Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
98. Malam Resah


__ADS_3

"Apa yang aku lakukan?" Laura berbicara seorang diri sembari menatap pantulan bayangan wajahnya di atas cermin. "Kenapa aku harus mengatakan itu semua?"


Laura tidak ingin menyesali apapun, semuanya sudah terlanjur. Akan tetapi, setelah Nurwa pergi dari rumahnya, dia mulai merasa resah tanpa alasan.


"Apa aku terlalu percaya diri?" Laura menunjuk dirinya sendiri. "Berpikir kalau Pak Adam menyukaiku atau semacamnya?"


"Wah! Laura, kamu terlalu percaya diri," gumamnya sembari tertawa kecil. "Kamu akan malu nantinya jika begini terus."


Laura menghentikan monolognya. Dia menyalakan kran air, hendak membasuh wajahnya. Namun, ketukan pintu kembali terdengar. Laura menoleh ke ambang pintu kamar mandi. "Nurwa balik lagi?"


Laura berjalan ke ambang pintu utama. "Awas kalau balik lagi," gerutunya. "Aku berharap dia kapok datang ke sini."


Suara ketukan itu semakin jelas terdengar. Laura bergegas membuka pintu. Alangkah terkejutnya dia, bukan Nurwa yang kembali datang dan bertamu. Namun, Daffa. Pemuda brengsek yang meninggalkan yang begitu saja.


"Laura?" Daffa tiba-tiba memeluknya. "Aku merindukan kamu!" Dia merengek seperti bayi.


Laura terdiam di tempatnya. Dia mencoba untuk berpikir jernih. Tiba-tiba Daffa datang, tak ada angin tak ada hujan.


"Daffa?" Laura melirih. Dia berusaha melepaskan pelukan mereka. "Kamu mabuk?" Laura mencium aroma alkohol menyeruak ke dalam lubang hidungnya.


Sekarang dia tahu kenapa Daffa tiba-tiba bersikap begini. Dia teler.


"Lepaskan aku," ketus Laura. Dia mendorong tubuh Daffa menjauh darinya. Tatapan mata Laura meneliti penampilan mantan kekasihnya itu.


Daffa kacau. Pakaiannya lusuh, wajahnya sedikit babak belur.


"Kamu habis berantem sama siapa?" Laura bertanya sembari menatapnya ngeri. "Kamu kalah main judi lagi atau gimana?"


"Zyn ternyata sudah dijodohkan," ucap Daffa sembari merengek. Dia mendekati Laura. "Dia menipuku!"


Laura memicingkan mata, perlahan-lahan sudut bibirnya tersenyum. Dia puas melihat kehancuran Daffa sekarang.


"Terus? Apa hubungannya sama aku?" tanya Laura dengan ketus. "Kita sudah berakhir dan aku tidak mau ada urusan sama kamu lagi."

__ADS_1


Laura menghela napasnya panjang. "Jadi lebih baik kamu pergi dari sini, aku nggak mau meladeni kamu!" ketusnya.


Laura hendak menutup pintu, tetapi Daffa tiba-tiba berlutut di depannya. "Aku mohon maafkan aku, Ra!"


Laura memalingkan wajah.


"Aku tahu kalau aku salah. Aku tahu kalau aku tiba-tiba pergi ninggalin kamu gitu aja," ucapnya. Daffa terus memohon. "Aku khilaf saat itu. Makanya aku datang ke sini untuk memohon lagi padamu, Ra."


Keduanya saling pandang, Laura seperti orang yang hampir terhipnotis. Mau bagaimanapun, cinta pertama selalu punya tempat tersendiri dalam hati seseorang.


"Aku mohon beri aku kesempatan kedua, Ra!" Daffa merengek. "Aku janji kalau aku tidak akan mengecewakan kamu lagi. Tolong aku," ucapnya.


Laura menggigit bibir bawahnya. Dia tidak benar-benar membenci Daffa, cintanya masih tersisa di dalam hati Laura.


