
"Kamu berhasil menggugurkan kandungannya?" Seseorang menepuk pundak Daffa. Dia tersenyum manis padanya. "Kamu hebat sekali."
Daffa menoleh. "Sudah aku bilang, aku akan mendapatkan Laura lagi," imbuhnya. "Aku akan segera melunasi hutangku sama kamu."
Lelaki itu menyungging senyum. "Kamu yakin setelah ini dia akan menerimamu lagi?" tanyanya. "Jangan lupa kalau dia masih punya suami."
Daffa manggut-manggut. "Aku akan merebutnya," ujar Daffa dengan tegas. "Aku akan merebut Laura lagi."
"Sepertinya suami Laura tipe pria yang keras kepala. Aku yakin dia tidak akan menyerahkan Laura begitu saja, meskipun anaknya sudah tidak ada dalam kandungan Laura," tuturnya dengan yakin.
Daffa terkekeh. "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang," gumamanya. "Aku atau dia."
>>>><<<<
"Pelan-pelan." Adam membantu Laura duduk di atas ranjang. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang tebal.
"Mau aku ambilkan teh hangat?" Adam menawarkan dengan begitu perhatian. "Kamu tunggu di sini dulu."
Adam hendak pergi dari hadapan Laura, tetapi gadis itu menghentikannya. Adam menoleh dan menatap wajah pucat Laura.
"Aku ...." Laura melirihkan suara. "Minta maaf," gumam Laura pada akhirnya. Sejak tadi dia menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya.
"Aku yang ceroboh dalam hal ini." Laura menunduk. "Seharusnya aku lebih berhati-hati."
Adam tidak jadi pergi dari hadapannya. Dia kembali duduk di depan Laura. "Jika kamu merasa begitu, maka mulai sekarang kamu harus jauh lebih baik."
__ADS_1
"Aku tidak menuntut kamu untuk berubah sepenuhnya, Ra." Adam tiba-tiba meraih tangan Laura dan menggenggamnya. "Aku hanya ingin setiap tingkah laku kamu, kamu memikirkan tentang anakmu yang sudah tiada."
Adam mengusap punggung tangan Laura. "Aku tahu fakta seperti ini tidak seharusnya kamu dapatkan di usia yang begitu muda, tetapi aku harap ini bisa jadi sesuatu yang mendewasakan kamu."
Laura tidak bereaksi. Sesekali dia masih merasakan penyesalan dalam dirinya sendiri.
"Pak Adam, bagaimana dengan kelanjutan pernikahan kita?" Laura bertanya tiba-tiba. Dia sudah tidak sabar untuk terbebas dari pernikahan ini. Laura ingin sekali mendapatkan kehidupannya yang dulu.
Adam tersenyum. "Apanya yang bagaimana?" tanyanya dengan lembut. "Semua akan berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang berubah."
Laura menggelengkan kepalanya. "Tidak ada lagi alasan Pak Adam menahanku dalam pernikahan ini, bukan?"
Adam teringat dengan janjinya sendiri, bahwa dia akan melepaskan Laura jika tidak ada lagi kehamilan dalam perutnya.
"Itu yang Daffa janjikan padamu?" Adam menimpali dengan raut wajah serius.
Laura diam.
"Daffa bilang begitu padamu?" Adam mengulang kalimatnya lagi. "Laura, aku tidak akan menceraikan kamu tanpa alasan yang jelas."
Ternyata tidak semudah yang Laura pikirkan. Adam jauh lebih keras kepala dalam mempertahankan rumah tangganya.
"Lagian sekarang ini kamu juga masih dalam keadaan seperti ini. Aku tidak mau kita membahas hal-hal yang merugikan untuk kesehatanmu." Adam berusaha untuk lebih hangat pada Laura.
Mungkin dia tidak melihat respon umum seorang wanita yang kehilangan kandungannya pada diri Laura, tetapi dia hanya meyakini satu fakta bahwa Laura sedang menyembunyikannya. Sejak awal gadis ini memang selalu saja sok kuat.
__ADS_1
"Kamu istirahat saja. Aku akan buatkan teh hangat dan masakan kuah hangat untukmu malam ini." Adam tersenyum lagi. "Kamu tunggu di sini."
"Aku tidak lapar," jawab Laura dengan mantap.
Adam berhenti di tempatnya lagi. "Kalau begitu aku siapkan teh."
"Aku juga tidak haus." Laura berubah lebih ketus dari sebelumnya. "Aku hanya ingin istirahat aja. Pak Adam tolong tutup pintunya."
Adam manggut-manggut paham. Senyumannya terkesan dipaksakan. Adam keluar dari kamar Laura, menutup pintunya dengan hati-hati agar tak meninggalkan suara berarti.
Hendak pergi ke kamarnya, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu. Adam melirik jam dinding yang menandakan lewat tengah malam.
"Siapa yang malam-malam bertamu?" tanya Adam. Dia bergumam sembari menuju ambang pintu.
Adam membuka pintu. Alangkah terkejutnya dia saat melihat Nurwa berdiri di ambang pintu sembari menangis.
"Nurwa?" Adam menatapnya penuh khawatir. "Ada apa?"
"Mas Adam ... ayo menikah!" tandas Nurwa tiba-tiba. "Kita harus menikah."
Next.
note : rekomendasi novel keren lainnya untuk kalian^^
__ADS_1