Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
92. Rahasia Calon Suamiku


__ADS_3

Seperti biasa, pagi ini Nurwa datang dengan rantang makanan untuk dibawakan pada keluarga Adam. Meskipun keadaannya sedang susah, tetapi dia sudah menganggap kalau keluarga Adam adalah keluarganya sendiri. Ibunya pun demikian.


"Mas Adam?" Nurwa melihat Adam yang keluar dari dalam rumah. "Mau berangkat kerja?" tanyanya lagi.


Adam terkejut melihat kedatangan perempuan itu pagi ini. Dia melirik jam tangannya. Bahkan belum ada pukul 06.00 pagi. Namun, Nurwa sudah berdiri di hadapannya.


"Hm. Aku ada urusan dulu," ucap Adam seadanya.


Nurwa tersenyum tipis padanya. "Sepagi ini?" Bukannya tidak mau percaya, hanya melihat keraguan dalam kalimat Adam.


Adam bukan laki-laki yang mudah berbohong, itulah alasan mengapa Nurwa mempertahankan perasaannya.


Nurwa manggut-manggut. "Aku tidak tahu kalau tempat les swasta seperti itu punya jam kerja pagi seperti ini."


Perempuan itu melirik rantang makanan yang ada di belakang punggung Adam. Sepertinya, Adam berusaha untuk menyembunyikannya dari Nurwa.


"Ah, rantang ini?" Adam seakan tahu apa yang ada di dalam kepala Nurwa. "Bekalku."


"Aku akan kerja lebih lama dari biasanya jadi aku berpikir untuk membawa bekal makanan." Adam mengusahakan senyum mengembang di atas bibirnya. "Ini bentuk penghematan juga."


Nurwa hanya tahu satu fakta tentang Adam. Pria ini tidak akan banyak bicara dan menjelaskan jika tidak ditanya, kecuali dia berusaha untuk menutupi sesuatu.


"Aku juga bawakan ayam goreng untuk kalian sarapan pagi ini. Aku tidak tahu kalau Mas Adam akan pergi pagi-pagi." Nurwa menjawab. "Kalau aku bungkus? Bisa jadi tambahan lauk."


Adam diam sejenak. Dia berpikir. Kepalanya menggeleng kemudian. "Lauknya sudah banyak, Nur. Terimakasih."

__ADS_1


"Kamu bisa masuk ke dalam dan tawarkan pada ibu dan Rinjani. Mereka pasti suka," jawab Adam. Dia tersenyum lagi. "Aku harus segera berangkat. Nanti aku hubungi lagi."


Adam beranjak setelah selesai memakai sepatunya. Nurwa hanya manggut-manggut. Toh juga, tidak ada yang bisa diperdebatkan sekarang. Kecurigaan Nurwa juga tidak berdasar.


"Mas Adam!" Nurwa memanggil namanya. Berhasil menghentikan langkah kaki Adam. "Nanti sore, Mbak Siti, tukang jahit langganan ibu, mau mengukur baju Mas Adam untuk lamaran."


Adam terdiam.


"Bu Wanda minta kita pakai baju yang sama," imbuh Nurwa lagi. "Kamu ada waktu nanti sore? Kita ke sana sama-sama."


Adam diam lagi. Dia belum bisa memberi jawaban pasti.


"Tidak bisa?" Nurwa menyimpulkan. "Lamarannya tinggal dua minggu lagi," ucap Nurwa. "Kita harus memperdalam banyak hal."


"Jahitan Mbak Siti itu bagus, tetapi pengerjaannya lama. Bisa makan waktu satu minggu, nanti kita terlambat." Nurwa terus-menerus berbicara. Entah mengapa, Adam tak seyakin sebelumnya.


Adam manggut-manggut. "Nanti aku usahakan." Dia tersenyum manis. "Nanti aku hubungi lagi," imbuhnya. "Sekarang aku harus berangkat dulu, Nur."


Senyum merekah di atas bibir merah muda Nurwa. "Baik, Mas. Aku menunggumu."


Adam pergi. Nurwa hanya bisa memandangnya dari jauh. Punggungnya hilang setelah berbelok di ujung gang. Rasa-rasanya banyak sekali yang mengganjal di dalam hati Nurwa. Keraguan datang sedikit demi sedikit.


"Nur?" Wanda memanggil Nurwa pelan. Perempuan itu menoleh.


"Bu Wanda?" Nurwa langsung mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Wanda. "Aku bawakan ayam goreng racikan ibu. Bu Wanda pasti suka."

__ADS_1


Wanda tersenyum manis. "Makasih, Nur. Kamu ini selalu saja begini. Aku jadi tidak enak."


Nurwa menggeleng. "Tidak apa-apa, Bu. Kita akan jadi keluarga setelah aku menikah sama Mas Adam."


Wanda mengusap punggung Nurwa, sekali lagi dia tersenyum begitu manis.


"Ngomong-ngomong, dua malam yang lalu kamu yang membantu Adam?" tanya Wanda tiba-tiba. "Aku baru sempat mengucapkan terima kasih pagi ini, Nak."


Nurwa mengerutkan keningnya. Dia tidak melakukannya apapun.


"Adam dua hari lalu pulang dan mengejutkan aku juga Rinjani." Wanda menghela napas. "Tangannya diperban dan wajahnya sedikit luka. Bajunya kotor dan celananya robek. Dia ditabrak orang."


Nurwa membelalakkan matanya. Dia tidak tahu apapun.


"Aku sudah menyuruhnya untuk cuti selama beberapa hari ke depan, tetapi nyatanya dia cuma ngambil cuti dua hari. Dia keras kepala melepaskan perbannya." Wanda mengelus dada lembut. "Dia mirip mendiang ayahnya. Ambisius."


Nurwa sama sekali tidak bisa menjawab apapun. Adam sepertinya membuat kebohongan pada ibunya. Bukan Nurwa yang membantu Adam, ada orang lain.


Wanda menatap Nurwa lagi. "Sekali lagi terimakasih sudah menjadi wali Adam malam itu. Aku tidak tahu gimana kalau tidak ada kamu, Nur."


"Adam itu tidak suka rumah sakit, dia bisa kacau kalau ngurusin semuanya sendiri," imbuh Wanda lagi. "Sekali lagi terimakasih."


Nurwa hanya tersenyum. Dia tidak tega merusak kepercayaan Wanda. Meskipun sebenarnya dia ingin tahu siapa yang membantu Adam malam itu.


Adam bahkan tidak mengatakan apapun pada Nurwa tentang kecelakaan kecilnya.

__ADS_1


"Laura?" batin Nurwa.


Next.


__ADS_2