Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
73. Lelaki Jalang


__ADS_3

"Laura. Tante bukannya tidak suka kamu tinggal di sini, tetapi jujur saja keuangan tante tidak sebanyak mendiang orang tuamu. "


"Tante tidak bisa terus-menerus memberi uang saku padamu. Bisa kamu bantu Tante dengan mencari pekerjaan paruh waktu?"


Laura diguncang hebat oleh keadaannya. Dia benar-benar seperti putri raja yang baru diusir dari istana, Laura tidak yakin bisa bertahan untuk satu bulan ke depan.


"Aku harus cari kerja di mana?" Laura mendengus kesal. "Aku tidak pernah kerja paruh waktu. Gimana caranya aku bisa beradaptasi?"


Laura menghela napas. "Jika saja aku masih jadi istrinya Pak Adam, mungkin ...." Laura segera menggelengkan kepalanya. Dia tidak jadi memikirkan hal semacam itu.


"Apa yang aku pikirkan? Aku tidak boleh menyesal!" Laura menghela napas lagi. "Aku sudah mengambil keputusan."


Laura berhenti di samping trotoar ketika dia melihat Daffa keluar dari kafe di depannya. Senyum sumringah menghiasi wajah cantiknya.


"Daff—" Laura baru saja ingin memanggilnya sembari melambai, tetapi pemandangan aneh menghentikan gerak bibirnya.


"Zyn?" Laura mengerutkan kening. "Itu Zyn?" Sesegara mungkin dia mencari celah untuk menyeberang jalan. Laura berlari menghampiri Daffa yang dirangkul mesra oleh Zyn.


"Daffa! Zyn!" Laura memanggil mereka. Daffa dan Zyn menoleh bersamaan. Zyn sama sekali tidak terkejut melihat kedatangan Laura, berbeda dengan Daffa yang langsung melepaskan genggaman tangannya.


"Kalian ...." Laura menunjuk tangan Zyn yang masih kokoh di lengan Daffa. "Kalian kenapa bermesraan gitu?"


Daffa memandang ke arah lain. Dia tidak memperhitungkan ini.


"Daffa, jawab aku," desak Laura. Dia mendekati Daffa. "Kenapa kalian pegangan tangan?"


Zyn menyela. "Kami pacaran."


Laura langsung menoleh ke arah teman lamanya itu. Laura ingat kalau Daffa dan dirinya bertemu untuk pertama kalinya di hotel berapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Pacaran?" Laura mengernyitkan dahinya tak percaya. "Kalian?"


Daffa menghela napas panjang. "Kita pacaran, Ra." Dia memberanikan diri menatap Laura. "Maafkan aku."


Hati Laura seperti dilempar bom. Rasa sakit menyerangnya. Laura terdiam, berpikir apa kesalahannya sampai Daffa tiba-tiba meninggalkannya tanpa komunikasi apapun.


"Gimana bisa?" Laura meraih pundak Daffa. "Kita baik-baik saja! Kita tidak bertengkar sama sekali."


Laura tidak bisa menerima pengkhianatan ini. "Kamu tidak bisa memutuskan hubungan secara sepihak dan pacaran dengan orang lain begini," gerutu Laura. "Kita masih dalam hubungan."


"Memangnya aku pernah mengatakan kalau kita kembali pacaran, Ra?" Daffa seakan melempar kesalahan pada Laura. "Aku tidak pernah mengatakannya."


Laura melepaskan jari jemarinya dari jaket Daffa. Dia lemas. "Daffa?"


"Aku menyukai Zyn. Aku sudah tidak menyukai kamu." Daffa menegaskan. "Aku masih perjaka. Aku masih punya masa depan yang cerah."


Daffa memandang Laura dari atas sampai bawah. Ada luka di beberapa bagian tubuhnya. Kebangkrutan orang tua Laura benar-benar mengubah penampilan gadis ini perlahan-lahan.


Laura meneteskan air mata. Hatinya terluka mendengar kalimat Daffa. Seakan-akan tidak ada dosa yang disebabkan Daffa atas hidup Laura.


"Kita pergi dulu." Daffa enggan banyak berbicara. Toh juga, Laura sudah mendapat pengakuan.


Daffa berpaling, tetapi Laura menghentikannya. "Kamu meninggalkan aku tiba-tiba karena tahu orang tuaku bangkrut?"


Daffa menoleh, begitu juga dengan Zyn. Laura memandang keduanya dengan penuh amarah.


Laura mendekati Daffa. "Aku meminjamkan uang padamu! Aku memberikan uang padamu! Lalu kamu tiba-tiba meninggalkan aku begitu saja?"


Daffa manggut-manggut. "Kamu benar."

__ADS_1


"Apa yang bisa aku harapkan dari Laura yang sekarang?" Daffa mengerutkan kening. "Dia sama sekali tidak bisa diandalkan," tuturnya sembari menatap Laura dengan jijik.


"Daffa!" Laura membentak. Tangisannya semakin kuat.


"Aku tidak mau bersama gadis bekas istri orang," ucap Daffa dengan mantap. "Aku ingin gadis seperti Zyn. Kamu menjijikan, Ra."


Laura tersenyum kecut. "Menjijikan katamu?" Dia menarik hoodie yang dikenakan Daffa. "Kalau kamu tidak menghamili aku, aku tidak akan menikah sama Pak Adam!"


"Kalau kamu mau bertanggung jawab, aku tidak akan pernah mau menikah dengannya!" ketus Laura sembari mengusap air matanya. "Semua kehancuran dalam hidupku itu karena kamu! Sekarang kamu pergi gitu aja?"


Daffa mendorong tubuh Laura. Helaan napas menandakan ketidaksukaan. "Kamu nggak malu dilihat orang-orang?"


"Ra! Sadar diri!" Daffa terkekeh. "Kamu bukan anak orang kaya lagi, kamu tidak punya keluarga dan masa depan. Kamu bukan dewinya SMA Menjura."


Setelah menghina Laura habis-habisan, Daffa pergi tanpa pamit. Dia meninggalkan Laura yang menangis di tempatnya. Lengkap sudah penderitaan Laura kali ini.


"Papa!" Laura tiba-tiba terisak. Dia berjongkok, menyembunyikan wajahnya. "Aku mau ikut papa aja! Hiks!"


"Aku gak mau hidup seperti ini!" Laura terus terisak. Dia mengabaikan orang-orang yang berlalu lalang sembari memandangnya aneh.


"Bangun." Suara Adam terdengar samar-samar masuk ke dalam lubang telinga Laura.


Gadis itu langsung mendongak. Isak tangisnya berhenti seketika. "Pak Adam?" Sayang sekali, saat menoleh Laura tidak mendapati siapa pun di belakangnya.


"Sekarang aku bahkan berhalusinasi?" rengeknya. "Aku rindu Pak Adam."


Next.


Note :

__ADS_1


Rekomendasi novel keren untuk dibaca! Dijamin ketagihan!!



__ADS_2