
Laura bukan maling. Akan tetapi, dia harus mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Adam pasti akan mengomeli dirinya. Laura tidak bisa berbohong seperti saat dia mengatakan alasan ini pada papanya. "Aku pulang telat karena di sekolah ada kegiatan ekstrakurikuler. Itu mendadak jadi, aku nggak bisa kabarin Papa."
Adam tahu semuanya. Dia bahkan melihat Laura keluar dari gerbang sekolah sore tadi, tentu saja dengan harapan Laura akan sampai ke rumah lebih cepat darinya.
"Pukul 10 malam." Suara Adam memecahkan keheningan.
Laura tersentak. Dia menjatuhkan sepatu dalam genggamannya. Laura terkejut ketika melihat Adam berdiri di bawah kegelapan tanpa suara.
"Aku tadi ...." Laura tergagap-gagap. "Tadi aku ...."
"Pergi main sama teman-teman kamu?" Adam berusaha menebak. Dia menyalakan lampu dan memandang penampilan Laura.
Seragamnya kusut, seperti habis bangun dari atas ranjang.
"Pergi ke mana?" tanya Adam.
Laura tidak memperhitungkan ini tadi. Dia terlalu hanyut dalam suasana yang menggembirakan di dalam bangunan ilegal itu. Laura percaya hanya dengan menyebut satu nama bangunan, Adam akan langsung membentaknya.
"Belen merindukan aku." Bodohnya kalimat itu yang terlintas di dalam kepalanya. Mulutnya hanya berbicara sesuai dengan perintah otaknya saja.
Laura mengulum ludah. Adam jauh lebih serius dari dugaannya. "Aku tidak melakukan apapun!" gerutu Laura. "Aku tidak membuat masalah."
Adam menyerah. Kepalanya manggut-manggut, mencoba memahami. "Masuk kamar dan istirahat. Aku harus menyelesaikan soal untuk ujian tengah semester."
Adam kembali ke sudut ruangan. Di sana meja kerjanya berada. Tak ada alasan khusus Adam memilih pojok ruangan sebagai tempat kerjanya, dia hanya suka pemandangan kebun di belakan rumah yang dapat dia lihat dari jendela kecil di sana.
Laura tak pergi, dia tertarik dengan pekerjaan Adam.
"Ngomong-ngomong," ucap Laura seraya mendekati Adam dengan hati-hati. "Pak Adam menyiapkan soal untuk kelasku juga kan?"
Adam menoleh pada Laura. Tak ada ekspresi yang berarti, Adam sudah tahu apa maksud Laura bertanya begitu.
"Jujur saja, aku tidak suka pelajaran sejarah." Laura mulai blakblakan. Dia menghela napas ringan. "Jadi ...." Dia sedikit ragu, takut Adam malah membentaknya. "Bolehkah aku menerima bocorannya?"
Adam memberi senyum seringai. "Kamu mau curang?"
Mata Laura melebar. "Huh?" Kalimat Adam memang singkat, tetapi cukup menusuk hati Laura.
"Hari ini kamu pulang terlambat dan aku tahu kamu bohong soal alasan kamu tadi." Adam tiba-tiba membahasnya. "Tidak ada yang menjamin kamu akan sadar meskipun aku memarahimu malam ini. Itu sebabnya aku mengalah."
Laura memanyunkan bibirnya. "Kenapa membahasnya? Pak Adam ingin aku minta maaf?"
__ADS_1
"Kalau iya?" sahut Adam dengan tegas. "Kamu akan minta maaf atas kesalahan kamu?"
Adam memandang Laura heran. "Aku tak yakin kamu anak Pak Faishal dan Bu Desi," ucap Adam tiba-tiba.
"Kenapa bilang begitu?" pekik Laura meninggikan suara. Dia berubah sensitif jika, seseorang membahas tentang kedua orang tuanya.
"Makam papa dan mama masih basah, Pak Adam bisa bilang begitu?" Laura bersungut-sungut. "Pak Adam ini jahat sekali!"
Laura melenggang pergi dari tempatnya. Akan tetapi, suara Adam mencegah langkah kaki Laura yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Jangan berpikir untuk berbuat curang," kata Adam dengan lembut. "Pak Faishal membenci orang yang berbuat curang dalam bisnis atau dalam hidupnya, Laura."
