
Suasana pagi Laura rasakan begitu nyaman. Di akhir pekan seperti ini, dirinya hanya ingin mementingkan diri sendiri. Sejenak melupakan masalah yang ada, coba hidup layaknya seperti gadis biasa.
Setelah keluar dari kamar mandi, Laura langsung disambut dengan aroma harum yang datang dari ruang makan. Gadis itu berhenti tepat di ambang pintu kamar mandi, menghentikan aktivitasnya dalam mengeringkan rambut.
"Aku tidak masak apa pun." Laura bergumam sembari berjalan ke sumber aroma.
Meja makan penuh. Beberapa sarapan khas ada di atas meja dan tersusun rapi.
"Aku juga tidak memesan makanan apa pun." Laura mengerutkan dahi. "Aku baru bangun."
Gadis itu menatap sekelilingnya. Samar-samar suara terdengar dari dapur. Tak berselang lama seseorang keluar kemudian.
"Bu Wanda?" Laura memicingkan mata. Ditatapnya kedatangan wanita tua itu dengan membawa nampan berisi minuman untuk menemani sarapannya.
"Bu ada ngapain di sini?" tanya Laura sembari mengekori Wanda. "Mau merundung aku dengan kata-kata pedas lagi?"
Wanda sama sekali tidak menyahut. Seakan-akan Laura adalah angin berlalu.
"Bu Wanda?" Laura mempertegas caranya berbicara. "Bu Wanda berniat untuk merusak hariku?" tanyanya ketus. Dia terus menatap aktivitas Wanda di depannya.
"Aku sudah tidak mengganggu Pak Adam. Aku juga tidak pernah mendatanginya atau menghubunginya lagi." Laura terlihat begitu kesal. "Dia yang memaksaku."
Wanda sibuk dengan aktivitasnya sekarang. Fokusnya hanya untuk hidangan di atas meja. Dia menata semua sedemikian rupa seakan menghidangkan sarapan untuk seorang tuan putri.
"Daripada datang kemari, bukankah lebih baik menemui Pak Adam?" Laura memicingkan mata. "Semua keputusan ada di tangan dia. Percuma saja terus mendatangi ku dan membawakan aku makanan pagi ini karena aku tidak akan mau ...."
"Kamu tidak lapar?" Wanda akhirnya menyahut. Ditatapnya Laura yang terkejut karena pertanyaan singkat itu.
Wanda tertawa ringan kemudian. "Apa pertanyaanku cukup aneh? Kenapa raut wajahmu begitu?"
"Sejak kapan Bu Wanda peduli padaku?" Laura bersedekap di depan wanita itu. "Ah, Setelah Pak Adam minggat dari rumah?"
"Jangan harap aku akan membantumu untuk membujuk Pak Adam kembali, itu bukan urusanku." Laura berpaling setelah menyelesaikan kalimatnya.
Baru beberapa langkah menjauh, Wanda kembali berbicara. "Kulkasmu kosong. Hanya ada air putih saja."
__ADS_1
Laura menoleh. Menatap wanita itu dalam diam, Laura semakin dibuat tidak mengerti dengan kedatangannya pagi ini.
"Sebelumnya ada bir kaleng di dalam kulkasmu, juga beberapa minuman soda yang tidak sehat." Wanda meneruskan. Senyumnya begitu ramah.
"Sepertinya kamu sudah membuang itu semua, Laura." Wanda menyimpulkan. Dia mendorong mangkuk di depannya mendekati kursi kosong di hadapannya. Wanda berharap Laura duduk di sana, menyarap bersamanya.
"Bukan urusan Bu Wanda akan membuangnya atau bahkan menjualnya lagi," sahut Laura. "Udah aku bilang Bu Wanda lebih baik pergi dari sini."
"Duduklah dulu. Ada yang ingin aku bicarakan." Wanda mengetuk meja di depannya. "Aku janji tidak akan menyakiti hatimu dan aku bahkan akan meminta maaf padamu jika memang itu yang kamu inginkan."
Laura memalingkan wajahnya. "Cih, wanita ini sama saja."
"Hanya 15 menit saja, Laura. Selebihnya aku langsung pergi dari sini jika aku mengganggumu."
Laura menghela napasnya panjang. Dia terpaksa mengikuti wanita ini, jika memang ingin melihat Wanda segera pergi dari rumahnya.
