Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
31. Pagi Yang Cerah, Bukan?


__ADS_3

"Kamu tidak bisa membujuk Laura?" Lelaki itu mendengus kesal. Dia memandangi Daffa penuh kekecewaan. "Kamu itu tolol atau bagaimana?"


Daffa bergeming. Bukan hanya si botak ini yang marah, tetapi juga dirinya. Laura berubah begitu cepat untuk Daffa.


"Aku akan coba bujuk lagi," gumam Daffa. "Aku pasti bisa membujuknya," imbuhnya. Bukan untuk si botak pemarah di sisinya, kalimat itu untuk menyemangati dirinya sendiri.


Lelaki itu mendekati Daffa. Menarik kerah bajunya dan menatapnya dengan tajam. "Dengarkan aku baik-baik, tengil!"


Daffa memejamkan matanya. Jari jemarinya mengepal, siap menonjok wajah lawan bicaranya itu.


"Aku bilang lihat aku!" bentaknya kala Daffa mengabaikan.


Daffa membuka mata. Mendengus di tempatnya, berusaha mengontrol emosi. Jika dia melayangkan tinju, maka dia yang mati dikeroyok di tempat ini. Setengah jam lagi, Daffa harus masuk sekolah.


"Kamu harus bayar hutangmu! Jatuh temponya akhir bulan ini!" ketusnya. "Aku tidak peduli bagaimana kamu membayar semua uang yang kamu pinjam, aku hanya ingin kamu menyiapkan semuanya tepat waktu!"


Daffa bergumul dengan isi kepalanya sendiri. Jika dia bisa menikahi Laura, akan sangat mudah mengambil uang darinya.


"Jika bukan memeras uang Laura, kamu bisa ambil itu dari Almira!" gertaknya lagi. "Dia juga anaknya orang kaya."


Daffa menghela nafas. "Dia bukan pacarku," gumam Daffa mendorong tubuh Arlo, pemuda yang mengganggunya pagi ini.


"Aku akan dapatkan uangnya, kamu tidak perlu ikut campur bagaimana cara aku mendapatkannya," ketus Daffa.


Daffa berpaling dari Arlo, tak mau meladeni lintah darat satu ini.


"Aku dengar rumah Laura dijual." Arlo mampu menyita fokus Daffa lagi.


Daffa berpaling padanya. Dia mengerutkan dahi ketika melihat Arlo begitu yakin. Arlo dikenal sebagai pemilik omong kosong yang tak pernah benar dengan informasinya.


"Ngomong apa tadi kamu?" Daffa mendekatinya. "Ulangi sekali lagi!" bentaknya.

__ADS_1


Arlo malah tertawa cekikikan. Tentu saja dia menertawai Daffa. "Sepertinya Laura memang tidak akan menerimamu kembali, buktinya dia tidak menceritakan permasalahan hidupnya."


Arlo enggan menjawab pertanyaan Daffa. Dia memilih menghinanya. "Jangan berharap Laura mau menerima kamu lagi, Daf. Kamu yang membuangnya."


Daffa mulai emosi. Dia gagal menyembunyikan kekesalan hatinya pagi ini. Pemuda jangkung itu meremas kerah kaos milik Arlo.


"Katakan dari mana kamu tahu kalau rumah mewah Laura dijual?" tanya Daffa dengan ketus. "Jangan coba-coba memprovokasi aku!"


Arlo hampir meludah dengan sikap tengil Daffa kali ini. Untung saja Daffa segera melepaskan cengkraman jari jemarinya dan mendorong Arlo menjauh darinya.


"Tidak ada gunanya bertanya sama kamu!" Daffa menggebu-gebu. "Akan aku periksa sendiri!"


>>>>><<<<


Laura turun dari bus kota, diikuti Adam di belakangnya. Perjalanan pertama kali cukup menguras emosi Laura pagi ini. Sebelumnya dia tidak pernah berdesak-desakan dengan orang lain di dalam kendaraan umum. Laura tidak perlu melakukannya, dia punya sopir pribadi dan mobil mewahnya sendiri.


"Laura?" Adam menarik pergelangan tangan Laura. "Tunggu dulu."


"Perjanjian kita sampai di halte bus, aku akan jalan sendiri." Laura menyahut dengan nada malas, bola matanya berputar ketika Adam bergeming di tempatnya. "Pak Adam akan bersikeras jalan sama aku ke sekolah?"


Laura mengambil kalung dari dalam seragamnya. "Aku menurut untuk pakai kalung ini, Pak Adam belum puas?"


"Untuk yang satu ini ...." Kalimat Laura berhenti ketika Adam memberikan payung lipat untuknya.


Adam memaksa. "Ambil, kenapa malah diam saja? Kita akan sama-sama terlambat kalau kamu begini." Kini giliran Adam yang memprotes.


Laura masih tak mengerti. Di cuaca cerah cenderung panas begini, Adam malah memberinya payung alih-alih minuman dingin untuk melegakan tenggorokannya. Butuh perjuangan ekstra bagi Laura untuk tetap berada di dalam bus kota hampir satu jam lamanya.


"Pak Adam buta?" bisik Laura. Dia menunjuk langit yang cerah di atasnya. "Kenapa aku butuh payung?"


Adam malah tertawa. "Bahkan untuk payung saja, kamu tidak mau medengarkan suamimu," gumamnya.

__ADS_1


Adam menarik pergelangan tangan Laura lagi. Memaksa gadis itu menerima payungnya. "Nanti akan berguna."


"Aku tidak butuh ...."


"Aku duluan." Adam menyela lagi. Dia pergi setelah senyum menyebalkan diberikan untuk Laura. Sayang sekali, Laura tidak menerima itu sebagai bentuk salam perpisahan, melainkan penghinaan.


"Pak Adam!" Laura membentak.


"Pak Adam mau aku bawa benda jelek ini ke dalam kelas?" teriak Laura lantang. "Aku tidak mau!"


Sayangnya, Adam tak menghiraukan. Punggung lebar itu semakin menjauh, membiarkan Laura menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Cih! Sialan!" gerutu Laura. "Aku benar-benar tidak mau membawa payungnya!" Laura merengek sembari memandang payung lipat dalam genggamannya.


Laura menggelengkan kepalanya. "It's not my style!"


Laura hendak mengejar Adam sebisanya, tetapi seseorang memanggilnya. "Laura!"


Laura menoleh. Entah datang dari mana, Daffa berdiri tak jauh darinya. Laura menyipitkan ekor mata ketika pemuda itu mendekatinya.


Bukan tentang penampilan Daffa yang terkesan 'ngawur' untuk ukuran remaja sekolah. Namun, tentang bagaimana dia mendapatkan luka baru di sisi bibirnya itu? Sepertinya seseorang baru saja memukul wajahnya.


"Kamu ...." Laura menunjuk luka Daffa. "Kenapa?"


"Bisa bicara sebentar?" Daffa memandang kepergian Adam. "Dia tidak akan tahu kita bicara berdua saja pagi ini."


Laura hampir menggelengkan kepalanya. Akan tetapi, Daffa menukas lagi. "Ini bukan termasuk perselingkuhan. Kita hanya akan bicara. Itu saja."


Terpaksa Laura menerima ajakan Daffa. "Membolos?" tanya Laura.


Next.

__ADS_1


__ADS_2