
Keesokan harinya.
"Ah, kakiku," gerutu Laura pelan sembari memukul-mukul lutut kakinya. "Aku pikir kalau lebih lama lagi, kakiku yang cantik bisa patah!"
Adam melirik tingkah menggemaskan Laura. Sebenarnya ini bukan kali pertama Laura menggerutu sehabis turun dari bus kota. Dia melakukannya sepanjang pagi, kemarin dan hari ini.
"Mau aku pijitin?" kekeh Adam dari samping Laura.
Gadis itu menoleh. "Dasar cabul!" pekik Laura.
Adam hanya tertawa melihat wajah kesal Laura pagi ini.
"Lagian kenapa menyuruh aku berdiri?" Laura kembali menggerutu. "Aku berlari masuk ke dalam bus dan susah payah untuk mencari tempat duduk, tetapi Pak Adam malah menyuruhku berdiri ketika kakek itu datang!"
Adam hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Harusnya kamu lebih mementingkan istrimu." Laura menggeram pelan. "Kamu benar-benar tidak punya perasaan sama aku! Padahal aku sedang hamil." Suara Laura habis di akhir kalimat. Gadis itu memalingkan pandangan, ketika menyadari Adam terus memperhatikannya.
"Dia orang tua," jawab Adam pada akhirnya. "Kakinya saja tidak kuat untuk berjalan, gimana bisa berdiri dalam waktu yang lama?"
Laura memandang Adam. "Kenapa kamu memusingkannya?" tanyanya. "Dia laki-laki, dia baik-baik saja, sedangkan aku?" Laura menunjuk dirinya sendiri. "Aku perempuan dan aku sedang hamil."
"Laura ...."
"Ladies first!" sahut Laura tak mengizinkan Adam bicara.
Ada menyimpan sabarnya rapat-rapat, dia harus menghadapi gadis seperti Laura setiap hari. Kegoisannya bercampur dengan keras kepala yang luar biasa. Sulit untuk mengubah pendirian itu.
"Besok aku berangkat sama temanku aja." Laura mengusulkan kebaikan untuk dirinya sendiri. "Atau aku akan berangkat naik taksi."
"Taksi dari rumah ke sekolah itu mahal, Laura." Adam menjawab dengan lembut. Dia hati-hati menyentuh hati Laura. "Perjalanannya hampir satu jam. Kalau macet bisa lebih dari itu."
Laura berhenti secara tiba-tiba. Pandangan mata tertuju pada Adam. "Setidaknya aku bisa duduk dengan nyaman!"
"Aku tidak harus berdiri atau berdesak-desakan," argumen Laura. "Aku cape harus melakukan itu setiap hari, Pak Adam." Laura tiba-tiba merengek. "Aku tidak terbiasa dengan itu! Sulit untuk membiasakan diriku."
__ADS_1
Adam tidak menjawab. Dia kembali berjalan.
"Bahkan setelah kita turun dari bus kita masih harus berjalan beberapa menit untuk sampai ke sekolah," ujar Laura berusaha menarik perhatian Adam. "Kenapa tidak naik taksi saja?"
Adam menghela napas. "Kamu hanya berdiri tujuh menit sebelum busnya sampai ke halte dan kita turun, Laura."
Adam memandang kaki Laura. Memang, itu jenjang dan cantik. Kulit putih susu tanpa luka gores sedikit pun. Laura merawat tubuhnya dengan baik dan sempurna.
"Tujuh menit berdiri tidak akan mematahkan tulang kakimu," imbuh Adam. Dia tersenyum pada Laura.
Adam mengusap puncak kepala Laura. "Kamu bukan tuan putri lagi."
Laura memalingkan wajah, kesal. Laura marah dengan kalimat terakhir Adam. Lelaki ini benar-benar tidak cocok dengannya.
"Pokoknya aku nggak mau berangkat ke sekolah baik bus lagi!" teriak Laura. Berharap Adam yang semakin jauh mendengar kalimatnya.
Adam tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya. Terkadang keegoisan dan sifat manja Laura menjadi hiburan untuk hidupnya yang membosankan.
"Mas Adam?" Seseorang memanggilnya. Adam berhenti bukan karena suara Laura, tetapi Nurwa yang entah datang dari mana.
"Kenapa datang ke sini?" tanya Adam, sesekali menoleh pada Laura yang menyipitkan mata, berusaha mendengar percakapan mereka.
Nurwa tersenyum. "Kata Bu Wanda kamu bekerja di sekolah ini," jawab Nurwa seadanya. "Aku menunggu kamu sejak beberapa menit yang lalu di sana," imbuhnya sembari menunjuk pohon besar di seberang jalan.
Adam hanya manggut-manggut, bibirnya bergerak samar menandakan pemahaman.
"Bisa kita bicara sebentar?" Nurwa begitu lembut dalam bertutur kata. Berbeda jauh dengan Laura.
Tiada hari tanpa mengumpat untuk Laura.
Adam sedikit bimbang, dia tidak punya waktu banyak untuk dihabiskan mengobrol berdua bersama Nurwa.
"Tidak lama, tenang saja." Nurwa sepertinya tahu kekhawatiran Adam.
"Harus sekarang, Nur?" Adam mendesak pengertian Nurwa. "Bagaimana kalau makan siang nanti? Karena ini hari Jumat, jam makan siangnya agak lama."
__ADS_1
Nurwa menggelengkan kepalanya. "Makan siang nanti aku harus merawat Abah," katanya.
Adam memicingkan mata, keningnya perlahan-lahan mengkerut. "Abah sakit?"
"Ini yang mau aku bicarakan." Nurwa menghela napas. Keresahan bisa dibaca Adam dari raut wajah cantiknya.
Adam mengangguk. "Sakit apa?"
"Jantungnya kambuh lagi, Mas." Raut wajah Nurwa dipenuhi kecemasan. "Aku tidak tahu kapan Abah akan pergi meninggalkan kita semua. Dokter bilang, hanya bisa pasrah dan mengikhlaskan."
Adam seakan merasakan kesedihan Nurwa begitu saja. Kalimat itu menyalurkan kecemasannya.
"Abah minta Mas Adam datang untuk membicarakan tentang pernikahan." Nurwa tidak bisa berbasa-basi. Dia tak punya banyak waktu.
Adam diam sejenak.
"Abah ingin aku menikah karena usiaku sudah cukup untuk menikah," imbuh Nurwa menjelaskan.
Nurwa memandang Adam dengan gusar. "Abah ingin aku ada yang menjaga, Mas Adam."
"Tentu saja. Abahmu benar," sambung Adam sembari terus menganggukkan kepalanya. "Jadi, Abah kamu mau bicara dan meminta tolong aku jadi wali nikahmu?" Adam langsung menebak. Memang begitulah peran yang tersisa.
Nurwa diam. Tiba-tiba dia menjatuhkan pandangan mata, seperti malu akan sesuatu.
"Nur?" Adam memanggilnya pelan. "Kamu tidak 'srek' sama jodohmu?" tanya Adam mulai penasaran.
Nurwa menggeleng dengan mantap. "Bukan begitu."
"Lantas?" Adam mulai penasaran.
Nurwa mengulum ludah berat. "Abah ingin kita menikah, Mas Adam. Aku dan kamu."
Pupil mata Adam melebar begitu saja. Dia terkejut mendengar kalimat Nurwa barusan.
"Kamu mempelai laki-lakinya, Mas."
__ADS_1
Next.