
"Kamu tahu rumahku dari siapa?" Laura meletakkan secangkir teh di depan Daffa. "Belen saja tidak tahu kalau aku pindah ke sini."
Daffa tidak menjawab Laura, tetapi dia menatap keadaan sekitarnya. Tentu saja suasana menjadi asing, rumah Laura tidak sesuai dugaannya.
"Kamu ngapain malah ngeliatin rumahku?" Laura duduk di depannya. Dia memandang mantan kekasihnya itu dengan jeli. "Ah, karena rumahku tidak semewah dulu lagi?" tanyanya.
Laura tertawa kecil. "Kamu tidak mau berteman denganku kalau aku miskin?"
Daffa buru-buru menggelengkan kepalanya. "Aku hanya berpikir bagaimana kamu bisa bertahan di rumah ini sendirian, Ra?"
Laura mengerutkan keningnya.
"Singkatnya aku khawatir sama kamu. Lingkungan rumahmu sedikit sepi, suasananya juga menyeramkan." Daffa menjelaskan seadanya.
Laura hanya menganggukkan kepala. "Kamu nggak perlu mikirin itu. Itu bukan urusan kamu lagi."
Keduanya saling pandang. "Kamu masih marah sama aku? Aku kira kamu sudah memaafkan aku dengan memberikan teh untuk kedatanganku."
Laura kembali tertawa. "Kamu pikir secepat itu menghilangkan rasa sakit di hatiku setelah apa yang kamu lakukan?" tanya Laura. Dia memicingkan mata. "Daffa! Kamu tambah bodoh!"
"Aku tahu kalau aku salah, tetapi aku ...."
"Aku nggak mau kembali sama kamu lagi." Laura menegaskan kemudian. "Aku memang masih suka sama kamu. Namun, ada laki-laki yang lebih aku suka untuk saat ini."
"Pak Adam?" Daffa langsung menebaknya.
Laura menganggukkan kepalanya. "Mungkin. Aku belum yakin kalau aku menyukainya, tapi aku lebih memilih dia kalau harus kembali padamu," ucapnya.
Daffa menghela napas. "Ra, kalian sudah bercerai. Dia juga akan menikah. Kamu tidak seharusnya menyukainya lagi."
"Kamu tahu banyak rupanya." Laura tertawa lagi. "Aku kira kamu sudah tidak peduli lagi."
"Ra, ini demi kebaikan kamu. Aku nggak mau kalau kamu sakit hati karena harapan kamu sendiri." Daffa bangkit dari tempatnya.
Dia berjongkok di depan Laura. Meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Aku akan berubah untuk kamu, Ra."
Laura terdiam lagi. Dia memalingkan pandangan Laura hanya tidak ingin terhipnotis lagi.
__ADS_1
"Aku nggak bisa. Sudah aku katakan kalau aku nggak bisa." Laura memaksa melepaskan genggaman tangan Daffa. "Aku bilang kalau aku menyukai Pak Adam. Aku akan memperjuangkan itu."
Daffa menundukkan kepala.
"Aku menerima kamu malam ini bukan berarti aku menyukai kamu dan menginginkan kamu kembali lagi. Aku hanya ingin mendengarkan penjelasan kamu, selain itu aku ingin menertawakan kamu." Laura mengakhiri kalimatnya.
Daffa kembali memaksa Laura. Dia kembali meraih tangan Laura meskipun gadis itu berusaha menolaknya. Perlawanan kecil ditunjukkan oleh Laura.
Belum sempat Daffa memulai kalimatnya, tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan kasar dan mengejutkan mereka berdua.
Ketika keduanya memandang ke arah yang sama, Laura melihat Adam datang dengan amarah. Tiba-tiba Adam menarik Daffa menjauh dari Laura dan menonjok wajahnya.
"Ngapain kamu datang ke sini?" Adam menatapnya dengan beringas. "Bukankah sudah kukatakan waktu itu untuk tidak mendatangi Laura lagi apapun keadaannya?"
