
Laura menatap langit mendung di atasnya. Cuaca tidak bisa diprediksi belakangan ini. Beberapa jam lalu, terik matahari begitu terasa menyengat di ubun-ubun kepala. Lalu, hanya berselang beberapa jam saja Laura melihat awan mendung berkumpul di atas sana.
"Aku seharusnya bawa payung." Laura bergumul dengan dirinya sendiri. "Kenapa aku meninggalkannya?"
Laura hendak mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Biasanya aku menyimpan tote bag anti air untuk bukuku," gumamnya.
Laura terdiam saat dia menemukan sesuatu di dasar tasnya, tertumpuk dengan buku-buku yang dia bawa hari ini.
"Apa ini?" Laura mengambil benda itu. "Payung?" Seingatnya, dia tidak pernah memasukkan payung di dalam tasnya. Juga, ini bukan payung Laura.
"Pak Adam lagi?" gerutunya. "Berani-beraninya dia buka tas aku," gumamnya pelan.
Laura hendak memasukkannya kembali. Namun, secarik kertas kecil menyita fokus Laura. Sebuah pesan tertulis disematkan di sela-sela lipatan payung.
"Sudah aku bilang untuk bawa payungnya. Kenapa malah dikembalikan?" Laura bergumam sembari membaca kalimat pendek, dengan tulisan tangan yang begitu indah. Selain wajah yang punya pesona, tulisan tangan Adam juga begitu.
Laura menghela napas kasar. Dia tidak punya pilihan lain. "Dari pada aku pulang basah kuyup."
Gadis itu hendak membuka payungnya, tetapi Belen tiba-tiba mengejutkannya. "Laura!"
Belen memandang payung dalam genggaman Laura. Dia menunjuk dengan pasti. "Boleh tukar payungnya?"
Laura mengerutkan dahi heran. "Kamu punya sendiri, kenapa minta punyaku?"
"Payung yang ini kecil," jawab Belen memaksa Laura untuk menukar payung miliknya. "Nanti aku kembalikan kalau sudah selesai."
Laura tak memberi jawaban. Diamnya berusaha mencari kesimpulan dari sikap aneh Belen kali ini.
"Kenapa harus tukar?" Laura belum mau menerimanya. "Kamu tidak terlalu besar. Lagian biasanya untuk kita aja, payung ini cukup," gerutu Laura. Laura hampir merebut payungnya lagi
Belen menangkis tangan Laura. "Ck," decaknya. "Kamu ini bener-bener nggak pengertian, Ra!"
"Kenapa?" Laura ikut memprotes.
"Kamu juga selalu pakai payung ini, dulu saat aku ingin menghilangkannya saja kamu marah besar," tandas Laura. "Katanya ini payung kesukaan kamu. Kamu benar-benar kekanak-kanakan."
Belen menyenggol bahu Laura. "Lihat siapa yang menunggu hujan," bisik Belen.
Pandangan mata Laura sengaja dialihkan. Di sana, Laura melihat Adam berdiri sembari menadahkan tangan menerima hujan sore ini.
__ADS_1
"Pak Adam," imbuh Belen berisik. "Aku mau menawarinya payung." Belen tersenyum kikuk pada Laura. "Payung kuning butut itu gak akan bisa menampung tubuh besar Pak Adam, Ra."
Laura memilih untuk diam. Sepasang mata teduhnya fokus menyaksikan pemandangan di depannya. Laura memang tidak bisa menolak pesona Adam, tetapi dia juga tidak bisa menolak kebencian dalam dirinya sendiri. Adam seharusnya tidak ikut campur dalam hidupnya.
Paling tidak, semesta tidak seharusnya mempertemukan mereka dalam keadaan kacau begini
"Aku pinjam sebentar, ya? Besok aku kembalikan." Belen memohon.
Laura belum menjawab, tetapi gadis berambut pendek itu sudah melenggang pergi dari hadapannya. Menerjang hujan dengan payung besar milik Adam.
Laura hanya menghela napas. "Kenapa aku merasa bersalah?" gumamnya. "Harusnya aku cerita sama Belen sejak awal."
Belen menghampiri keberadaan Adam. Wajah cantiknya menunjukkan keseriusan untuk mengajak Adam pulang bersama sore ini.
