
Beberapa hari kemudian.
Laura memandang toko perlengkapan bayi di depannya. Lalu lalang orang datang dan pergi melalui dirinya begitu saja. Mungkin satu minggu berlalu, entahlah. Laura enggan menghitung.
Sejak resmi bercerai dari Adam, Laura jadi jarang bertemu dengan pria itu lagi. Adam terlanjur memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya, meskipun dia sudah tidak ada hubungan apapun dengan Laura.
"Mau hamil lagi?" Daffa membuyarkan lamunan Laura. Gadis itu menoleh sembari tersenyum aneh. "Kita bisa melakukannya," kekeh Daffa.
Laura tertawa. "Orang sinting."
Daffa menarik tangan Laura, melanjutkan langkah kaki. Keduanya berjalan di sepanjang trotoar, menuju halte bus di ujung sana.
"Ra," panggil Daffa lagi. Laura menoleh padanya. "Aku boleh pinjem uang lagi?"
Hubungan Daffa dan Laura memang kembali. Sepasang remaja dungu yang dimabuk cinta, perpaduan yang serasi. Namun, Laura merasakan banyak perbedaan di antara mereka.
"Kamu baru pinjam uangku tiga hari yang lalu, sekarang mau pinjam lagi?" Laura mengerutkan kening. "Untuk apa lagi kali ini?"
Daffa punya ribuan alasan untuk mengelabuhi Laura. Bodohnya, gadis itu percaya begitu saja dengan mudahnya.
"Adikku harus bayar SPP bulan depan, ibuku belum punya uang." Wajah Daffa memelas lagi. "Jadi, aku minta tolong sama kamu."
Laura diam sejenak. Cukup lama dia berpikir, tetapi Laura tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Mereka baru kembali satu minggu, tetapi Laura merasa banyak dirugikan kali ini.
"Kamu tidak bisa membantuku?" tanya Daffa dengan lirih. Matanya meneliti wajah Laura.
Daffa manggut-manggut. "Tidak masalah kalau tidak bisa, aku akan cari bantuan yang lain. Aku bisa paham kalau kamu ...."
"Berapa?" Laura menyahut lagi. Bodohnya dia, menolak permintaan Daffa adalah hal yang sulit untuknya. "Aku akan coba untuk bantu kalau memang aku bisa membantu." Laura memaksakan senyum di atas bibirnya.
Daffa perlahan-lahan tersenyum sumringah. Kepalanya mengangguk dengan yakin. "Kamu beneran bisa membantu aku?"
__ADS_1
Laura mengangguk lagi. "Akan aku usahakan."
Daffa tiba-tiba memeluk Laura. "Makasih ya, Ra," ucapnya. Pemuda itu kembali menukas. "Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu harus minta bantuan sama siapa lagi."
Laura membalas pelukan itu. Dia mencoba untuk tersenyum, meskipun kepalanya dipenuhi pertanyaan aneh. Laura berusaha untuk menyingkirkan hal itu.
>>>><<<<
Kediaman Adam.
Pintu diketuk. Tamu yang datang menyita perhatian Adam. Pria itu lantas beranjak dari tempatnya, membukakan pintu untuk siapa yang datang.
"Nurwa?" Adam tersenyum simpul melihat wajah cantik Nurwa sore ini. "Ngapain sore-sore datang ke sini?"
Nurwa tersenyum manis. "Kata Bu Wanda, Mas Adam akan mengosongkan rumah ini lagi. Mas Adam mau kembali ke rumah Bu Wanda."
Satu minggu cukup untuk Adam berpikir hal demikian. Dia akan sangat kesepian tinggal di rumah ini sendirian. Rinjani juga butuh seorang kakak untuk melindunginya.
"Boleh aku bantu bersih-bersih?" Nurwa menawarkan. "Sepertinya Mas Adam tidak akan bisa melakukannya sendiri."
Tanpa bantahan, Adam mempersilahkan Nurwa masuk.
"Masuklah. Aku juga baru mulai bersih-bersih," ucap Adam lagi. Pandangan matanya tertuju pada tumpukan kardus dengan barang-barang yang sudah dijadikan satu. Khas seperti orang yang memang mau pindahan.
Nurwa mulai membantu seadanya. Merapikan dan menata ini itu, berharap jasanya bisa meringankan beban Adam.
"Mas Adam tidak akan melamar kerja lagi?" tanya Nurwa. Dia akan bosan jika keheningan terus membentang di antara mereka. "Mumpung belum lama menganggur, Mas Adam bisa kerja lagi."
Adam tersenyum tipis. "Sementara ini aku melamar di bimbingan belajar swasta. Semacam sekolah pribadi."
"Kenapa tidak melamar ke sekolah lagi?" tanya Nurwa. Dia menoleh pada Adam. "Aku punya kenalan yang juga bekerja di sekolah SMP, kalau Mas Adam mau ... aku bisa kenalkan."
__ADS_1
"Makasih, Nur." Adam menjawab seadanya. "Kalau keadaannya sudah baik-baik saja, aku akan pertimbangkan."
Nurwa menghentikan aktivitasnya. "Bukankah memang sudah baik-baik saja?"
Adam diam. Keduanya saling pandang. Nurwa mengisyaratkan sesuatu lewat pandangan matanya.
"Perceraian Mas Adam dengan Laura juga sudah berlalu. Gadis itu seperti melupakan Mas Adam begitu saja," tutur Nurwa. "Dia tidak pernah menghubungi Mas Adam semenjak pertemuan terakhir kalian di pengadilan."
Adam malah tertawa. Pria itu melanjutkan aktivitasnya. "Memangnya dia harus menghubungiku?" tanya Adam, tanpa mau menoleh pada Nurwa. "Aku rasa tidak perlu."
"Jika dia hidup lebih baik, aku tidak akan menyesal menceraikannya." Adam menambahkan. "Aku akan menyesal jika mempertahankan pernikahan kita, tetapi malah menyakitinya."
Nurwa memandang Adam tanpa jeda. Dia bahkan bisa merasakan ketulusan dari cara Adam berbicara, menceritakan tentang Laura.
"Aku tidak ingin mengikat Laura, Nur. Dia masih muda, perjalanannya masih panjang." Adam bergumam lagi. Seakan mengajarkan tentang kehidupan pada Nurwa.
Nurwa manggut-manggut. "Aku paham."
Adam menoleh padanya. "Kamu sendiri, kenapa tidak mencoba untuk mencari laki-laki yang pas dengan hatimu?"
"Abah mungkin tidak lama lagi di dunia, kamu harus berusaha untuk meyakinkannya bahwa kamu bisa ditinggal pergi olehnya." Adam berpengalaman tentang itu. "Itu yang aku lakukan pada mendiang orang tuaku ketika mereka sekarat."
Nurwa merekahkan senyum. "Aku sudah menemukannya."
"Benarkah?" tanya Adam antusias. "Kapan-kapan bawa kemari dan kenalkan padaku, Nur."
"Orangnya ada di depanku," jawab Nurwa lagi. "Mas Adam orangnya."
Adam terdiam. Raut wajahnya berubah begitu saja.
"Abah masih menunggu Mas Adam untuk datang sebagai anak, Mas." Nurwa berbicara dengan lembut. "Tolong pertimbangkan itu mulai sekarang."
__ADS_1
Next.