Laura melepaskan genggaman tangannya dari gagang pintu. Sepertinya kalimat Adam baru saja membuat pikiran dan hati Laura menyatu.
Adam menghela napas lagi. "Belajarlah, nanti aku beri acuan materinya."
Adam melanjutkan pekerjaannya. "Aku harus lembur. Kamu bisa istirahat."
Laura menoleh pada Adam lagi. Menatap punggung lebar lelaki itu dengan cermat. Dia parasit, bahkan untuk lelaki yang baru saja dia kenal.
"Pak Adam ternyata dekat dengan papa dan mama?" tanya Laura. Entah bagaimana, tetapi dia tertarik dengan fakta itu. "Sedekat apa?"
"Jelas itu urusanku," rengek Laura. "Aku adalah anaknya."
Adam terpaksa menghentikan aktivitasnya. Dia kembali fokus pada Laura yang masih berdiri di depan ambang pintu kamarnya.
"Papa dan mama punya jasa apa sama Pak Adam?" tanya Laura lagi. "Pak Adam menikahiku juga karena hutang balas budi itu?"
Laura menggelengkan kepala. "Bukan karena benar-benar nyaman denganku, bukan?"
Adam manggut-manggut. "Kamu mengganggu, kamu keras kepala, kamu nakal, kamu egois, kamu sombong, kamu ...."
"Waktunya untuk menghina aku?" Laura memotong Adam. "Aku tidak minta Pak Adam menilaiku. Memangnya Pak Adam ini siapa?"
"Suami kamu," jawab Adam tegas.
"Kamu bahkan tidak mau mendengarkan kata suamimu," imbuh Adam meneruskan kalimatnya yang terputus.
"Jawab dulu pertanyaanku tadi!" gerutu Laura menagih. "Papa dan mama punya jasa apa?"
Adam tersenyum simpul padanya. "Kamu saja tidak mau menjawab pertanyaanku tadi di sekolah."
__ADS_1
Laura mengerutkan dahi, berusaha mengingat kejadian yang dimaksudkan Adam.
"Kenapa kamu menangis?" Adam mengembalikan memori ingatan Laura lagi. "Ini tentang tadi pagi."
"Kita turun dari bus bersama. Jika kamu berjalan lebih lambat pun, kamu tidak akan terlambat selama itu." Adam mulai menaruh curiga. "Ada yang membuatmu menangis?"
Laura memalingkan wajahnya. Helaan napas menandakan kelelahan yang luar biasa.
"Lihat!" seloroh Adam. "Kamu menghindari pertanyaanku lagi!"
Adam meletakkan pena dalam genggamannya. Dia memilih mendekati Laura. "Laura, dengarkan aku."
Baru saja Adam ingin berbicara, suara ketukan pintu menyelanya.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" gumam Adam. "Tidak banyak yang tahu alamat ini," imbuhnya. Adam menatap Laura. "Daffa lagi?"
Laura menggelengkan kepalanya. "Kenapa tidak buka? Aku mau istirahat."
"Pak Adam?" Suara seorang gadis memanggil dari balik pintu yang tertutup. Suara itu menarik perhatian Laura.
Laura tak jadi masuk ke dalam kamarnya setelah mendengar suara yang begitu familiar untuknya memanggil nama Adam beberapa kali.
"Belen?" Laura bergumam di tempatnya. "Itu Belen!"
Laura segera menarik tubuh Adam yang hampir membuka pintu untuk tamunya.
"Jangan dibuka," bisik Laura pelan.
Adam mengerutkan kening. "Kenapa? Ada tamu. Sepertinya itu perempuan. Aku mau lihat dulu. Siapa tahu penting."
Laura menggelengkan kepalanya. "Itu Belen," bisiknya. "Aku kenal suaranya."
"Pak Adam?" Suara Belen terdengar lagi bersama ketukan pintu yang semakin kuat.
Adam tersenyum pada Laura. "Kalau takut bersembunyi saja di kamarmu. Ini rumahku jadi, aku yang memutuskan siapa yang boleh datang dan siapa yang harus pergi."
Laura menggerutu. "Pak Adam!"
"Istirahat saja Nona Laura yang cantik. Biar aku yang urus," kekeh Adam sembari mencubit pipi Laura.
Next.
__ADS_1