
Berubah menjadi baik bukan hal yang mudah. Kebiasaan lama akan tetap mengikuti, kemana pun Laura pergi.
Nyatanya dia hanya libur sejenak dari kehidupan aslinya, satu bisikan saja membuatnya kembali lagi.
"Laura!" Seseorang berteriak di sampingnya. Aroma alkohol menyeruak di dalam hidungnya. "Ada yang mau kenalan!"
Laura tak jadi menyeruput wine di dalam gelas, dia menoleh pada Agnes. "Bisa nggak, nggak usah teriak-teriak?"
Dentuman musik menjadi alasannya. Agnes hanya takut Laura tidak mendengar kata-katanya, meskipun dia berada di sampingnya. Hal yang wajar ketika Agnes harus mengulang dua sampai tiga kali kalimatnya.
"Namanya Bima," ucap Agnes lagi. Dia membawa pandangan mata Laura menuju pada pemuda di pojok sofa. "Arah jam tiga," imbuhnya.
Laura melirik Agnes.
"Orang tuanya kaya. Pemilik restoran Jepang." Agnes menyingkat. "Dia mahasiswa semester empat," imbuhnya lagi. Sekarang Angnes berbisik. "Coba tebak, jurusan apa?"
Laura diam. Menebaknya tidak akan membuahkan hasil apapun.
"Kedokteran!" Agnes tertawa puas. "Dekati dia dan kamu akan jadi pacarnya pak dokter!" kekeh Agnes puas.
Laura mendorong tubuh Agnes. "Kenapa nggak kamu aja? Kamu butuh pacar juga."
"Sayang sekali, dia maunya sama kamu." Agnes manyun. "Sejak tadi dia melihat ke arah kamu, meskipun aku menggodanya."
Laura terdiam. Dia hanya memandang perawakan pemuda itu. Memang, bahkan dari kegelapan ruangan diskotik, Laura bisa meyakini ketampanannya.
"Temui dia!" perintah Agnes. "Dia nungguin kamu."
Laura tersenyum miring. Dia menganggukkan kepalanya. "Kita lihat, apakah aku masih ahlinya merayu," kekehnya.
>>>><<<<
"Laura izin tidak mau kerja hari ini?" Adam sedikit terkejut dengan keputusan Laura hari ini. Terakhir kali mereka bertemu, Laura baik-baik saja.
Pemilik restoran menganggukkan kepala. "Katanya dia tidak enak badan. Pulang sekolah langsung pamit dan pergi."
Adam menghela napas. "Terimakasih, Bu."
Tentu saja, dia bergegas menemui Laura. Sepanjang perjalanan, Adam berharap Laura baik-baik saja. Dia akan lega jika mendapati gadis itu berbohong karena malas bekerja malam ini. Laura sering melakukan itu dulu.
Satu jam berlalu, jalanan macet Jakarta sedikit menghambat Adam. Dia harus ekstra cepat untuk bisa sampai datang ke rumah Laura.
Anehnya, rumah Laura gelap. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.
"Laura tidak di rumah?" gumam Adam setelah turun dari taksi. Dia mendesah panjang. "Ke mana dia?"
__ADS_1
>>>><<<<
"Namaku Laura Mentari," ucap Laura sembari mengulurkan tangannya. "Namamu Bima 'ka?" Laura tersenyum manis. "Salam kenal."
"Laura Mentari?" Bima mengulang sembari manggut-manggut. Pemuda itu menepuk sisi sofa di sampingnya. "Duduklah di sampingku, suaramu tidak terdengar." Tentu saja itu hanya alasan.
Laura mendekatinya, meksipun tahu kalau itu hanya alasan.
"Kamu aku pesankan wine?" tanya Bima.
Laura tersenyum sembari manggut-manggut. "Yang paling mahal?" tanyanya. Dia menunjuk salah satu wine yang ada di samping mereka.
Dulu, saat semuanya baik-baik saja, Laura mampu membeli itu dengan uang jajannya. Sekarang? Dia hanya mampu memberikan anggur merah murahan untuk tenggorokannya.
"Tentu saja. Kamu boleh pesan apapun yang kamu mau," jawab Bima. Dia merangkul Laura. "Bayarannya hanya satu ...."
"Ada bayarannya?" Laura berpura-pura sedih. "Ah, aku tidak bawa uang banyak hari ini."
"Nomor ponselmu," kekeh Bima di samping leher jenjang Laura.
Laura menarik ponsel dari saku kemeja Bima. "Setuju!"
"Wah! Kamu sudah paham bagaimana bermain di tempat ini, Nona Laura," kekeh Bima lagi. "Itu menarik."
