Senyumnya begitu ramah, ditambah nada bicaranya yang begitu nyaman didengar. "Hanya saja, ibunya tidak boleh banyak pikiran."


Adam menoleh pada Laura. Laura tidak punya kekuatan untuk kembali menatap Adam sekarang. Tanpa alasan yang jelas, Laura merasa sedikit takut. Padahal tentang kandungannya, tidak ada hal yang perlu dicemaskan. Kehidupannya juga akan baik-baik saja selanjutnya.


"Entah apa yang mengganggu, tetapi saran saya lebih baik diungkapkan." Kalimat itu jelas-jelas untuk Laura secara langsung, bukan Adam.


Adam tiba-tiba meraih tangan Laura. Garis terkejut ketika melihat jari jemari Adam masuk ke sela jari jemarinya. Laura terpaksa menatap wajah Adam, yang sedari tadi memandangnya.


Adam kemudian tersenyum. Seakan menguatkan mental Laura.


"Kemarin dia baru saja ujian akhir sekolah, mungkin pikiran itu masih membebaninya, Dok." Adam begitu luwes mengucapkan kebohongan. "Setelah ini ... saya yakin, istri saya akan lebih tenang lagi."


Mendengar ada mengakui Laura sebagai istri, tentunya membuat sesuatu bergejolak di dalam benak Laura. Entah apa yang harus Laura katakan sekarang, dari tadi dia cukup diam dan mendengarkan.


"Kalau begitu kami pamit dulu, Dok. Terima kasih atas konsultasinya," ucap Adam dengan sopan. Dia tersenyum ramah dan membungkuk ringan.


"Silakan. Tolong kembali setidaknya sebulan sekali, untuk memastikan saja."


Adam memahaminya, senyuman dan anggukan kepala itu sudah menjawab semuanya. Dia mengajak Laura untuk beranjak dari kursinya, tetapi Laura tiba-tiba berbicara.


"Peluang untuk menggugurkannya ...." Kalimat Laura terdengar begitu menyayat hati, padahal Adam sudah berusaha menutupi permasalahan mereka sejak tadi.


Adam berusaha keras membuat kesan baik di antara mereka di hadapan dokter. Dia bahkan mengakui Laura sebagai istrinya dan pernikahan mereka bukan kesalahan atau sebuah kecelakaan. Cinta ada di atas buku nikah.


Adam memberi tanda pada Laura agar gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Laura masih keras kepala.


"Berapa persen peluang untuk bisa menggugurkan kandungan di usia muda?" tanya Laura. Dia mengabaikan Adam dengan begitu mudah. "Padahal kandungannya baik-baik saja."


Dokter itu nampak bingung. Sesekali dia menatap Laura dan Adam. Tentu saja dia tidak mau menyimpulkan semuanya terlalu cepat.


"Ada apa memangnya?" Dokter itu bertanya dengan ramah. "Alasan untuk menggugurkan harus berdasarkan prosedur dan diterima oleh dokter. Kalau memang tidak ada alasan yang kuat untuk melakukannya, ditinjau dari keadaan kandungan yang baik-baik saja, maka ...."


"Mungkin ibunya membenci anaknya?" Laura menyahut kemudian. Dia tersenyum seringai. "Ada membenci laki-laki yang sudah menghamilinya?"


Adam menarik tangan Laura. "Laura, jangan ...."


"Alasan yang bagi ibunya cukup untuk menjadi alasan menggugurkan kandungannya," ucap Laura lagi. Dia manggut-manggut. "Berapa persen hal itu bisa dilakukan?"


Dokter itu mengerjap beberapa kali. Dia mendesah kasar. "Seperti yang harus dibicarakan secara pribadi. Untuk siapa jawaban itu, Nona Laura?"

__ADS_1


"Laura, lebih baik kita pergi sekarang." Adam berbisik. "Aku mah jangan buat permasalahan."


Dokter itu kembali merekahkan senyuman. "Untuk kamu, Nona?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Temanku. Dia hamil di luar nikah."


Adam langsung mengubah raut wajahnya. Tidak tahu respon seperti apa yang pantas diberikan untuk Laura kali ini. Seperti biasa, Laura mengejutkan dirinya lagi.


"Suruh temanmu datang ke sini dan aku akan memberikan konsultasi yang baik padanya." Dokter itu menyodorkan sesuatu pada Laura, semacam brosur. "Aku akan memberi diskon untuk konsultasi pertama, Nona Laura."


