
"Kamu berselingkuh." Laura menundukkan kepalanya. Skenario ini yang dia inginkan, selebihnya Laura harus pandai berakting untuk meneruskan perjuangannya.
Adam menghela napas. "Berapa kali aku bilang, aku datang ke sana bukan untuk melakukan itu."
"Aku datang ke sana karena aku mendapatkan pesan aneh yang katanya kamu diculik pria tidak dikenal dan dibawa ke hotel itu," ucap Adam dengan pasti.
Bukan kepada Laura, Adam berusaha meyakinkan kepada wanita di depannya, Danira.
"Tante Danira," panggil Adam lirih. "Saya benar tidak pernah melakukan itu. Saya bahkan tidak tahu bagaimana saya bisa bangun dalam keadaan seperti itu, Saya tidak ...."
Laura kembali meletakkan bukti di atas meja. Ponsel Adam ada di tangan Laura, entah bagaimana ceritanya. Setelah dia sadar dari pingsannya, Adam berjalan tergopoh-gopoh seperti orang yang kehilangan jati diri. Kebingungan melanda dirinya selama beberapa saat, hingga pria itu lupa kalau dirinya kehilangan ponselnya.
"Aku mengambil ini. Aku membuka seluruh isinya," ucap Laura dengan mantap. "Pesan kalian berdua terlalu mesra untuk dikatakan sebagai dua orang asing yang baru saja bertemu."
Adam dibuat tambah bingung dengan pernyataan Laura. "Kamu ini sebenarnya ngomong apa? Aku benar-benar tidak ...."
Kalimatnya berhenti ketika Danira mengambil ponsel itu dan membaca isinya. Dari tadi dia hanya diam, berusaha untuk menengahi sepasang suami istri yang sedang berdebat ini. Laura datang padanya dan merengek tentang perselingkuhan Adam.
"Tante Danira, tolong percaya sama saya." Adam memohon. "Saya bisa membuktikan kalau memang saya tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Saya bisa memanggilnya ke sini dan menyuruhnya untuk berbicara."
Danira menatap Adam. "Ceraikan Laura."
Bukan hanya Adam yang terkejut, tetapi juga Laura. Gadis itu tidak menyangka kalau prosesnya akan secepat ini. Laura mengira akan ada perdebatan ini dan itu, saling membuktikan mana yang benar dan mana yang salah.
"Aku tidak bisa melihat keponakanku satu-satunya disia-siakan begini." Danira meletakkan ponsel Adam dengan kasar di atas meja. "Kamu memanfaatkan kepolosannya."
Laura menatap Danira. Wanita ini memang mirip mamanya, mudah dibohongi.
Adam menggelengkan kepalanya. "Tante ...." Adam menggelengkan kepalanya. "Saya mohon. Berikan saya waktu untuk membuktikan kalau saya tidak pernah berselingkuh."
"Kamu itu pria dewasa, sedangkan Laura hanya remaja polos yang nasibnya tidak tentu begini." Danira semakin tegas. "Aku tidak bisa mempercayakan Laura padamu jika kelakuanmu begini, mendiang kakakku akan sangat sedih dan kecewa padaku."
__ADS_1
Laura menunduk, bukan sebab dia malu atau sedih karena pernikahannya terancam hancur. Gadis itu sedang menyembunyikan senyum di atas bibirnya untuk merayakan kemenangannya yang begitu mudah.
"Tante Danira," rengek Adam. Pria itu berusaha meraih tangan Danira. "Saya yakin saya bisa membuktikannya," imbuhnya dengan mantap. "Saya janji!"
Danira menggelengkan kepalanya. "Laura akan ikut denganku sampai kamu menyelesaikan semua dokumen perceraian itu."
"Kamu bisa menghubungi aku lagi jika sudah siap bertemu di pengadilan," ucap Danira dengan yakin. "Perselingkuhan tidak bisa dimaafkan."
Danira menyungging senyum. "Temanku yang suaminya berselingkuh dan berpura-pura bisa membuktikannya, lalu temanku memaafkannya ... kamu tahu apa yang terjadi dua bulan kemudian?"
