
Pulang ke rumah. Kembali pada rutinitas yang membosankan, tidak ada yang menyambut kedatangan Laura. Suasana rumah begitu sepi, sebelum akhirnya terdengar suara kaca pecah.
Laura langsung berlari ke arah sumber suara. Takutnya, jika itu adalah Tante Danira. Namun, ketika dia berada di depan ambang pintu yang tertutup, suara laki-laki terdengar semakin jelas.
"Om Ardan?" Laura bergeming di tempatnya. "Mereka bertengkar lagi?"
Laura tidak pernah mendengarkan pertengkaran sepasang suami istri sehebat ini. Sejak dia pindah ke rumah Tante Danira, pertengkaran seperti ini adalah makanan sehari-hari.
"Kamu masih mau mempertahankan dia?" Suara Ardan terdengar begitu lantang.
Laura menggelengkan kepalanya. "Seharusnya aku tidak menguping," gumamnya. Dia hendak pergi dari tempatnya.
"Aku sedang membicarakan tentang anaknya Desi!" Ardan menyela lagi.
Laura langsung berhenti ketika nama mamanya disebut. Dia tidak pergi dari depan pintu. Ternyata perdebatan ini tentang dirinya.
"Serahkan dia ke kakakmu yang lain! Desi atau Faishal masih punya saudara yang lain, yang bisa menghidupinya!"
Laura mengerutkan kening.
"Kita jelas-jelas tidak bisa menghidupi anak manja seperti itu! Nia biaya kuliah yang besar! Kita seharusnya fokus pada Nia saja!"
Laura mulai mengepalkan jari jemarinya. Ternyata penderitaannya tidak berhenti sampai di sini. Hari yang benar-benar sial untuknya.
"Laura belum tentu mau membalas kita di masa depan, meskipun kita menghabiskan uang untuk menyekolahkannya!" kata Ardan. "Kita harus membuangnya dari rumah ini!"
"Aku tidak bisa!" Danira menyahut dengan suara gemetar.
Laura tahu jika, Danira sehabis menangis.
"Mbak Desi sudah banyak berjasa sama kita. Kenapa hanya untuk mengurus putrinya saja, kita mengeluh seperti ini?" Danira memohon. "Tolong, Mas! Kali ini saja. Biarkan aku membalas Mbak Desi."
__ADS_1
"Aku mengalami kerugian besar hari ini! Bertambah setiap hari!" Ardan tetap keras kepala. "Nia membutuhkan uang SPP bulan depan, Laura juga!"
"Kamu pikir aku ini mesin penghasil uang?" tanya Ardan ketus. "Aku tidak bisa menghidupi Laura! Dia pergi dari sini. Masih ada kakakmu yang lain yang lebih kaya dari kita. Mereka bisa menghidupi Laura!"
Danira menolak. "Biarkan dia di sini! Aku sudah menyuruh Laura untuk cari kerja paruh waktu."
"Katanya dia sudah menemukan tempat kerja dan hari ini dia mulai bekerja," ucap Danira. "Dia bisa menghidupi dirinya sendiri. Hanya perlu memberinya tempat tinggal dan makan."
"Aku tidak bisa, Dan!" Ardan masih kokoh. "Dia itu anak manja yang tidak bisa melakukan apapun! Kita tidak bisa menginvestasikan uang pada anak seperti itu!"
"Danira!" Ardan semakin kasar. "Kita ini bukan orang kaya! Sekarang keuangan kita sedang pas-pasan, terancam bangkrut."
"Kita harus membuang yang tidak perlu di rumah ini," ucap Ardan melemahkan suara. "Laura adalah yang tidak diperlukan."
Mendengar kalimat itu, Laura meneteskan air matanya. Mendengar perdebatan yang itu-itu saja, mulai membuatnya muak.
Laura beranjak dari tempatnya, sebelum isak tangis membuat posisinya diketahui oleh Danira dan Ardan. Laura berpaling, tetapi ternyata Nia berdiri di belakangnya sejak tadi.
Di belakang rumah, suara Danira dan Ardan sudah tidak terdengar lagi. Sunyi sejenak ada, belum akhirnya Nia berbicara dengan suara ketusnya.
"Aku tidak perlu menyuruhmu untuk pergi karena kamu sudah mendengarkan perdebatan mama dan papa," ucap Nia memicingkan mata. "Kamu sudah tahu bahwa kamu beban di rumah ini?"
Laura menundukkan pandangan. Air matanya menetes mengenai ujung sepatunya yang kotor. Sialnya, itu sepatu paling mahal yang dia punya. Harga berjuta-juta.
"Laura!" Nia menarik pandangan Laura lagi. "Jika kamu masih punya malu, lebih baik kamu pergi dari rumah ini."
"Papa dan mama tidak pernah bertengkar sehebat itu sebelumnya," ucap Nia. "Aku hanya kasihan sama mama."
Nia menghela napas. "Papa punya temperamen yang buruk ketika pikirannya sedang kacau, dia bisa main tangan dan melukai kita semua."
Laura hanya bisa diam mendengarkan.
__ADS_1
"Sebelum ini keluarga kita baik-baik saja, sampai pagi itu kamu mengatakan kalau Adam berselingkuh dari kamu," tandas Nia.
Laura memandangnya.
"Mama dan papa mulai berdebat untuk membawa Kamu tinggal di sini atau menyerahkan pada orang lain," imbuh Nia. Dia terus-menerus membuat Laura sakit hati.
Laura mengulum ludah. "Aku tidak terlalu merepotkan di sini."
"Itu yang kamu pikirkan! Beda dengan kenyataannya!" ketus Danira. "Keluarga kita bukan keluarga kaya, tetapi tiba-tiba anak manja numpang di sini."
Nia mendekatinya. "Laura, tolong jangan hancurkan keluargaku." Nia tiba-tiba memohon. "Kamu membawa petaka di tempat ini."
Laura hanya diam. Hari ini banyak sekali yang melukai hatinya. Laura adalah burung yang terbang bebas setelah puluhan tahun berada dalam sangkar yang indah. Burung itu kini merasakan kejamnya dunia.
Nia mendesah panjang. "Seharusnya kamu tidak bercerai dari suamimu, kamu hanya menuruti egomu saja!"
"Jika kamu bertahan di pernikahan itu, mungkin hidupmu lebih baik dari ini begitu juga dengan kami," seloroh Nia. Senyumnya menyindir posisi Laura. "Kamu terlalu kekanak-kanakan."
Laura menghela napas. Dia mengusap air matanya. "Kamu sudah selesai menghina aku?" Dia memberanikan diri untuk melawan.
Nia mengerutkan keningnya. "Aku hanya berbicara fakta. Kamu itu bodoh dan serakah!"
"Berhenti menghinaku!" Laura kesal. Sejak tadi dia menyimpan emosinya di dalam hati. "Sudah aku bilang, keluargaku berjasa menghidupi kalian di masa lalu! Bukankah sekarang waktunya untuk ...."
Nia menampar Laura. Pipi gadis itu memerah.
"Gadis ******!" umpat Nia. "Tidak punya sopan santun!"
Laura memandang Nia dengan kemarahan. "Aku akan pergi dari neraka ini!" ketusnya. "Aku juga mau tidak mau tinggal bersama orang miskin seperti kalian! Dasar tidak tahu balas budi!"
Next.
__ADS_1