Laura menyunggingkan senyum sembari menatap brosur di depannya. "Dia tidak perlu diskon. Dia anaknya orang kaya."


"Kalau begitu datang saja, aku akan memberi perawatan yang terbaik."


Laura manggut-manggut. "Aku akan merekomendasikannya, Dokter."


>>>><<<<


Adam mengajak Laura keluar dari rumah sakit. Langkah kakinya begitu cepat seakan terburu-buru, padahal tidak ada yang mengejar mereka.


Laura hanya bisa melihat amarah dalam diri Adam setelah Laura mengatakan hal seperti itu, tentu saja tidak ada perencanaan sebelumnya.


Laura bisa melihat semuanya dari raut wajah Adam dan caranya menatap dirinya. Ada amarah yang begitu besar, tetapi Adam tidak bisa mengungkapkannya secara gamblang. Mungkin dia takut akan melukai hati Laura.


"Aku salah dengan pertanyaanku?" Laura menanggapi dengan begitu santai. "Wajar kalau aku mau membantu temanku untuk bertanya. Sekalian aku ada di rumah sakit."


Adam mengusap wajahnya frustasi. "Siapa teman kamu itu memangnya?"


Laura tertawa. Tentu saja itu membuat Adam semakin kebingungan. Ada lelucon di sini, tetapi Adam tidak bisa menanggapinya. Hanyalah Laura yang paham apa yang lucu di sini.


"Laura!" Adam sedikit membentak. "Aku serius!"


"Sebenarnya apa yang Pak Adam mau?" Laura akhirnya mau menanggapi. "Pak Adam datang lagi padaku karena tahu kalau aku sedang hamil kan?"


Adam membisu di tempatnya.


"Pak Adam tidak bisa belajar dari pengalaman sebelumnya ternyata!" Laura mulai kesal. Dia menautkan alisnya.


Laura mendesah panjang. "Pernikahan kita yang pertama kali hanya berlandaskan kata tanggung jawab, Pak Adam tahu sendiri apa konsekuensinya, bukan?"

__ADS_1


"Pernikahan itu hanya menyakitkan untuk kita berdua. Jadi, kenapa harus mengulang kesalahan yang kedua kalinya?" Laura ketus. "Pak Adam sudah bebas, aku pun begitu."


"Kita sama-sama tidak punya tanggung jawab lagi atas pernikahan ini. Sudah berakhir!" Laura lebih dekat dari sebelumnya. "Apalagi yang Pak Adam mau?"


"Pernikahan karena tanggung jawab lagi?" Laura menyunggingkan senyum. "Omong kosong!"


Laura beranjak dari tempatnya. Dia pergi meninggalkan Adam dengan amarah yang menggebu-gebu, beginilah kondisinya yang terus berulang. Dia muak!


"Gugurkan anak itu." Adam tiba-tiba berbicara.


Laura yang berjalan belum jauh, kembali berhenti dan menoleh padanya. Adam kembali berjalan mendekatinya. Dia berdiri di depan Laura.


"Gugurkan anak itu, sekarang!" perintah Adam lagi. "Aku akan menjual mobilnya."


Laura mengerutkan kening. "Apa yang ...."


"Jika kamu menganggap kalau aku mau menikahimu karena tanggung jawab anak itu, maka gugurkan dia!" Sekarang giliran Adam yang membentak.


Dia menggebu-gebu. "Setelah kamu menggugurkan anak itu, aku akan menikahimu!"


Laura memicingkan mata.


"Agar kamu percaya kalau aku menikahimu bukan hanya karena tanggung jawab saja!" Adam semakin menggila. "Aku benar-benar mencintaimu, Laura!"


Laura membeku di tempatnya.


"Kamu belum paham juga?" Adam semakin frustasi. Tiba-tiba dia menyeret Laura masuk ke dalam rumah sakit lagi. "Kita temui dokter itu lagi!"


"Pak Adam! Lepaskan aku!" Laura memberontak, berusaha untuk melepaskan diri. "Aku bilang lepaskan aku!"


"Kita bilang sama dokternya kalau kamu mau menggugurkan kandungan itu hari ini!"


"Lepaskan aku!" Laura terus meronta. Orang-orang yang ada di sekitar mereka melihat Adam dan Laura seperti orang aneh, mungkin sebagian dari mereka mengira kalau Adam adalah pria kasar, padahal sebaliknya.


"Kita gugurkan kandungannya!"


Laura menjerit. "Aku tidak mau menggunakannya! Aku mencintai anak ini!"


Next.

__ADS_1


__ADS_2