Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
106. Cinta Menyakitkan


__ADS_3

Rumah sakit pusat, Jakarta.


Nurwa selesai merapikan tempat tidur abahnya. Dia berniat untuk keluar dari ruangan dan membuang sampah.


"Bah, Nurwa keluar dulu ya, sebentar." Nurwa berbisik di telinga abahnya. "Nanti kalau ada perawat yang datang, suruh tunggu Nurwa sebentar."


Tentu saja dia tidak perlu menunggu jawaban dari abahnya, Nurwa berjalan keluar dari ruangan. Baru menutup pintu, dia terkejut ketika seseorang berdiri di belakangnya.


"Bu Wanda?" Nurwa menatap wanita itu, jarang sekali Wanda datang kemari. "Bu Wanda mau menjenguk abah?" tanyanya. "Aku baru selesai membersihkan ruangan tadi. Abah juga sedang bangun, Jadi pas sekali kalau Bu Wanda datang untuk menjenguk abah."


Wanda tersenyum. "Sebenarnya aku ingin bicara sama kamu, Nur. Nanti setelah bicara baru aku menemui abahmu."


Nurwa nampak kebingungan dengan Wanda. Dari raut wajahnya, Wanda pasti punya pembicaraan serius untuk dirinya.


"Sepertinya penting sekali," ucap Nurwa menebak.


Wanda manggut-manggut. "Bisa bicara denganku sebentar?" tanyanya. "Di lorong ini tidak apa-apa."


Nurwa manggut-manggut. Dia memimpin jalan, mencari lorong yang sedikit sepi. Nurwa juga tidak bisa meninggalkan ruang rawat abahnya lama-lama.


Wanda duduk di ujung jajaran kursi, satu celah dengan posisi Nurwa sekarang. Tentu saja, suasana sesuai yang diduga. Canggung dan sepi. Mau berbicara, rasanya begitu sulit.


"Tentang Mas Adam, Bu?" Nurwa memulai. Suaranya lemah lembut, berusaha keras untuk menyembunyikan kegundahan dalam hatinya.


Seharusnya Nurwa bisa lebih akrab dengan Wanda seperti sebelumnya. Namun, setelah mengumumkan akan menikah dengan Adam, hubungan mereka semakin jauh. Aneh sekali.

__ADS_1


"Kenapa kamu mau menikahi Adam?" tanya Wanda. Dia menoleh pada Nurwa. "Dia seorang duda dan ...."


"Aku tidak peduli status Mas Adam, Bu Wanda." Nurwa menyahut dengan mantap. "Semuanya punya kesalahan mereka masing-masing. Tidak ada yang sempurna."


Wanda menghela napas. Dia hanya takut menyakiti perasaan Nurwa.


"Dia seorang duda dan masih mencintai mantan istrinya." Wanda langsung pada inti pembicaraan. Dia tidak mau membuang waktu. Nurwa sama sibuknya dengan dia.


Keduanya saling pandang. Nurwa kehabisan kata-kata, padahal dia belum berkata apapun. Mendengar kalimat seperti itu lolos dari celah bibir Wanda, selaku wanita yang paling dekat dan memahami Adam, tentu membuat luka istimewa dalam hatinya.


"Kenapa Bu Wanda bilang begitu?" Nurwa masih keras kepala. Ternyata membodohi dirinya sendiri adalah hal yang sulit. Dia butuh perjuangan ekstra.


Wanda menatapnya dalam diam, dia hanya bisa menghela napas. Nurwa dan Adam hanya korban keadaan. Seharusnya dia melakukan ini sejak awal. Terlalu terlambat mengatakan pada Nurwa jika Adam tidak akan pernah mencintainya


"Adam menyayangimu," ucap Wanda tegas. Pandangan matanya tidak berusaha untuk mengintimidasi Nurwa, hanya berusaha membuatnya mengerti. "Dia mencintaimu."


"Namun, caranya berbeda dan maknanya berbeda." Wanda mengerutkan keningnya. "Bukan menikah jawabannya."


"Bu Wanda, tolong jangan ...."


"Kamu paham itu, bukan?" Wanda terus memotong kalimat Nurwa. "Sahabat tidak akan menikah, tetapi mengantar sahabatnya menikah. Itulah hubungan kalian."


Nurwa hampir menangis. Ternyata mendengar ini dari Wanda jauh lebih menyakitkan ketika mendengarnya langsung dari Adam. Wanda 100 persen mengenal Adam Dhanurendra.


"Nurwa," panggil Wanda pelan. Dia meraih tangan Nurwa dan menghangatkan dengan genggaman. "Aku merestui kalian, jika kalian menikah."

__ADS_1


Nurwa memandangnya dalam diam.


"Jujur saja, kalau aku berdoa dulunya, kalian akan menikah suatu saat nanti. Aku akan mati dengan tenang ketika aku melihat Adam menemukan istri yang tepat dan baik seperti dirimu," tuturnya pelan. "Aku sangat bersyukur. Kamu pantas menjadi istri dari putraku."


Nurwa menundukkan pandangan. Dia berusaha menyembunyikan wajah sedihnya. Kedatangan Wanda mirip seperti penolakan. Bujukan yang halus, untuk melepaskan harapan kosong mereka.


"Namun, setelah Adam dewasa dan melihat bagaimana kalian menjalani kehidupan ... aku menyesal telah berdoa seperti itu," imbuhnya. Wanda menarik dagu Nurwa, mengusap air matanya yang tak sengaja jatuh. "Aku bersalah jika membiarkan kalian menyiksa hati kalian masing-masing."


"Bu Wanda, aku mencintai Mas Adam dengan tulus." Nurwa tiba-tiba memohon. "Aku yakin aku bisa mengubah perasaan Masa Adam terhadap Laura."


"Ternyata kamu sudah menyadarinya sejak dulu, Nurwa," sahut Wanda. "Padahal aku tidak menyebutkan apapun tentang Laura."


"Mas Adam memprioritaskan dia. Mas Adam melindunginya, mengkhawatirkannya, dan terus membantunya." Tiba-tiba Nurwa membahas itu. "Seminggu ini dia tidak bisa fokus setelah memutuskan untuk tidak menemui Laura lagi."


Nurwa mengusap air matanya. "Dia memaksakan diri, tetapi malah aku yang tersiksa." Akhirnya dia merengek-rengek. "Seharusnya aku senang, tetapi aku malah merasa bersalah."


Wanda manggut-manggut. Nurwa akhirnya melepaskan beban di dalam hatinya. Dia memang harus berhenti membohongi diri.


"Kamu seharusnya tahu apa yang harus kamu lakukan, Nurwa," bisik Wanda. Perempuan itu menarik tubuh Nurwa dan memeluknya. "Lepaskan beban itu dan hiduplah dengan damai."


Nurwa semakin terisak. "Namun, aku mencintai Mas Adam. Aku sangat mencintainya."


Wanda menepuk-nepuk pundak Nurwa. "Ibu tahu, Nak. Kamu mencintainya."


"Aku tidak ingin melepaskan pernikahannya, Bu Wanda," rengek Nurwa. "Aku ingin Mas Adam bersamaku."

__ADS_1


Wanda menghela napas. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, berharap tidak ada air mata yang membasahi pipinya. Dia tidak hanya membesarkan Adam, tetapi juga Nurwa. Setidaknya Wanda adalah saksi bisu bagaimana cinta Nurwa tetap terjaga selama bertahun-tahun lamanya. Cinta itu murni dan suci. Namun, melukainya.


Next.


__ADS_2