Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
53. Mantanku vs Suamiku


__ADS_3

"Aku punya hutang, Ra." Daffa menundukkan pandangan atas pengakuannya itu.


Laura bergeming. Ditatapnya Daffa tanpa suara.


"Maafin aku. Gara-gara aku, kamu jadi begini," ucap Daffa lagi. "Seharusnya aku tidak memberi nama kontakmu dengan sebutan itu dan menjadikannya sebagai panggilan darurat satu."


Laura mengusap punggung Daffa. Senyuman merekah begitu saja. "Jujur aku senang mengetahuinya."


Daffa menatap Laura. "Apa yang membuat kamu senang?" tanyanya. "Wajah kamu jadi babak belur begitu, kamu juga harus dirawat inap."


"Karena kamu tidak berubah," ucap Laura lagi. "Kamu masih sama seperti dulu, meskipun kita pernah menjauh."


Daffa tersenyum simpul. "Menamai kontakmu dengan panggilan istriku?"


Laura tertawa kecil. Di balik sudut bibirnya yang membiru, dia memaksakan senyum yang begitu lebar. Kisah cintanya masih sama seperti anak remaja lainnya.


"Juga menjadikan aku sebagai panggilan darurat satu," tutur Laura lirih.


Daffa mengusap pipi Laura. "Gimana ini?" gumamnya.


Laura mengerutkan kening. "Apanya?"


"Gimana kalau sampai lukanya membekas?" Daffa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan memaafkan bajingan itu!"


Laura mencoba menenangkan Daffa. "Kamu mau melawannya lagi?"


"Tubuhmu jauh lebih kecil dari mereka, lebih baik mengalah," tutur Laura lembut. "Ini juga demi keselamatan kamu, Daffa."


Daffa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan lepas dari mereka sebelum hutangku lunas."


Laura bisa merasakan keresahan yang luar biasa. Daffa tidak seperti biasanya.


"Aku sedang tidak punya uang. Ibu dan ayahku juga belum mengirimi uang." Daffa menatap Laura dengan melas. "Uangnya untuk biaya sekolah adikku. Dia harus membayar SPP."


Laura tidak punya pilihan lain. Dia harus membantu Daffa. "Berapa hutangmu?"


"Laura ...." Daffa berpura-pura sungkan. Dia menggelengkan kepala. "Enggak, Ra. Nanti merepotkan kamu."


"Aku dengar dari Almira kalau ...."

__ADS_1


"Perusahaan papaku baik-baik saja." Laura langsung menyanggah. "Hanya saja Jakarta memang tidak cocok dengan perusahaan papa tahun ini, jadi papa menjualnya."


Entah sejak kapan Laura jadi pandai berbohong begini. Keadaan mengubah Laura menjadi gadis yang lain.


"Berapa hutangmu?" Laura kembali mengulang pertanyaannya.


Daffa perlahan-lahan berbicara. "Kamu yakin?"


"Memangnya kenapa?" Laura manggut-manggut. "Aku sangat yakin untuk membantu kamu."


"Kemarin, kamu membiayai biaya operasinya," ucap Laura lagi. "Biaya perawatan memang Pak Adam yang menanggung. Namun, kamu membiayai uang mukanya."


Laura meraih tangan Daffa dan mulai menggenggamnya. "Jadi aku hanya membalas kebaikan kamu."


Daffa manggut-manggut pada akhirnya. "Satu juta setengah, Ra."


Laura terdiam sejenak. Awalnya dia berpikir hanya beberapa lembar uang ratusan ribu, sesuai dengan biaya yang Daffa keluarkan untuk dirinya. Namun, Laura salah besar.


"Uang sebanyak itu, memangnya kamu gunakan untuk apa?" tanyanya. Laura mengerutkan kening. "Kamu main judi atau semacamnya?"


Daffa meraih tangan Laura. "Kalau kamu keberatan, tidak masalah, Ra. Aku akan mencari cara untuk ...."


"Aku bilang aku akan membantu kamu. Siapa bilang kalau aku keberatan?" Laura memotong kalimat Daffa.


"Sekarang tidak bisa karena aku sedang dirawat inap," ucap Laura lagi. "Dompetku dan beberapa barang-barangku dibawa Pak Adam."


