
Jingga menggantung di langit senja. Magrib akan datang saat Laura tiba di rumah Adam. Bukan sebab sukarela, percaya saja jika Laura berdebat dengan Desi saat dia menyuruh putrinya datang kemari.
"Teh madu?" Rinjani menawarkan pada Laura yang masih kikuk di tempatnya.
Laura ingin menolak, tetapi sayang Rinjani menawarkan dengan teh yang sudah siap diminum.
Rinjani memandang halaman rumahnya. "Kamu datang ke sini naik mobil sendiri?" tanyanya. Rasa penasaran bercampur dengan kekaguman yang luar biasa. Dia belum pernah melihat mobil sebagus itu terparkir di depan rumahnya.
Laura tidak menjawab. Dia masih fokus memandang ruangan yang 'menyandera' dirinya sekarang.
Rinjani sepertinya tahu, Laura tidak bisa menyesuaikan diri dengan mudah. Dia seperti itik yang kehilangan induknya.
Rinjani tersenyum manis padanya. "Rumahku tidak sebagus punya kamu kan?"
Laura menoleh karena kalimat itu. "Jangan buat seakan-akan aku jahat. Aku tidak mengatakan apa pun." Laura menjawab dengan ketus. "Aku juga datang ke sini bukan karena kemauanku. Mama yang memaksakan untuk membawakan buah tangan."
Rinjani tertawa kecil. "Beginilah kehidupan di pinggir Jakarta. Tidak ada gedung mewah atau rumah bertingkat seperti istana."
"Berhenti untuk merendahkan diri. Kamu menempatkan aku seperti orang jahat di sini," jawab Laura seadanya.
Baru juga Rinjani ingin memulai pembicaraan dengan Laura agar mereka akrab, ketukan pintu menarik fokus mereka. Seorang gadis cantik berkerudung berdiri di ambang pintu. Wajahnya khas wanita Asia yang mumpuni.
Laura mengerutkan dahi. Dilihat dari caranya berpenampilan, mungkin wanita ini seusia Adam.
"Mbak Nurwa?" Rinjani langsung mengubah raut wajah. Dia lebih bahagia saat menyambut Nurwa datang, ketimbang saat melihat Laura tadi.
Rinjani langsung bangkit dari tempat duduknya. Menyambut kedatangan Nurwa dengan hangat. "Ada apa datang kemari, Mbak?" tanyanya.
Penasaran dengan pembicaraan mereka, Laura juga ikut mendekat.
"Si mbok buat ayam bakar lagi. Mas Adam pasti suka," kata Nurwa bahagia. "Jadi aku menyisihkan sedikit untuk kalian."
Laura diam sembari memandang tak suka. Dilihat dari caranya menyebut nama Adam saja, Laura sudah tahu kalau dia pasti menyukainya.
Nurwa fokus pada Laura. "Dia siapa?" bisiknya pada Rinjani.
Rinjani menoleh. Ditatapnya Laura yang pasrah, hanya menaikkan bahu, mempersilakan Rinjani menjelaskan sesuka hati.
"Nurwa?" Adam datang dari halaman luar. Suaranya menyita fokus ketiga perempuan itu. "Kamu kenapa datang?"
"Ada ayam bakar kesukaan Mas Adam," jawab Nurwa seadanya. "Si mbok memaksa untuk menghantarkan ke sini."
__ADS_1
Adam tersenyum canggung. Dia terkejut melihat Laura berdiri di belakang Rinjani. Sekarang pertanyaan tentang mobil siapa di depan halaman sudah terjawab. Laura datang tanpa memberitahunya.
"Ngomong-ngomong siapa yang datang, Mas?" bisik Nurwa pada Adam. "Wajahnya asing sekali."
Adam bergeming, tidak menjawab dalam sejenak. Tentu saja dia bingung. Janjinya pada Wanda memang akan menjelaskan semuanya, tetapi tidak sekarang.
"Calon istrinya," sela Laura. Dia menjadi gadis menjengkelkan untuk membalas tingkah Adam waktu itu. Saat Adam tiba-tiba mengumumkan kehamilannya pada mamanya.
Semuanya terkejut. Nurwa sampai tak bisa berkata-kata. Tidak ada angin tidak ada hujan, dia ditampar begitu keras.
"Mas?" Nurwa tidak mau percaya pada Laura. Gadis asing untuk Nurwa. "Apa yang dia katakan benar?"
"Kamu pikir aku pembohong?" Laura menyahut dengan ketus. "Kita menikah besok, kan, Pak Adam?" Sekarang Laura menambah suasana menjadi lebih kacau. Itu adalah tujuannya.
Adam tidak mau menggubris Laura. Adam mulai mengenal watak gadis itu. Adam memilih membawa Nurwa pergi dari sana, mereka berdua butuh waktu berbicara empat mata.
Rinjani melihat kakaknya membawa Nurwa menjauh. Sekarang Rinjani menoleh pada Laura. "Kamu ini lancang sekali?"
"Aku salah mengatakan kejujuran?" Laura bersikap polos. Yang baru saja dia lakukan itu adalah hal terpuji. "Kukira kalian menjunjung tinggi norma kebaikan di sini," kekehnya.
