
Mengetahui keadaan Laura sekarang, Adam tak tega meninggalkannya. Laura sudah memperingatkan dirinya untuk pergi dari rumah ini, meninggalkan dia sendiri. Namun, Adam masih punya hati dan belas kasih. Dia juga tidak mau jika terjadi hal buruk pada Laura.
Suara ketukan pintu memecahkan keheningan. Adam tak jadi duduk, memilih segera membuka pintu.
Tamunya adalah dua pria asing bertubuh besar dengan jaket kulit mirip preman pasar.
"Ada yang bisa saya bantu?" Adam meneliti dua pria di depannya, mencoba mengenali barang kali mereka pernah bertemu.
"Aku dengar Pak Faishal dan Nyonya Desi telah meninggal dunia," katanya dengan nada bicara kasar.
Adam manggut-manggut seadanya. Mata elangnya menunjuk karangan bunga yang disisipkan di belakang pohon cemara besar.
"Rumah ini harus segera di kosongkan!" Pria itu langsung pada inti pembicaraan.
Adam jelas tak mengerti. Tidak mungkin jika dia menurut seperti budak.
"Jelaskan dulu ada apa?" Adam berusaha bijak, lemah lembut. "Seperti yang kalian tahu, Pak Faishal dan Nyonya Desi baru saja meninggal dunia. Keadaan masih diselimuti duka, aku harap kalian datang untuk mengucapkan bela sungkawa."
"Mereka ingin menagih hutang," ucap Laura berdiri di belakang Adam.
Adam tersentak, Laura mengejutkan dirinya.
Laura mengabaikan Adam. Dia berdiri di sisi Adam dan memandang dua pria di depannya. "Aku tidak tahu hutang atas apa dan untuk apa." Laura tak acuh. "Namun, aku tidak bisa membayarnya."
"Kita tidak peduli kamu bisa membayar atau tidak!" Preman itu berteriak di depan Laura. "Kami hanya menjalankan perintah bos kami!"
Laura menyeringai tipis. "Kalau begitu datangi makam mama dan tagih di depan batu nisannya."
Alis Adam terangkat ketika Laura berbalik arah begitu saja. Dari raut wajahnya, Laura tak acuh dan tak ingin peduli.
"Kamu harus bayar!" Hampir saja tangan preman itu menarik tubuh Laura. Untungnya, Adam bereaksi tepat waktu.
"Jangan sentuh istriku!" Adam mempertahankan posisinya. "Kamu akan berurusan denganku!"
Mendengar cara Adam yang kikuk dalam membelanya, Laura berani taruhan kalau Adam akan mundur dalam sekali pukul.
"Kamu suaminya?" Salah satu pria di depan Adam menarik kerah bajunya. "Kalau begitu cepat bayar!"
Laura menoleh ketika Adam 'ditangkap' pria itu. Dia menyeringai samar. "Memukulnya sampai mati tidak akan mengembalikan uang kalian," ketus Laura.
Laura kembali melangkah pergi setelah kalimatnya selesai.
Preman itu terpaksa melepaskan Adam dengan kasar. Mereka masih waras, Laura ada benarnya.
"Kami tunggu sampai minggu depan!" ketusnya sembari menunjuk-nunjuk wajah Adam. "Kalau kalian tidak bisa bayar, rumah ini kami sita!"
__ADS_1
Belum sempat Adam menjawab, dua pria asing itu melenggang pergi dari hadapannya.
>>>>><<<<
Adam mengejar Laura yang hendak membuka sebuah pintu di sudut rumah, sepertinya itu adalah gudang.
"Laura, tunggu dulu!" Adam menarik tangannya.
Laura tak berekspresi banyak, hatinya hampa dan pikirannya kosong. Terlalu banyak yang datang hari ini.
"Kamu sudah tahu semuanya?" tanya Adam, dia enggan banyak berbasa-basi. "Tentang hutang papa dan mamamu."
Laura menarik sudut bibirnya, senyuman tak bermakna dia berikan untuk menjawab Adam.
"Kalau sudah tahu kenapa diam saja selama ini?" Adam tak puas dengan diamnya Laura. "Kenapa tidak mencoba mendiskusikan ...."
"Hutannya tidak akan lunas hanya dengan menjual rumah ini!" ketus Laura tiba-tiba. Dia menatap Adam penuh amarah. "Lalu kamu mau aku melakukan apa?"
Adam melepaskan genggaman tangan perlahan-lahan. "Maafkan aku."