Laura berdiri di tempatnya, dia berusaha mencegah Adam melakukan hal gila lebih dari ini. "Pak Adam, dia hanya ...."
"Sudah kukatakan aku tidak akan membiarkan kamu mendekati dia lagi!" Adam hendak memukul wajah Daffa lagi, tetapi dia berhenti ketika Daffa malah tertawa.
"Wah! Kalian benar-benar pasangan yang luar biasa!" kekehnya. "Aku akan melaporkan kamu atas penyerangan malam ini, Pak Adam!"
Adam terdiam. Dia menatap Daffa.
"Lagian ngapain Pak Adam datang malam-malam begini?" tanyanya. "Kamu mengejutkan aku!"
Sekarang Adam fokus pada Laura. "Suruh dia pergi dari sini dan kita berbicara empat mata. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
Laura yang awalnya terdiam, terpaksa menuruti Adam. Dia menganggukkan kepalanya. Laura memberi kode pada Daffa untuk segera pergi dari rumahnya, tentu saja mereka akan berbicara lain waktu.
Setelah Daffa keluar dari rumah Laura, Adam sedikit lebih tenang. Dia berprasangka buruk hanya dengan melihat kehadiran Daffa saja.
"Kamu tahu apa yang dia lakukan sama kamu kemarin, tapi kenapa malah membiarkannya masuk?" tanya Adam ketus. "Bagaimana jika dia berbuat jahat padamu?" tanyanya.
Adam penuh kekhawatiran.
Laura tersenyum manis. "Pak Adam khawatir sama aku?" kekehnya.
"Aku serius, Laura!" Adam sedikit membentak. "Kawasan rumah kamu ini jauh dari jalanan utama. Lingkungannya juga sepi jam segini," tuturnya. "Bahkan kalau kamu berteriak, tetanggamu tidak akan ada yang datang. Suaramu tidak akan sampai ke rumah mereka."
__ADS_1
Laura menganggukkan kepalanya sembari mencari tempat duduk. "Terserah Pak Adam saja."
"Katanya mau berbicara empat mata, memangnya mau berbicara apa?" tanyanya kemudian. Laura memandang Adam. "Penting sekali?"
"Ini tentang Nurwa," ucapnya. Adam mendekati Laura. "Apa yang kamu bicarakan dengan dia?" tanyanya.
Laura tersenyum miring. "Dia mengadu apa?" Laura balik bertanya. "Seperti bayi saja."
"Laura!" Adam membentak dengan suara yang keras. Pandangan matanya dipenuhi kemarahan, tanpa Laura tahu di mana kesalahannya.
"Pak Adam membentakku?"
"Cepat jawab, apa yang kamu bicarakan sama dia?" Adam mendesak.
Laura menghela napas. "Aku hanya bilang kalau mungkin saja Pak Adam tidak menyukainya. Dia hanya terlalu percaya diri."
"Kamu bilang begitu?"
Laura bingung. "Hm. Aku juga mengembalikan barang-barang Adam yang tertinggal di sini dan ...."
"Lancang sekali kamu, Ra!" Adam membentak lagi. Laura terdiam seribu bahasa. Dia tidak pernah melihat Adam memandangnya seperti ini.
"Pak Adam?"
"Kenapa kamu terus mencampuri urusanku?" tanya Adam. "Kenapa kamu mengganggunya?"
"Pak Adam ini kenapa?" Laura ikut berdiri. "Aku hanya berkata jujur dan ...."
"Kamu pikir aku masih menyukai kamu?" Adam menyahut lagi. Dia tersenyum aneh pada Laura. "Kamu terlalu percaya diri Laura."
Laura mengerutkan kening. "Pak Adam?"
"Aku hanya kasian sama kamu. Kamu seperti itik yang kehilangan induknya." Adam mendekati Laura. "Aku hanya kasian, makanya aku membantu kamu."
"Kenapa kamu salah pengertian begini?" tanya Adam semakin memojokkan Laura. "Harusnya kamu lebih pintar, Laura. Jadi, berhenti menganggu Nurwa. Kami akan menikah."
Next.
__ADS_1