Adam memandang Danira dengan sayup. "Tante, aku mohon."
"Suaminya berselingkuh lagi. Sekarang dia menjadi depresi dan gila, Adam." Danira menatap Laura yang menunduk, aktingnya benar luar biasa. "Aku tidak mau keponakan satu-satunya yang menjadi harta warisan peninggalan kakakku bernasib sama seperti temanku."
Danira menghela napas. Dia merangkul Laura perlahan-lahan. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk Laura."
Adam menghela napas. Dia menundukkan pandangan, entah malu atau sedih. Perasaannya bercampur aduk tak karuan sore ini.
Adam tidak menjawab, perlahan-lahan Adam mulai pasrah.
Laura menoleh pada Danira, dia seperti malaikat penyelamat untuk Laura.
"Kamu harus bisa memahami perasaanku sebagai wali Laura sekarang, Adam," ucap Danira lagi. "Aku hanya ingin melindunginya dari pria sepertimu."
"Aku tidak akan menuntut kamu ke pengadilan atas dugaan perselingkuhan. Aku akan membuat perceraian ini begitu tenang dan damai, Dam." Danira memandangnya dengan lekat. "Asalkan kamu mau bekerja sama."
Danira bangun dari tempat duduknya. Dia menatap Laura yang ikut mendongak, menatapnya. "Kamu bisa mengemasi barang-barangmu sekarang, kita pulang ke rumahku, Laura."
"Tante akan tunggu di depan," imbuh Danira. Laura hanya menganggukkan kepalanya. Danira berpaling pergi dari hadapannya.
Laura bergegas setelah Danira keluar dari ruangan. Namun, Adam menghentikannya.
__ADS_1
"Ini ulah Daffa?" tanya Adam. Keduanya saling menatap satu sama lain.
Laura tidak punya keberanian untuk memberi jawaban, tentu saja skenario ini terlalu klasik dan kuno untuk pria pandai seperti Adam Dhanurendra.
"Kenapa diam saja?" Adam mengulangi kalimatnya. "Kamu sengaja melakukan ini sama aku, Ra?"
Laura memalingkan wajahnya. "Pak Adam ngomong apa?" balasnya, sedikit gagap. "Aku tidak mengerti."
"Kamu tahu benar aku tidak akan melakukan itu!" Adam mulai lebih tegas. Dia berdiri dari tempatnya. "Aku tidak mengenal gadis itu dan ponselku ...." Adam menunjuk ponselnya. "Kamu memanipulasinya bukan?"
Laura melirik Adam. "Jangan menuduhku!"
"Aku berbicara fakta, Laura!" sahut Adam. Dia mendekati Laura. "Kamu terlalu termakan bualan manis bajingan itu," ucapnya.
"Jangan menyebut Daffa bajingan." Laura memberanikan diri untuk memandang Adam. "Lihat dirimu sendiri sebelum menyebut orang lain seperti itu, Pak Adam."
Laura menepuk dada bidang Adam. "Jangan sok suci," ujarnya. "Kamu cuma tukang selingkuh yang bersembunyi di balik wajah polos kamu."
"Aku tidak pernah berselingkuh," jawab Adam dengan kokoh. "Kamu memanipulasinya!"
Laura tertawa. "Terserah kamu saja, yang terpenting pernikahan kita selesai sampai hari ini."
Laura menyeringai tipis. "Selamat tinggal, Pak Adam." Dia tertawa kecil kemudian. "Aku berharap kita tidak pernah bertemu lagi."
Laura pergi dari tempatnya.
"Jangan datang padaku jika Daffa meninggalkan kamu!" Adam membalas lagi. Laura menoleh dibuatnya. "Dia pasti akan mencampakkan kamu."
Laura mengerutkan kening. "Kamu peramal?"
"Aku menyumpahi takdirmu, Laura." Adam menutup pembicaraan. "Kamu akan tahu rasa sakit yang aku rasakan hari ini."
__ADS_1
Next.