"Papa sakit keras dan perlu dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan," kata Laura mulai merunut. "Tanpa aku tahu, keadaan perusahaan sedang kacau."
"Papa tidak akan menceritakan itu padaku, Pak Adam!" Laura mulai kesal dengan dirinya sendiri. "Mama juga begitu."
Laura tak sengaja meneteskan air mata. Hanya dengan begitu, dia berbicara lewat bahasa tubuhnya bahwa semuanya tidak baik-baik saja.
Adam memahami luka Laura.
"Dan akhirnya mama bunuh diri," pungkas Laura seraya menyeka air matanya. Nada bicaranya gemetar hebat.
Adam ingin memeluknya, tetapi Laura pasti menamparnya. Dia gadis sok kuat yang jelas-jelas tak akan kuat menjalani semuanya sendiri.
Laura menghela nafas berat. "Aku tidak akan memperjuangkan apapun lagi, Pak Adam!"
"Aku tidak akan pergi dari rumah ini dan aku tetap diam di sini!" Laura menjenjakkan kakinya jengkel. "Aku akan membiarkan mereka terus datang dan pada akhirnya membunuhku."
Adam menggelengkan kepalanya. "Kita jual rumah ini," ucap Adam tiba-tiba. "Sisanya aku akan memikirkannya."
Laura mengerutkan dahi. "Kamu pikir kamu siapa?"
"Suamimu," jawab Adam tegas, seakan bangga. "Aku tahu kamu tidak akan mengakuinya, Laura."
Adam mendekatinya. "Aku satu-satunya pria yang bisa kamu andalkan bukan?"
Benar, Laura tidak akan pernah mau mengakuinya.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku tidak akan meninggalkan kamu meskipun kamu mengusirku," imbuhnya. Entah ini berkerja atau tidak, Adam ingin menghibur Laura.
Laura mendorong tubuh Adam. "Aku sudah membuatnya," ucap Laura tiba-tiba.
Adam memicingkan mata. "Membuat apa?" tanyanya.
"Saat di Malaysia," jawab Laura penuh penekanan. Keduanya saling memandang, hati Adam was-was luar biasa.
"Aku membuat pengajuan perceraian," sambung Laura dengan tegas.
Adam menggeleng. "Laura, please."
"Kenapa kamu memohon padaku?" Laura mulai muak. "Kamu bisa bebas! Kamu bisa kembali pada Nurwa atau siapa pun itu!"
Adam menundukkan pandangan.
"Kamu hanya tinggal menandatangani semuanya. Tidak perlu bingung, aku yang akan menghadapi diriku sendiri!" ketus Laura kemudian.
Adam menatapnya lagi. "Lalu bagaimana dengan anak kamu?"
"Sudah aku bilang kamu tidak perlu khawatir!" Laura menyahut dengan ketus lagi. "Aku bisa mengurus diriku sendiri!"
Adam tidak bisa menggoyahkan pendirian Laura. Dia keras kepala, egois, dan nekat. Syukurnya, Laura tidak menyusul Desi saat dia meninggalkan Laura tadi.
"Aku tidak akan menahanmu begitu juga sebaliknya!" Laura mengimbuhkan lagi. "Kamu bisa bahagia dengan cara kamu!"
"Laura, aku harap kamu bisa memikirkan keputusan itu." Adam terus membujuk Laura. Dia berpikir kalau dia adalah pihak dewasa, tak seharusnya dia terbawa emosi.
"Aku—"
"Aku tidak peduli denganmu," ucap Adam tiba-tiba. "Mau kamu pergi ke mana pun bersama siapa pun, aku tidak peduli."
Laura membeku di tempatnya. Mata Adam dipenuhi keseriusan, memblokir semua aktivitasnya.
"Setidaknya jika kamu tidak hamil," imbuh Adam menutup kalimatnya. "Aku bertanggung jawab atas kehamilan itu. Itulah janjiku pada mendiang ayahmu."
Laura tersenyum miring. "Aku akan menggugurkannya."
"Kamu ngawur!" Adam menautkan alisnya. "Kamu mau membunuh bayi yang tidak bersalah?"
"Aku akan tetap menceraikan kamu!" teriak Laura dengan lantang. "Aku sudah mantap!"
Adam memandang Laura. Kemarahan yang dikeluarkan gadis itu sampai ke hatinya. Adam menyerah.
"Baiklah. Kita bercerai." Adam menuntaskan perdebatan.
__ADS_1
Next.