Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
61. Kejutan!


__ADS_3

"Adam juga bingung harus apa. Dia tidak bisa mengusir semua murid-muridnya yang datang sore ini. Seharusnya dia melarang mereka untuk datang tadi siang.


"Pak Adam!" Seseorang memanggilnya. "Boleh numpang ke kamar mandi?" tanyanya.


Adam mengangguk ragu. Dia cukup takut, mengingat kejadian terakhir bersama Belen. "Pintunya ada di sana," ucap Adam kemudian.


Suasana ramai belum pernah dirasakan di dalam rumah ini. Adam cukup lama meninggalkan kediamannya sendiri. Dia memilih tinggal bersama Wanda dan Rinjani, sebelum akhirnya harus kembali bersama sang istri.


"Pak Adam?" Almira memanggilnya dari pintu dapur. "Tidak ada teh?" tanyanya. "Aku mau buat teh untuk yang lainnya."


Adam berpikir sejenak. "Ah, benar! Habis kemarin. Aku akan beli dulu. Kalian bisa jaga rumah kan?"


Almira tersenyum seadanya. Kepalanya mengangguk-angguk.


"Tolong jangan sentuh apapun. Jangan masuk sembarang ruangan, oke?" Adam memberi peringatan. "Ini tentang etika dan kesopanan," imbuh Adam.


Meskipun sedikit bingung, Almira hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan. Adam beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan rumah.


"Almira," bisik seseorang di samping Almira.


Almira menoleh. "Menemukan sesuatu?" tanyanya. Dia langsung memandang uluran tangan temannya itu. "Ini milik Luara?" tanyanya kemudian.


"Memangnya Pak Adam memakai jepit rambut?" kekeh temannya itu. "Aku akan cari lagi. Aku yakin ada sesuatu yang bisa kita temukan."


Almira menahan temannya untuk pergi. "Awasi saja pintu depan. Aku akan cari di kamar Pak Adam dan kamar yang itu," ucapnya sembari menunjuk pintu kamar Laura. "Aku yakin kita bisa menemukan banyak sepulang dari sini."


"Oke, Mir."


>>>><<<<

__ADS_1


Keesokan harinya.


"Mereka menikah?" Bu Bela menatap Almira yang berdiri di depannya. Dia masih belum percaya dengan informasi yang baru saja diucapkan Almira. Itu terdengar seperti omong kosong.


"Laura dan Pak Adam, guru sejarah baru?" Bela mengulang lagi. Kali ini kalimatnya lebih tegas. "Kamu pikir saya akan percaya dengan ...."


Bela terdiam ketika Almira meletakkan dua buku nikah dan beberapa barang bukti yang dia bawa sepulang dari rumah Adam kemarin.


"Ini cukup untuk membuktikan mereka tinggal bersama kan, Bu?" Almira tersenyum tipis. "Aku bahkan mengambil beberapa foto jika Bu Bela perlu."


Bela mengambil buku nikah itu. Mencocokkannya. Sesekali mendongak, menatap Almira. Mencoba mendeteksi kebohongan yang mungkin ada.


"Mereka harus dikeluarkan," ucap Almira tegas. "Kita tidak bisa diam saja ketika semuanya tahu jika ada guru yang menikahi muridnya."


Almira tersenyum manis. "Itu akan menjadi rumor hebat," bisiknya. "Aku dengar Laura juga pernah hamil di luar nikah dan dia mengugurkan kandungannya."


Bela memandang ke arah lain. Dia berusaha mengambil keputusan.


>>>><<<<


"Belen!" Laura berteriak lantang. Dia berjalan cepat menghampiri Belen yang berdiri menunggunya.


"Kamu kenapa?" tanya Belen bingung ketika Luara datang dengan wajah marah. "Ada masalah?" tanya Belen.


Laura tidak menjawab apapun. Dia menampar Belen dengan begitu keras. Tentu saja, Belen terkejut dibuatnya. Dia tidak salah apapun sebelumnya. Kesalahan tentang mencuri buku nikah Laura sudah dia selesaikan dengan Adam.


"Kamu menamparku?" tanya Belen sembari memegangi pipinya. "Kenapa kamu menamparku!" ketus Belen marah. "Aku melakukan kesalahan?"


Laura menggebu sampai tidak bisa berbicara. Sorot matanya memberi tembakan penuh amarah pada Belen.

__ADS_1


"Ah, soal aku mengutarakan perasaan sama Pak Adam?" tanya Belen lagi. "Kamu marah karena aku melakukan itu pada suamimu?" kekeh Belen. "Sekarang kamu menunjukkan rasa cinta yang besar."


Laura menamparnya lagi. Tak tanggung-tanggung, seluruh amarah dia keluarkan untuk Belen.


"Laura!" Belen berteriak semakin marah. "Jaga sikap kamu!"


"Kamu yang harus jaga sikap kamu!" Laura ikut berteriak. Dia memberikan layar ponsel pada Belen. "Ini ulah kamu kan?" tanyanya dengan ketus.


Belen mengerutkan keningnya. Berita tentang Laura dan Adam yang tinggal bersama sudah tersebar di forum sekolah.


"Kamu benar-benar akan berbuat sejauh ini, Bel?" tanya Laura. "Aku kira kamu adalah teman aku."


"Bukan aku!" jawab Belen meninggikan suara.


Laura ikut membentak "Lalu siapa!"


"Hanya kamu yang tahu tentang aku dan Pak Adam!" imbuh Laura. Dia semakin marah. "Hanya kamu orang bodoh yang mencintai Pak Adam, Belen."


"Aku bilang itu bukan aku!" Belen masih kokoh.


Laura menyeringai. "Berhenti bertindak polos!" Gadis itu mendekati Belen. Memukul kepalanya. "Aku muak sama kamu!"


"Laura!" Belen berteriak gila. Dia ikut mukul kepala Laura dengan keras. "Aku bilang bukan aku!"


Perkelahian tak bisa dihindarkan. Laura dan Belen menggila siang ini, menjadi tontonan teman-temannya. Tidak peduli, yang terpenting Laura bisa melupakan amarahnya sekarang.


Adam yang melihat perkelahian mereka langsung berlari. "Laura! Belen!" Dia berusaha melerai pertikaian keduanya. "Sudah! Lepaskan!"


Sayangnya, Adam malah terdorong jatuh. Kepalanya membentur pohon besar di samping mereka.

__ADS_1


Next.


__ADS_2