Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
52. Cinta Penuh Luka (2)


__ADS_3

"Itu tadi Daffa kan?" tanya Belen lagi. Dia memaksa Adam untuk menjawab. "Ada kabar dari Laura juga?"


Adam menggelengkan kepalanya. "Kamu masuk kelas saja. Bilang sama teman-teman kamu untuk belajar sendiri dulu, nanti Bapak akan beri tugas lewat pesan."


Adam beranjak, dia meninggalkan Belen di tempatnya. Namun, Belen tidak membiarkan Adam pergi begitu saja. Dia menarik tangan Adam, membuatnya berhenti.


"Pak Adam kenapa panik begitu?" tanya Belen penuh curiga. "Pak Adam akrab dengan Daffa?"


Adam menghela napas. "Aku harus menjawab semuanya di sini? Sekarang?"


Belen manggut-manggut. "Tidak sulit untuk jawab iya atau tidak," katanya. Belen tersenyum manis.


Adam membuang muka. Helaan napas sedikit lebih berat dari sebelumnya.


"Pak Adam?" Belen keras kepala. "Pak Adam ada hubungan apa sama Daffa?"


"Kamu bukan siapa-siapa!" bentak Adam tiba-tiba. Dengan kasar, dia melepaskan genggaman Belen. "Tolong jaga sikap kamu sama gurumu, Belen."


Belen terdiam. Dibentak Adam membuat hatinya terluka. "A--aku hanya ...." Dia gagap di tempatnya.


"Selama ini aku baik padamu bukan karena kita bisa menjadi teman dan setara, Belen." Adam menceramahi Belen tiba-tiba. "Kamu jangan melewati batasan sebagai murid."


Adam menunjuk tangan Belen. "Menyentuh guru di luar keperluan pembelajaran adalah bentuk ketidaksopanan," balas Adam lagi.


Belen tak berkutik. Dia hampir menangis jika Adam membentaknya sekali lagi. Untung saja, Adam pergi setelah itu. Dia tak peduli jikapun Belen menangis karenanya siang ini. Nyatanya, keadaan Laura lebih penting untuk dipikirkan.


"Dia jahat sekali," gumam Belen mengusap air matanya. "Sebenarnya apa hubungan Pak Adam dengan Daffa?"


>>>><<<<

__ADS_1


Hampir satu jam berlalu, Adam menemukan klinik yang dimaksudkan Daffa dalam pesan singkatnya. Adam mulai mencari-cari di mana keberadaan Laura saat ini.


"Suster, di mana Laura?" Adam terlihat panik. "Katanya dia masuk klinik ini dalam keadaan pendarahan hebat."


Suster itu mengangguk. "Biar saya periksa dulu ya, Pak."


"Iya, benar. Ada pasien yang datang setelah dikeroyok preman." Suster itu menatap wajah Adam yang terkejut. "Kalau boleh tahu, Bapak ini walinya siapa? Yang anak laki-laki atau yang anak perempuan?"


Adam diam sejenak, dia menatap suster di depannya tak percaya.


"Suster bilang kalau dia dikeroyok preman?" Adam mengulang pernyataan itu. "Siapa yang dikeroyok?"


"Dua-duanya, Pak. " Suster itu tersenyum. "Bapak mau saya antarkan ke ruang rawatnya?"


Adam menggelengkan kepalanya. "Saya akan ke sana sendiri." Dia menjawab dengan tegas. "Di mana ruangannya?"


"Atas nama siapa?" tanyanya. "Saya akan mencatat sebagai wali."


>>>><<<<


Adam berlari lagi. Tenaganya benar-benar disita habis siang ini. Peluh keringat diabaikan membasahi keningnya. Yang terpenting, Adam bisa memastikan keadaan Laura tidak terlalu buruk.


Adam membuka pintu, ada Laura bersama dokter yang memeriksanya. Namun, fokus Adam tertuju pada punggung Daffa yang berdiri di sisi sofa.


"Pak Adam?" Sayup-sayup Laura melihat Adam datang. Dia masih lemas, tenaganya belum kembali seutuhnya.


Daffa menoleh. Dia menyambut Adam datang dengan keraguan. Adam pasti akan membunuhnya jika tau cerita yang sesungguhnya.


Benar saja, tanpa basa-basi Adam langsung menarik kerah baju Daffa dan menyeretnya keluar ruangan. Laura yang melihat itu berusaha untuk bangun dari tempatnya, tetapi dokter mencegah Laura.

__ADS_1


Di luar ruangan, Daffa hampir berbicara, meminta ampun. Mata elang Adam memblokir semua pergerakan Daffa.


"P--Pak A--Adam!" Daffa gelagapan. Adam menyeramkan dengan kemarahannya.


Tak banyak bicara, Adam meninju wajah Daffa. Padahal baru diobati, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


Adam kalut, dia tidak bisa mengontrol dirinya. "Sudah aku bilang padamu kan, bocah tengil!" ketusnya.


"Jangan mendekati Laura lagi!" Adam menarik lagi tubuh Daffa. "Kenapa masih ngeyel saja?" tanyanya dengan nada tinggi. Suara berat Adam menggema di ruangan.


Daffa mengedipkan mata beberapa kali. "Aku minta maaf, Pak Adam."


"Bagaimana jika Laura mati karena kamu?" Adam berteriak lantang. Tinju kembali ia berikan untuk Daffa. Pemuda itu ambruk ke lantai.


Adam menariknya lagi, memaksa Daffa untuk berdiri. "Mau aku laporkan ke polisi?" tanyanya. "Laura itu Istriku, jadi kamu bisa dituntut atas itu."


Daffa tak menjawab, tiba-tiba Laura keluar dari dalam ruangan dengan terhuyung-huyung. "Pak Adam ...."


"Lepaskan Daffa," perintah Laura dengan lirih. Sekuat tenaga dia berjalan, diikuti dokter yang berusaha memaksa Laura untuk kembali ke ranjangnya.


Adam mendorong tubuh Daffa, menjatuhkannya lagi ke lantai.


"Laura!" Adam mendekatinya. "Kenapa malah keluar, kamu harus istirahat."


Laura mengabaikan Adam dengan mendorong tubuhnya, memberi jalan pada Laura untuk menghampiri Daffa.


Adam tak bisa berbuat banyak ketika Laura memilih peduli pada Daffa. Dari jauh, dia hanya melihat sepasang remaja bodoh yang saling menangisi keadaan.


Adam menghela napas. "Kenapa dia bodoh sekali," gumamanya. Hati Adam terluka ketika melihat Laura memeluk Daffa dalam isak tangis yang menggema di ruangan.

__ADS_1


"Aku lari ke sini karena mencemaskan dia dan aku adalah suaminya," gumam Adam. Dia menatap Laura lagi. "Tapi dia malah memeluk dan mengkhawatirkan bajingan itu?"


Next.


__ADS_2