"Pak Adam!" Belen berteriak, suara hujan meredam suara lembut miliknya. "Pak Adam tidak bawa payung?"
Adam langsung menyadari jika payung yang dibawa Belen adalah payung miliknya yang dia masukkan secara diam-diam ke dalam tas sekolah Laura. Jika tidak begitu, gadis itu pasti akan menolaknya lagi.
"Pak Adam?" Belen menyadarkan lamunan Adam. Dia berusaha keras untuk menjangkau posisi Adam tanpa terkena tetesan air hujan. "Pak Adam tidak bawa payung?"
Adam menggelengkan kepalanya. Dia hanya punya satu payung, itu untuk Laura. "Aku lupa bawa," jawab Adam seadanya.
Belen mendekatinya, mengabaikan sepatu putihnya yang menginjak genangan air hujan. "Mau pulang bersamaku?" tanyanya.
"Aku tunggu hujannya reda saja," timpal Adam. "Tujuan kita berbeda kan?"
Adam kembali memandang ke arah posisi Laura berdiri. Gadis itu menggunakan payung berbeda. Laura berjalan menerjang hujan dengan payung kecil berwarna kuning terang.
"Aku bisa lewat halte bus," jawab Belen lagi. "Pak Adam tidak perlu khawatir. Nanti aku minta dijemput di sana."
Adam penuh pertimbangan. Kepalanya hampir menggeleng, tetapi Belen menariknya.
Adam terkejut. "Nanti kalau kita jatuh gimana?" tanya Adam sembari mengusap dada bidangnya. Dia terlalu tua untuk lelucon anak remaja.
"Tidak ada," balas Belen seadanya.
"Kita jalan ke halte bus sekarang, Pak?" tanya Belen menatap Adam. Belen tak pernah menyangka kalau dirinya akan sedekat ini dengan Adam. Semakin dekat, ketampanan itu semakin paripurna.
"Biar aku yang pegang payungnya."
__ADS_1
Belen tersenyum genit. "Tentu saja," jawabnya sedikit gagap.
>>>><<<
"Itu Laura!" Belen menunjuk punggung Laura yang berjalan jauh di depannya. "Dia mau ke halte bus?" gumamnya pelan. Nada bicaranya seakan mengandung kesedihan.
Adam menoleh pada Belen. Raut wajah Belen tak sebahagia tadi, saat berhasil mengajaknya pulang bersama di bawah satu payung yang sama.
"Aku kasian banget sama dia," ucap Belen pelan.
Adam tersenyum tipis. "Kenapa kasian? Aku dengar Laura cukup nakal dan berani."
Belen mendongak. Dia hanya setinggi dada bidang Adam. Jika dibanding dengan Laura, Belen pun hanya setinggi telinganya saja.
"Aku mengenal Laura sudah lama, aku tahu seluk-beluknya." Belen membanggakan diri. "Laura itu tuan putri yang manja. Dia tidak bisa jalan di bawah hujan sendirian begitu."
Adam mengangguk. Dia setuju dengan Belen.
"Supirnya sedang libur dan papa mamanya pasti sangat sibuk." Belen mulai menyadari sesuatu. "Tapi kenapa dia tidak naik taksi? Malah ke halte bus?"
Belen menatap Adam lagi. "Bukankah itu aneh, Pak?"
Adam berusaha tertawa. "Aneh apanya?"
"Laura naik bus kota," sahut Belen tegas. "Itu bukan Laura."
Adam mengerutkan kening. "Sepertinya kamu mengenal Laura dengan baik, Belen."
Belen menepuk dadanya. "Tentu saja! Kita berteman sejak SMP."
Adam tiba-tiba berhenti, begitu juga dengan Belen. Dia memandang wajah Belen yang sedikit memerah, mungkin malu. Adam terlalu dekat dengannya.
"Bisa tolong ceritakan semua tentang Laura?" tanya Adam. "Aku ingin tahu."
"Kenapa Pak Adam ingin tahu?" tanya Belen penasaran. Belen mengerutkan keningnya. "Jangan bilang ...."
Belen diam sembari meneliti arti pandangan mata Adam.
"Bapak menyukai Laura?" tebak Belen dengan asal.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama untuk berpikir, Adam mengangguk. "Mungkin."
Next.