Rinjani tidak menjawab. Sifat Laura jelas berbanding terbalik dengan kakaknya. Rinjani pergi meninggalkan Laura begitu saja.
....
"Mas Adam!" Tiba-tiba dia kesal. "Yang dikatakan gadis itu tadi benar?" Nurwa merasakan sesak di dadanya, padahal Adam belum menjawab apapun.
Adam menunduk, dia mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Nurwa senja ini.
"Jawab aku, Mas Adam!" Nurwa semakin jengkel. Ingin rasanya memaki lelaki di depannya, tetapi Nurwa bukan siapa-siapa untuk Adam.
Nurwa hanyalah teman masa kecil untuk Adam. Mereka tumbuh di tempat yang sama, bermain dan menghabiskan separuh hari bersama. Waktu membuat rasa cinta di hati Nurwa berkembang begitu besar, mengakar begitu dalam, dan membuahkan harapan yang pasti.
"Maafin aku, Nur." Adam mulai merasa bersalah.
Nurwa memicingkan mata. "Kenapa kamu minta maaf? Kamu tidak salah kalau kamu menjelaskan, Mas," ucap Nurwa lagi.
Perangai Nurwa dan Laura jelas berbeda. Bahkan dalam keadaan marah, Nurwa tidak bisa membentak. Pembawaan perempuan berhijab ini begitu tenang, sikapnya lemah lembut dan tutur katanya tertata.
"Laura memang akan menikah denganku. Dia adalah calon istriku." Adam perlahan-lahan memandang wajah cantik Nurwa. "Sekali lagi aku minta maaf padamu, Nur."
Hati Nurwa hancur berkeping-keping! Dadanya terasa begitu sesak, seluruh tubuhnya lemas tanpa tenaga.
__ADS_1
"Kamu jangan bercanda, Mas Adam." Nurwa memohon pada Adam. "Gimana bisa kamu menikahi gadis yang tidak pernah kamu bawa ke rumah apalagi kamu kenalkan pada keluarga besar?"
"Aku tidak pernah mengenal Laura padahal aku mengenal semua teman-temanmu," ucap Nurwa lagi. Dia mendesak Adam. "Dia juga masih muda!"
Adam manggut-manggut paham. "Karena sesuatu aku harus menikahinya, Nur."
"Mas, jangan begitu." Nurwa tidak sengaja meneteskan air matanya. "Tidak ada hujan tidak ada petir, kamu tiba-tiba mengumumkan pernikahan."
Nurwa menepuk dadanya sendiri. "Lalu bagaimana sama aku? Aku kamu tinggalkan begitu saja?"
Adam tidak menjawab. Ia tidak berani memberi kepastian pada Nurwa sejak awal.
"Nur, bapak kamu minta suami berseragam. Minta suami yang mapan dan punya dana pensiun," kata Adam.
Nurwa menggelengkan kepalanya. "Bapak sudah tua, Mas. Wajar jika dia bergurau seperti itu," tandasnya. "Aku ini anak satu-satunya, jadi dia pasti ingin yang terbaik."
"Untuk itulah kita tidak bisa bersama, Nur." Adam menyanggah dengan yakin. "Kalau kamu bersamaku, itu akan sia-sia."
Nurwa menangis di depan Adam. Air matanya juga memberikan luka untuk Adam. "Kamu ini jahat sekali, Mas."
"Kalau sejak awal tidak niat untuk serius denganku, kenapa harus membuka hati dan memberi kesempatan?" Nurwa menagih. "Seharusnya kamu menolakku sejak awal."
Adam jadi bimbang. Dia serba salah di posisi ini. Hampir Adam membuka mulutnya. Tiba-tiba Laura datang menyela pembicaraan.
"Mungkin karena dia iba padamu?" tandas Laura dengan tegas.
Nurwa menoleh begitu juga dengan Adam.
Laura berjalan mendekati mereka sembari tersenyum puas. "Laki-laki yang bersikap baik pada perempuan meskipun dia tahu kalau perempuan itu menyukainya, belum tentu punya niat untuk membalas perasaannya, Nurwa."
Nurwa terdiam. Adam hampir mencegah Laura, tetapi dia gagal.
"Seperti kalimat ini : dia tahu dia menyukaimu, tetapi dia tidak menjauh dan tetap membiarkan kamu berada di sisinya karena dia hanya ingin menghargai perasaanmu." Laura tersenyum manis pada Nurwa. "Sudah jelas sekarang, kan?"
Nurwa mengusap air matanya. Dia memandang Adam dengan kekecewaan. "Kamu akan menyesal, Mas," imbuhnya sebelum akhirnya Nurwa pergi dari hadapan Adam.
Laura memandangnya dengan senyum tipis. "Tidak mau mengejarnya? Sepertinya aku melukai hatinya?"
Adam diam sejenak. Membuat Laura menoleh padanya.
"Setidaknya bukan aku yang harus mengatakan itu padanya," gumam Adam di tempatnya. "Kamu sudah mewakili itu."
__ADS_1
Next.