Daffa punya kelegaan tersendiri di dalam hatinya sekarang, sesuai dengan dugaannya. Rencananya berjalan dengan lancar.


"Terimakasih banyak, Ra." Daffa mengusap pipi Laura. "Aku janji aku akan segera mengembalikan uang itu."


Laura menggeleng dengan ringan. "Tidak perlu terburu-buru. Kebahagiaan kamu juga penting."


Adam menatap keduanya dari jauh. Dia tidak sendiri, Wanda datang untuk menjenguk Laura sore ini. Namun, pemandangan aneh dilihat olehnya. Laura memilih bersama lelaki lain.


"Kamu berhak mendatanginya dan memarahinya, Dam." Wanda melirik Adam. "Kamu suaminya."


"Sebagai suami kalau melihat istrinya berduaan seperti itu, kamu boleh marah," imbuh Wanda. "Kamu bahkan boleh menyeret Laura kemari, alih-alih berdiri menatapnya begini."


"Ibu tahu ...." Adam mengalihkan topik pembicaraan. "Laura tidak pernah menyukaiku. Dia terpaksa mempertahankan pernikahan ini karena kehidupannya yang tidak jelas."

__ADS_1


"Lalu?" Wanda mengerutkan keningnya. "Bukan berarti kamu bisa diinjak-injak olehnya."


"Dia bukan lagi anak orang kaya atau putri raja, dia bahkan lebih mengenaskan ketimbang kita." Wanda menegaskan. "Gunakan statusmu sebagai kepala keluarga untuk mengatur istrimu, Dam."


Adam tersenyum. "Biarkan dulu, nanti juga mereka puas." Adam seakan pasrah. Dia tahu percuma saja memarahi Laura dalam keadaan begini.


Tadi, Laura memilih memarahi dirinya ketimbang Daffa. Katanya, Adam tidak boleh semena-mena begitu.


"Lebih baik Ibu masuk ke dalam, udaranya semakin dingin." Adam menuturkan. "Aku mau pulang sebentar untuk ambil barang-barang Laura di rumah, dia harus dirawat inap sampai besok."


Wanda menghela napas. "Kamu tidak berpikir untuk menceraikannya saja?"


Adam mengubah raut wajah. "Ibu yang dulu bilang padaku untuk mempertahankan rumah tanggaku, kenapa sekarang berubah pikiran?"


"Apa alasanmu mempertahankan pernikahan ini sekarang?" tanya Wanda.


Dia kembali menukas. "Aku kasian dengan Laura karena dia sedang mengandung, tetapi tidak ada orang tua di sampingnya."


"Beberapa minggu yang lalu aku melihat Laura sebatang kara," ucap Wanda. Dia menghela napas berat. "Jadi, aku iba dan meminta kamu untuk meneruskan pernikahannya."


"Jujur saja aku berpikir kalau dia mungkin akan berubah suatu saat nanti, seiring dengan berjalannya waktu." Wanda semakin jengkel. "Ternyata tidak."


Wanda tersenyum miris. "Ternyata dia sama saja. Malah dia kehilangan kehamilannya, jujur aku tidak yakin kalau dia kecelakaan."


Adam menundukkan pandangan mata. Dia memahami pemikiran Wanda.


"Jadi lebih baik kamu mengakhiri pernikahanmu, biarkan Laura orang hidup bersama pemuda itu." Wanda menegaskan ulang. "Kamu juga bisa hidup bahagia dengan Nurwa."


Adam menggelengkan kepala. "Aku tidak akan menceraikan Laura, Bu."


"Kenapa?" Wanda mulai kesal. "Apa yang kamu harapkan dari dia?"


"Dia tidak punya harta, kehidupannya juga tidak jelas, susah diatur, keras kepala, dan tidak cocok untuk jadi istrimu." Wanda mulai jengkel. "Dia bahkan tidak menghormati kamu."


Wanda mendekati Adam. "Lalu, apa yang kamu harapkan?"


"Cinta," jawab Adam dengan tegas. "Aku berharap Laura juga mencintaiku."


"Adam?" Wanda mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Seperti aku yang mulai jatuh cinta padanya, Bu." Adam menutup kalimatnya. "Aku mencintai Laura."


Next


__ADS_2