
Kemungkinan dipecat di hari pertama dia bekerja? Laura tidak pernah membayangkan mimpi buruk seperti ini. Dia benar-benar menyesali semua yang dia lakukan selama ini.
Laura terlalu banyak membuang-buang waktunya, sekarang dia tidak punya apapun untuk dibanggakan.
Tujuan Laura bukan pulang ke rumah. Akan tetapi ke toko perabotan rumah tangga untuk mengganti piring dan dua gelas yang dia pecahkan.
"Semoga di dalam ada diskon untuk pembeliannya." Laura berandai-andai, sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dia harus menghemat sampai menemukan sumber pendapatan yang tetap. Sekarang dia malah membuat masalah yang harus diselesaikan dengan uang.
Laura mulai memilih piring yang kiranya sama dengan yang sudah dia pecahkan. Dia melewati beberapa rak, hingga langkah kakinya terhenti begitu saja.
Laura menoleh ketika suara tak asing terdengar masuk ke telinganya. Dugaannya benar, Adam bersama Nurwa
"Kita bisa membeli ini untuk diletakkan di ruang tamu nanti, Mas Adam." Nurwa terlihat begitu dekat dengan Adam.
Laura terdiam di tempatnya. Entah mengapa, hatinya terasa begitu sakit. Padahal tidak ada orang yang menyakitinya. Dia hanya melihat pemandangan yang wajar. Adam pantas bersama siapa pun yang dia mau.
"Kamu suka vas bunganya?" Adam menyahut. Senyum melengkung di atas bibirnya. Mereka menikmati hubungan mereka, tetapi tidak untuk Laura yang tidak bisa menikmati hidupnya karena pilihannya sendiri.
"Ternyata mereka benar-benar mau menikah." Laura bergumam di tempatnya. "Bagaimana bisa dia melupakanku secepat itu? Kita baru saja bercerai belum ada satu bulan berlalu."
Laura menghela napas panjang. "Apa yang aku perdebatkan?" Dia menyadari keanehan dalam dirinya lagi. "Masa bodoh dia mau menikah atau tidak."
Laura melanjutkan aktivitasnya. Tujuannya adalah membeli piring dan gelas, setelah itu dia bisa kembali ke ruko dan pulang ke rumah. Berharap besok jauh lebih baik dari hari ini.
>>>><<<<
Satu jam berlalu begitu cepat. Laura keluar dari dalam ruko, disambut gerimis di atas langit.
"Sial!" umpat Laura. "Kenapa tiba-tiba hujan? Padahal tadi mendung saja tidak!" gerutunya.
Laura mulai bingung. "Kalau menunggu di sini, belum tentu hujannya cepat reda." Laura celingukan ke sana kemari. "Aku juga tidak bawa payung."
__ADS_1
Laura berdecak. "Tidak punya pilihan lain, aku harus hujan-hujanan. Mumpung gerimisnya belum terlalu deras."
Gadis itu ikut berlari menerjang hujan siang ini. Tas yang dia bawa, Laura gunakan untuk menutupi kepalanya, meskipun tubuhnya masih dihantam hujan yang semakin deras.
Laura tersandung. Sialnya, dia kembali jatuh. Tali sepatunya diinjak oleh kakinya yang lain.
"Argh!" Dia merintih. Luka di lututnya semakin parah. Ditambah lagi piring dan gelas yang dia beli jatuh dan pecah.
Laura menatap kekacauan ini. "Haruskah begini akhirnya?" Dia mulai putus asa. Lalu lalang orang di sekitarnya memandangnya dengan aneh, karena Laura tidak kunjung berdiri dan berteduh.
Laura membiarkan hujan membasahi dirinya. Menenggelamkan kesedihan dan kekecewaan juga kemarahan yang dia rasakan.
"Sialnya aku," gerutu Laura.
Laura menghela napas. Perlahan-lahan dia berdiri, melawan rasa nyeri di atas lututnya. Laura mendekati pecahan kaca dari piring dan gelas di dalam plastik hitam itu. Kardusnya basah dan tidak ada lagi bentuk piring dan gelas di dalam sana.
Laura memungut belanjanya sembari meneteskan air matanya. Akhirnya, dia menangis juga.
Laura menunduk. Perlahan-lahan, air hujan tidak lagi membawahinya. Sepasang sepatu berdiri tak jauh dari tempatnya ketika Laura menoleh ke belakang.
"Kenapa hujan-hujanan?"
Suara itu ... Laura merindukannya. Ketika dia mendongak, wajah tampan Adam menyambut kesedihannya.
"Bangunlah." Adam memerintahkan dengan lembut. "Malu dilihat orang."
Laura perlahan-lahan berdiri. Namun, pandangan matanya tidak berani menatap Adam, sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Pak Adam ...."
"Aku melihatmu di toko tadi." Adam mengaku. Ia tahu pasti Laura akan bertanya tentang hal itu. "Aku sengaja tidak menyapamu, aku tahu kamu juga tidak akan mau disapa."
__ADS_1
Cara bicara Adam sudah berubah. Dia tidak selembut seperti dulu lagi. Nadanya tegas, tanpa basa-basi.
Laura manggut-manggut. "Pak Adam bisa pergi." Laura hampir berjongkok untuk memungut tas dan barang-barangnya yang jatuh. Namun, Adam mencegahnya.
"Biarkan saja," kayanya. "Piring dan gelasnya juga sudah tidak bis dipakai. Kita beli yang baru."
Laura menatap Adam. "Berhenti ikut campur," jawabnya dengan ketus. "Pak Adam bisa pulang."
Laura keras kepala. Dia memungut belanjanya. Namun, Adam juga keras kepala. Dia tetap memayungi Laura dari belakang.
"Kita ke apotik dulu." Adam menuturkan lagi.
"Tidak perlu. Aku harus pulang."
Adam menghela napas. "Jangan membantuku."
Laura mendesah panjang. Dia mendongak dan menatap Adam. "Kenapa Pak Adam ikut campur? Aku bukan istri Pak Adam lagi! Jadi tidak perlu peduli!"
Adam menyeringai tipis. "Aku datang bukan karena peduli. Aku datang untuk menagih hutangmu."
Laura mengerutkan kening. "Hutang?"
"Uang satu setengah juta yang kamu berikan sama Daffa. Aku menganggap kamu mencurinya, jadi kamu bisa kembalikan itu padaku, sekarang." Adam memandang Laura tanpa jeda. "Atau kita proses di meja hukum, Laura."
Laura tak berkata-kata. Dia hanya tersenyum tak percaya. Adam ternyata pria seperti ini?
Next.
Note : Novel yg seru banget!
__ADS_1