Laura melirik Bima. "Aku pelanggan tetap," celetuknya. "Ini diskotik milik temanku."
"Teman dekat!" Laura mengembalikan ponsel Bima. "Hubungi aku minggu ini, aku sangat longgar," imbuh Laura. Dia bangun dari tempat duduknya. "Sekarang aku sedang sibuk," ucapnya lagi. Dia harus jual mahal bukan?
Bima menarik tangan Laura. "Bagaimana dengan makan malam lalu pulang?" tanyanya. "Aku tahu kamu suka daging mahal."
Laura tersenyum sumringah. Dia bahkan lupa kapan dirinya makan daging mahal dari restoran mewah. "Setuju!"
>>>><<<<
Pukul 00:13 WIB.
"Kamu tinggal sendiri?" Bima berbisik-bisik di telinga Laura. Dia sukses membuat Laura teler malam ini. Ternyata cukup mudah merayu gadis ini hanya dengan segelas wine berkualitas super.
Laura manggut-manggut. Dia berusaha turun dari mobil Bima. "Orang tuaku sudah meninggal," katanya setengah sadar.
Bima mengerutkan keningnya. "Kamu yatim piatu?"
Laura hanya manggut-manggut. Dia hendak pergi, matanya sayup-sayup memandang raut wajah Bima yang berubah. Tentu saja, pasangan pria kaya adalah wanita kaya juga. Begitulah metropolitan bekerja.
"Aku turun dulu," gumam Laura. Sekuat tenaga dia mendorong pintu mobil sport itu.
__ADS_1
Bima mendesah ringan. "Sayang sekali," gumamnya. Dia melihat Laura berjalan sempoyongan menuju gerbang rumahnya.
Bima tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Di luar Laura mungkin saja adalah gadis miskin, tubuhnya tetap menggoda.
"Laura!" panggil Bima kemudian. Dia ikut keluar dari mobil. "Aku antar masuk ke rumah," ucapnya.
Laura tersenyum tipis. Dia merentangkan tangan, meminta Bima membopongnya.
Bagus! Kesempatan semakin besar!
Bima menuntun tubuh Laura. Dia masuk ke dalam rumahnya. Menyalakan lampu ruangan.
"Kita sudah ada di dalam, Ra," bisik Bima. Laura semakin teler. "Di mana kamar kamu? Aku bantu tidur di atas ranjang," ucapnya.
"Di ...."
"Di sini." Seseorang menjawab dari belakang mereka. Adam berdiri menyambut kedatangan Laura dan Bima.
Laura mengerutkan kening. "Oh? Dia?" Dia masih separuh sadar. Entahlah, samar-samar sosok Adam berjalan mendekatinya.
"Bapak siapa?" tanya Bima. Dia melirik Laura yang tertawa seperti orang gila. "Laura bilang orang tuanya sudah ...."
"Aku terlihat begitu tua?" Adam berbasa-basi. Dia mengetuk kepala Bima dengan gulungan kertas di tangannya. "Aku suaminya," ucap Adam tiba-tiba.
Bima membelalakkan matanya. "Tidak mungkin!"
"Laura tidak mungkin--" Kalimatnya diputus dengan aksi Adam yang memamerkan cincin nikah menjadi liontin kalung untuknya. "Bisa cari milik Laura di kamarnya," ucap Adam sembari menunjuk kamar Laura.
Adam tersenyum puas. "Kalau kamu tidak percaya."
"Oh! Cincinnya!" Laura menunjuk sembari tertawa. Dia mengeluarkan cincin dari balik gaunnya. Laura masih memakai kalung itu. "Aku juga punya! Ini bagus sekali!"
Bima langsung mendesah panjang. Dia mendorong tubuh Laura. Untung saja Adam menerimanya dengan baik. Kalau tidak, Laura terantuk meja di sampingnya.
"Jangan kasar pada istriku!" Adam menggerutu. "Aku laporkan kamu!"
"Ck, dasar penipu!" Bima menggerutu. Lantas dia pergi dari tempatnya.
Adam menghela napas. Dugaannya benar. Tak salah dia menunggu Laura pulang sampai larut malam.
"Sudah aku duga, kamu pasti ke bar atau semacamnya," gumam Adam. Dia membopong tubuh Laura masuk ke dalam kamar. "Kapan kamu mau berubah?"
"Sekarang aku jadi merasa bersalah sudah menyetujui perceraian kita," ucap Adam lagi.
Pintu kamar ditutup setelah Adam dan Laura masuk ke dalam.
__ADS_1
Next.