"Apa?" Laura duduk di depan Wanda. Meja makan yang tidak terlalu besar, membuat jarak mereka tak terlalu jauh pula. Mungkin dengan berbisik pun dia masih bisa mendengar suara wanita ini.
"Soal Adam."
"Kamu mencintainya?" Wanda mengabaikan kalimat Laura lagi. "Kamu begitu mencintainya?"
Laura bergeming. Seingatnya, dia sudah pernah mengakui itu kemarin. Wanda meragukannya, mungkin.
"Kamu benar-benar mencintainya atau kamu merasa kamu mencintainya karena anak dalam perut kamu?" Wanda terus mendesak Laura untuk berbicara. Sedangkan gadis itu diam tanpa suara.
Wanda menarik napas dalam-dalam. "Jika memang hanya karena tanggung jawab, aku akan ...."
"Kami berdua sepakat untuk mengukurnya anak ini." Laura menyahut. "Aku sudah mengatakan itu pada Pak Adam."
Sekarang giliran Wanda yang terdiam. Dia memandang gadis di depannya dengan sendu.
"Setelah anak ini tidak ada, aku akan pindah ke Malaysia atau Singapura. Saudara mama dan papa menyekolahkan aku di sana."
Keduanya Saling pandang satu sama lain. Sejenak tidak ada yang berbicara.
__ADS_1
"Jadi rupanya kamu mencintainya hanya karena kehamilan itu," ucap Wanda menyimpulkan. "Kamu tidak benar mencintainya."
"Bu Wanda tahu apa?" Laura menyahut lagi. Nada bicara begitu ketus. "Ini perasaanku dan ini keputusanku."
"Buktikan kalau memang aku salah menilai kamu, Laura." Wanda mengerjapkan mata beberapa kali. Dia tidak bisa membayangkan Laura harus menggugurkan kandungan yang untuk yang kedua kali.
Laura belum benar-benar dewasa. Sekarang Wanda tahu kenapa orang tua Laura menitipkannya pada Adam.
"Jika memang kamu mencintai putraku dengan tulus, maka buktikan."
Laura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan ...."
"Lahirkan anak itu dan menikahlah dengan Adam. Dengan begitu aku percaya kalau memang kamu mencintainya, bukan hanya memanfaatkan perasaannya saja, Laura."
Laura terdiam. Wanita ini benar-benar berubah 100%.
"Aku minta maaf jika perkataanku waktu itu membuatmu terluka." Wanda mengimbuhkan. "Kalimat itu yang ingin kamu dengar dariku kan? Kamu sekarang sudah mendengarnya."
"Haruskah aku perlu untuk di hadapanmu juga?" tanya Wanda. Pandangan matanya semakin meyakinkan. "Aku akan melakukan semuanya demi putraku. Bahkan memohon ampun padamu sekali pun."
Laura mengalihkan pandangan mata. Sesekali dia mengedipkan matanya setelah merasakan pedih yang luar biasa.
"Adam pergi meninggalkan kamu secara tiba-tiba adalah saran dariku." Wanda mulai mengulas. Dia membuat Laura menatapnya lagi.
"Dia harus menyelesaikan urusannya dengan Nurwa, tanpa melukai dirimu," imbuhnya. Wanda tersenyum kecut. "Ternyata itu malah memberi luka yang lebih banyak untukmu, Laura."
Wanda tiba-tiba meraih tangan Laura dan menggenggamnya. "Aku mengenal putraku dengan baik. Dia tidak pernah membentakku hanya karena perempuan lalu minggat dari rumah setelahnya."
"Kamu juga mau menyalahkan aku, Bu Wanda?" Laura hendak melepaskan genggaman tangannya, tetapi Wanda menahannya.
Wanita tua itu menggelengkan kepalanya. "Bukan itu. Aku hanya ingin bilang padamu ... bahwa kamu hebat."
Laura mengerutkan kening.
"Kamu bisa membuat putraku memahami artinya cinta dengan baik setelah orang tuanya meninggal, Laura. Dia benar-benar mencintaimu." Wanda tersenyum manis. "Untuk itu, cintai Adam juga, lebih dari dia mencintai kamu. Aku mohon."
__ADS_1
Next.