"Ck, sialan," gerutu Laura. Dia menghela napas panjang. "Masuklah. Di luar dingin banget," ucapnya tiba-tiba.


Daffa tersenyum sesaat setelah mendengar kalimat itu.


>>>><<<<


"Kenapa kamu tidak berpikir sekali saja tentang perasaannya juga?"


"Bukan aku yang menyiksa dirinya, tetapi kamulah. Mau mendesaknya untuk menikahi kamu, padahal dia tidak pernah menyatakan perasaan cinta padamu."


Nurwa berjalan gontai. Setiap langkahnya, tidak ada semangat dalam dirinya. Kalimat Laura tertanam di dalam kepalanya.


Dia hendak sampai di rumahnya, hanya tinggal beberapa langkah lagi. Pagar hijau sudah terlihat di depan mata, dia mulai merasakan kesunyian yang kembali dia dapatkan. Setelah ayahnya dirawat di rumah sakit, Nurwa tinggal seorang diri di rumah ini. Kadang kala dia bergantian dengan ibunya.


"Nurwa!"


Nurwa mengenal suara itu. Adam adalah orangnya.


"Kamu dari mana saja?" Adam memandangnya khawatir. "Tadi aku mampir ke rumah sakit, ternyata kamu belum pulang kerja."

__ADS_1


Adam berdiri di depan Nurwa setelah berlari menghampirinya. "Aku pikir kamu lembur, jadi aku berniat untuk menjemput kamu di tempat kerja. Namun, kata pemilik konveksinya, kamu sudah pulang sejak hampir tiga jam yang lalu."


Nurwa tidak membalas kalimat Adam. Dia hanya memandang laki-laki itu dengan penuh tanya.


Impian Nurwa memang dikhawatirkan oleh laki-laki begini, tandanya bahwa dia memperhatikan Nurwa. Akan tetapi, malam ini dia mengecualikan kekhawatiran Adam dari impiannya.


"Kenapa malah diam saja?" Adam memandang Nurwa. Raut wajahnya berbeda. "Ada ... masalah? Kenapa menatapku begitu?" tanyanya. Adam menyadari cara menatap Nurwa yang asing baginya.


Nurwa memaksakan senyum. Matanya pedih kalau mengingat kata-kata Laura yang berhasil menamparnya tadi.


"Aku mau tanya sesuatu sama Mas Adam," ucap Nurwa pelan. "Boleh?"


Adam manggut-manggut. "Tanya apa?"


"Pernah sekali saja, Mas Adam memikirkan aku?" tanyanya.


Adam manggut-manggut. "Tentu saja. Aku terus memikirkan kalian. Kamu, ibu, dan abah. Semuanya."


Nurwa menggelengkan kepalanya. "Bukan sebagai teman masa kecil, tetapi sebagai wanitamu."


Adam terdiam. Keningnya terlipat samar. "Kamu ini ngomong apa, Nur?" Adam menggelengkan kepalanya. "Aku nggak paham."


Adam berjalan mendekatinya lagi, tetapi Nurwa melangkah mundur. Seakan ingin menjaga jarak dengannya.


Adam heran dengan tingkahnya malam ini. "Sepertinya memang sesuatu sudah terjadi, katakan ada apa?"


"Aku akan menjelaskan jika ada kesalahpahaman di antara kita." Adam mulai penasaran. "Kalau kamu masih marah karena aku lupa tentang janji kita beberapa hari yang lalu, aku sudah janji untuk mengatur ulang waktunya."


"Jadi ...."


"Mas Adam mencintaiku?" tanya Nurwa tiba-tiba. "Sekali saja, Mas Adam pernah mencintaiku sebagai seorang wanita?"


Adam terdiam. Apa ini? Dia hanya cukup menganggukkan kepalanya bukan? Nurwa membutuhkan respon itu. Namun, anehnya Adam tidak bisa. Pikirannya tiba-tiba terlintas nama Laura.

__ADS_1


Next.


__ADS_2