
Laura benar-benar keras kepala. Dia terjebak di kantor polisi hampir empat jam lamanya.
"Telepon Pak Adam!" Agnes terus mendesak Laura. "Dia pasti bisa membantumu." Dia melirik Laura. Tentu saja Laura berada di sini karena ulahnya, tetapi dia tidak merasa bersalah sedikit pun.
"Ra, aku harus pulang," ucap Agnes lagi. "Mamaku sudah menunggu." Dia menunjuk mobil yang terparkir di bahu jalan. "Dia pasti marah-marah kalau aku tidak segera datang."
Laura hanya memainkan ujung ponselnya. Gelisah menguasai dirinya.
"Kenapa kamu keras kepala?" tanya Agnes lagi. Dia menggerutu. "Aku harus ...."
"Kalau kamu mau pulang, pulang saja!" Laura tiba-tiba menyahut dengan ketus. "Lagian ini semua salahmu!"
Laura memandang gadis di depannya tajam. "Kalau saja kamu tidak memasukkan narkoba itu ke dalam tasku, aku tidak akan berakhir di sini!"
"Siapa juga yang menduga kalau polisi akan tahu?" tanya Agnes. Dia tidak mau disalahkan. "Aku hanya bantu kekasihku."
"Sekarang kekasihmu tidak bisa membantu kita!" Laura semakin kesal. "Dia hanya ****** sialan!"
Laura menggerutu pelan. Dia kembali menghela napasnya panjang. Laura memalingkan wajahnya, sungguh hari yang menyebalkan.
Laura diperlakukan tidak baik. Berulang kali dirinya dipaksa untuk tes urin. Polisi tidak mau mempercayai dia begitu saja. Namun, bukti menandakan bahwa Laura benar-benar gadis yang bersih Jika disangkut pautkan dengan barang terlarang seperti ini.
"Laura!" Seseorang memanggil namanya. Laura menoleh begitu suara langkah kaki terdengar mendekatinya.
Agnes menoleh. "Itu tantemu?"
Laura berdiri di tempatnya. Ternyata pesannya dibaca oleh Tante Danira. Laura berpikir kalau dia akan bermalam di kantor polisi, sebab dia tidak punya siapa-siapa di Jakarta.
"Laura!" Danira terengah-engah. "Maafkan, Tante. Tante baru baca pesannya."
Laura memberi kode pada Agnes untuk pulang lebih dulu. Dia sudah tidak perlu ditemani lagi.
"Sorry, ya, Ra. Nanti kita bicarakan masalah ini lain kali kalau ketemu lagi, aku akan ganti rugi," gumam Agnes, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Laura.
__ADS_1
Laura menundukkan pandangan kepalanya. Dia tak berani menatap Danira.
"Apa yang terjadi?" tanya Danira. Dia menatap penampilan Laura dari atas sampai bahwa. "Kenapa kamu bisa berakhir di tempat seperti ini?"
"Sebentar lagi tengah malam," ucap Danira penuh kekhawatiran. "Kamu itu ...." Danira menutup kalimatnya. Dia hanya bisa menghela napas kasar. Dia tersenyum kecut. "Sudahlah. Tante mau bicara sama polisi. Kamu tunggu di sini."
Danira meninggalkan Laura kemudian.
>>>><<<<
Satu jam berlalu, tengah malam benar-benar terlewat. Jalanan sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Tentu saja transportasi umum akan sangat sulit ditemukan.
Danira mendahului Laura.
"Tante Danira?" Laura berusaha untuk mencegah kepergian Danira. "Tante, dengarkan Laura dulu."
"Laura tahu kalau Laura salah," ucapnya. Dia berusaha menghadang langkah Danira. "Laura bisa menjelaskan ini semua. Laura tidak pernah ...."
Danira mendengus kesal, sedangkan gadis yang ada di depannya kembali menunduk. Laura menyadari kesalahannya hari ini. "Namun, apa ini?"
"Laura! Tatap aku!" Danira membentak. "Tante sedang berbicara sama kamu!"
Laura memberanikan diri untuk menatap Danira.
"Kenapa kamu masih pergi ke tempat seperti itu?" tanya Danira. "Orang tua kamu sudah tidak ada, kamu tinggal seorang diri dan aku tidak bisa mengurus kamu sepanjang waktu ...." Danira berbicara sembari mengerutkan keningnya. Jelas sekali jika dia merasa khawatir, melihat Laura begini rasa bersalahnya semakin besar.
"Intinya, keadaan kamu sudah berbeda dari dulu, Laura!" ketus Danira. "Kamu tahu apa yang aku maksudkan?"
Laura manggut-manggut.
"Berhentilah berteman dengan orang-orang seperti itu, melakukan hidupmu secara normal layaknya seperti anak-anak yang lain," imbuh Danira. "Kamu harus berubah, Laura."
Laura menggelengkan kepalanya. "Hidup seperti layaknya orang normal?" Dia tersenyum seringai. "Katakan bagaimana caranya hidup seperti orang normal setelah semua yang terjadi?"
__ADS_1
"Aku sebatang kara di Jakarta, aku kehilangan mimpiku," ucap Laura. Jika sudah membahas tentang itu, hatinya sakit.
"Lalu tiba-tiba Tante berbicara tentang hidup dengan normal?" Laura tertawa gila. "Tante Danira."
"Berhenti untuk menyalahkan orang-orang di sekitar kamu, Laura!" ketus Danira. "Bercerminlah pada dirimu sendiri," ucapnya.
Laura hampir menjawab. Namun, Danira menyahut lagi. "Papamu sudah memberikan orang yang baik untuk menjagamu setelah dia meninggal nanti, keputusan papamu sudah benar, Laura."
Laura diam. Tubuhnya merinding seketika, bukan sebab angin malam yang menggigit.
"Kamu pikir papamu akan memberikan suami sembarangan untuk menjagamu setelah dia pergi?" tanya Danira.
Danira menarik tangan Laura. "Adam adalah orang yang dipilihnya, Laura!"
"Aku saja percaya dengan pilihan papamu, kenapa kamu malah menceraikannya dan menuduhnya seperti itu?" tanya Danira sembari menautkan alis. "Kamu keterlaluan, Ra."
Laura meneteskan air mata.
"Sekarang rasakan imbasnya. Rasakan penyesalan yang bisa kamu rasakan, Laura," tutur Danira. "Kamu menyia-nyiakan bantuan dari Tuhan, sekarang kamu malah menyalahkan Tuhan," pungkas Danira.
Danira melepaskan genggaman tangannya. "Ini adalah terakhir kalinya aku membantu kamu, aku tidak akan datang jika kamu terlibat masalah seperti ini lagi."
Laura menggeleng dengan mantap. "Tante?"
"Aku tidak mau keluargaku hancur hanya karena aku membantumu, Laura," tukas Danira. "Suamiku marah-marah ketika dia tahu aku mau pergi ke kantor polisi malam ini," ucapnya lagi. "Aku berjanji padanya kalau ini yang pertama dan terakhir kalinya."
Laura semakin jelas menangis.
"Mulai sekarang kamu harus lebih dewasa, Laura." Danira meraih bahunya. "Bukannya aku mau menelantarkan kamu, tetapi kamu bukan putriku yang harus aku prioritaskan, Laura. "
"Tante harap kamu mengerti itu," pungkas Danira.
Next.
__ADS_1