
"Menikah?" Laura tertawa dengan kalimatnya sendiri. "Dia bukan laki-laki hebat, tetapi kenapa semua ingin menikah dengan dia?"
"Dengan siapa?" Belen tiba-tiba muncul di belakangnya. Laura tersentak mendapati keberadaan Belen.
Belen malah tertawa melihat perubahan raut wajah Laura. "Kamu ini melihat aku datang seperti melihat hantu saja."
Laura tidak bersuara, dia memutuskan diam sembari melanjutkan langkah kakinya.
"Ngomong-ngomong, kamu jalan kaki?" Belen celingukan sana sini. "Di mana sopirmu?"
Entah harus menjawab apa, Laura tidak menyiapkan jawaban untuk mengantisipasi pertanyaan seperti itu.
"Sopirmu libur?" Belen bertanya lagi. Tidak mau menunggu Laura menjawabnya.
Laura tersenyum lebar. Kepalanya mengangguk. Belen menemukan jawabannya sendiri. Sampai detik ini, Laura tidak mampu untuk berkata jujur apa adanya. Banyak yang harus dia ceritakan, semua yang terjadi pada Laura hanyalah tragedi yang tidak ingin dia kenang kembali.
"Oh iya," ucap Belen sembari menepuk punggung Laura. "Kemarin malam aku pergi ke rumahnya Pak Adam." Belen berisik. Tentu saja ini adalah rahasianya.
Laura menoleh. Dia berpura-pura terkejut agar Belen tidak curiga. "Kok bisa?"
"Ceritanya panjang," gumam Belen sembari menggelengkan kepalanya. "Itu tidak penting."
Laura menurut saja, lagian berdebat dengan Belen hanya akan mengancam posisinya.
"Kamu tahu apa yang aku dapatkan sebagai oleh-oleh pulang ke rumah?" Belen berteka-teki. Dia terus menyenggol bahu Laura untuk menggodanya. Namun, Laura hanya menanggapi dengan senyum tipis. Dia tidak tertarik dengan pembicaraan ini.
"Tanya dulu," goda Belen sembari merengek manja.
Laura mendesah kasar. "Apa?" Dia menoleh pada Belen. Memandang apa yang kiranya diberikan Adam kemarin malam.
Setelah mengantarkan Belen, Laura tidak lagi bersua dengan lelaki itu. Dia mengunci dirinya di kamar dan terbangun keesokan harinya.
Belen memamerkan ponselnya. "Nomor HP-nya Pak Adam!" katanya dengan antusias. Belen tersenyum bahagia. "Mimpi apa aku kemarin, Ra?"
__ADS_1
Laura menggelengkan kepalanya. Tak mau menanggapi Belen, dia mempercepat langkah kaki. Bahkan, Laura yang berstatus sebagai istrinya saja tidak punya nomor ponsel Adam.
"Ra!" Belen merengek. "Aku tahu kamu tidak suka dengannya, tetapi setidaknya pura-pura saja ikut bahagia."
"Kenapa harus pura-pura di depanmu?" kekeh Laura. "Kamu tahu aku sampai akar-akarnya."
Belen ikut tertawa. "Benar juga."
Laura hampir membuka mulutnya lagi, tetapi pemandangan di depannya membuat lidahnya kaku seketika. Seharusnya dia tidak perlu merasakan ini lagi, Laura yang menolak Daffa untuk kembali. Namun, melihat Daffa bersama Almira membuat hatinya terluka.
"Orang kaya baru," gumam Belen tiba-tiba.
Laura menoleh. Dia menatap Belen dengan raut wajah heran. "Orang kaya baru?"
"Semua menyebut Almira begitu," sahut Belen tegas. "Katanya bisnis ikan ayahnya meledak besar di pasaran. Omsetnya bertambah besar dan ayahnya sedang membangun perusahaan cabang di beberapa tempat di Jakarta."
Laura diam mendengarkan.
Belen memandang Laura. "Tapi tenang aja, kamu masih primadona di sekolah ini!"
Belen mengacungkan jempol. "Dewi kesempurnaan adalah Laura Mentari!"
>>>>><<<<
"Dewi kesempurnaan adalah Laura Mentari?" Almira mendatangi Laura yang hendak mengambil buku di almari loker miliknya.
Laura menoleh. "Kamu keberatan?" tanyanya. Nada bicara Laura begitu ketus, dia tidak bisa ramah pada Almira.
"Sayang sekali julukan itu sudah hampir tiga tahun menjadi lencanaku sampai saat ini." Laura menyeringai, bangga. Wajahnya menghina Almira.
"Maka aku akan membuat itu tidak genap jadi tiga tahun," sahut Almira sembari tersenyum manis. Dia mendekatkan wajahnya pada Laura. "Aku akan menghancurkan reputasi itu."
Laura mengerutkan dahi. Sepasang mata kacang almond miliknya meneliti perubahan ekspresi Almira. Seperti bukan hanya sekadar ancaman, tetapi peringatan dengan aksi yang akan datang.
__ADS_1
"Kamu mau menghancurkan reputasiku?" Laura tertawa terbahak-bahak. Dia berusaha menyembunyikan ketakutannya.
Almira manggut-manggut. "Aku punya kartu AS kamu." Lengkungan bibir itu penuh keyakinan. "Sekali bicara, reputasi tiga tahun kamu akan langsung hancur."
"Jangan main-main denganku," ketus Laura mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan tinggal diam."
"Sebelum itu, aku ingin tanya sama kamu, Laura." Almira semakin memojokan posisi Laura. Matanya jelas-jelas memblokir seluruh pergerakan Laura di depannya.
"Kenapa rumah mewah kamu harus dijual?" tanya Almira padanya.
Laura terkejut. Dari sekian banyak musuhnya, kenapa harus nenek lampir satu ini menjadi orang pertama yang mengetahui kondisinya?
"Kenapa diam saja?" Almira semakin mendesak. "Papa dan mama kamu juga menjual bisnisnya di Jakarta, mereka menghilang begitu saja."
Laura mulai merasakan panas dingin di tubuhnya. Laura keras kepala untuk mengontrol pendiriannya alih-alih mendorong tubuh Almira dan berlari pergi menjauhinya.
"Orang-orang di luar sana bertanya-tanya di mana keluargamu?" Almira terus mengintimidasi Laura. "Mereka mencari ke sana kemari, seolah-olah keluargamu hilang ditelan bumi."
Almira memandang Laura dari atas sampai bawah. "Tapi aku bertemu putri semata wayang mereka setiap hari," ucapnya sembari tertawa kecil. "Bukankah ini aneh?"
Laura memalingkan wajah. "Bukan urusan kamu."
"Jangan-jangan ... keluargamu bangkrut? Papa mamamu bunuh diri dan kamu menjadi yatim piatu miskin yang tak punya masa depan?"
Laura menatapnya dengan marah. "Jaga mulutmu!"
"Lalu kamu masih bisa memakai barang mewah ini karena kamu menjual diri kamu pada om-om hidung belang setiap malam?" Almira tertawa puas. Kesimpulannya cukup 'cantik' untuk menghina Laura.
"Kamu jadi pelacur seperti yang dikatakan Daffa?" gumam Almira lagi.
Plak! Tamparan diberikan Laura untuk Almira. Kemarahannya menggebu-gebu, Laura tidak bisa menahannya lagi. "Kenapa pelacur berteriak pelacur, huh?"
Next.
__ADS_1