
"Adam?" Suara Wanda menarik fokus Adam datang padanya. Wanita itu mendekati Adam yang sedang memakai sepatu kerjanya.
Dia tersenyum manis. Duduk di samping Adam. "Jangan lupa bawa payung. Nanti sore pasti hujan lagi," ucap Wanda setengah senyum. Dia melirik Adam, sesekali memandang ke arah yang lain.
Adam mengangguk paham. Dia sudah tahu kedatangan Wanda kali ini, bertujuan untuk apa?
"Boleh aku tanya padamu, Nak?" Wanda mengusap punggung Adam lembut. "Aku tahu kalau kamu tidak ingin membicarakan ini sekarang, tetapi aku harus segera mengusir rasa penasaranku."
Adam hanya tersenyum tipis. Kepalanya mengangguk seakan memahami rasa penasaran Wanda.
"Tentang Laura," ucap Adam. Dia memulai. Beginilah caranya menjadi laki-laki. Dia harus berani bertanggung jawab. "Aku minta maaf, Bu."
"Kenapa harus minta maaf?" Wanda masih lemah lembut. "Kamu hanya ingin menolongnya, bukan?"
Adam manggut-manggut. "Kemarin malam aku mendapat pesan dari Tante Danira. Dia bilang Laura sendirian di halte dekat kantor polisi."
"Laura tidak mau pulang bersama Tante Danira dan suaminya. Jadi mereka terpaksa meninggalkan Laura di sana," ucapnya lagi. Adam berusaha menjelaskan. "Jam segitu, tidak akan ada bus kota yang melintas. Jadi aku datang dan menjemputnya."
"Kamu khawatir sama dia?" Wanda bertanya lagi. Sekarang bersama dengan pandangan matanya. "Sebesar apa?"
Adam terdiam cukup lama. Dia memandang wanita yang ada di sampingnya itu saksama.
"Kenapa malah diam? Pertanyaan itu sulit untukmu, Dam?" Wanda tersenyum tipis. "Baiklah jika itu sulit. Tidak perlu dijawab. Aku hanya ...."
"Bu Wanda sebenarnya mau bilang apa?" Adam mendapati maksud tersembunyi dari Wanda. "Aku akan berangkat kerja kalau tidak ada," ucapnya.
__ADS_1
Wanda cukup menahan semuanya ini sampai di sini. Dia memang bukan ibu kandung Adam, tetapi dia tahu bagaimana Adam hidup dan caranya memperlakukan wanita. Adam tidak sembarangan. Ayah dan ibunya selalu berkata padanya untuk menjunjung tinggi kehormatan kaum hawa.
"Kenapa kamu menikahi Laura saat itu?" tanya Wanda tiba-tiba. Dia menoleh. "Hanya karena perjodohan tak langsung mendiang orang tuamu?"
Adam tak menjawab.
"Kamu bisa menolaknya, Dam. Itu tidak formal. Tidak ada perjanjian apapun, mendiang orang tuamu juga akan tahu kenapa kamu memilih tidak menikahi Laura."
"Aku iba padanya, Bu." Adam menjawab pada akhirnya. "Aku ingin bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku merasa aku bisa melakukan itu."
Adam menundukkan kepalanya. "Sayang sekali, aku gagal."
Wanda menghela napas cukup berat. Diraihnya tangan Adam dan digenggam dengan erat. "Kalau Nurwa?" tanyanya.
Adam kembali memandang Wanda.
Jujur, Adam tidak punya alasan. Dia hanya ingin bertanggung jawab atas kata-katanya dan janjinya sendiri. Namun, dia tahu kalau itu tidak bisa digunakan sebagai alasan. Itu sudah tanggung jawabnya sebagai laki-laki.
Wanda tiba-tiba saja tertawa, padahal Adam tidak berbicara apapun. Tentu saja ada heran karenanya.
"Ada yang lucu, Bu?" tanya Adam. Dia mengerutkan keningnya. "Aku rasa ... aku belum bilang apa-apa tadi."
"Yang lucu itu kamu." Wanda menatap Adam lagi. "Kamu dengan tegas menjawab alasan kamu menikahi Laura, tetapi kamu tidak bisa menjawab Ketika aku bertanya tentang Nurwa?"
"A--aku ...." Adam gagap.
__ADS_1
"Kamu hanya tinggal mengatakan isi hatimu, seperti saat kamu menjelaskan keadaanmu tentang Laura." Wanda memiringkan tubuhnya. Senyum tidak pernah absen dari wajah tuanya.
"Dam, dengarkan ibu." Wanda mulai serius, sedangkan Adam menatapnya masih belum sepenuhnya paham. "Menikah itu bukan tentang janji saja," ucapnya.
"Ibu tahu kamu hutang janji pada Nurwa dan abahnya bukan?" Wanda tak menebak asal. Melihat bagaimana cara ekspresi Adam merespon, tebakannya sudah pasti benar.
"Jika kalian menikah, maka kalian akan hidup bersama. Selamanya, setiap hari, tanpa jeda." Wanda menuturkan sembari terus mengusap punggung tangan Adam dengan lembut.
Dia menatap putranya, lalu tersenyum manis. "Pernikahanmu dan Laura gagal, tidak sepenuhnya salahmu atau tidak sepenuhnya salah Laura."
Adam menghela napas. "Kenapa malah membahas itu, Bu? Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan keputusanku untuk menikah dengan Nurwa."
"Tentu saja ada!" Wanda sedikit membentak, kali saja Adam berbicara separuh sadar.
"Adam, setiap hari kamu masih memikirkan Laura. Setiap kali ada sesuatu tentang gadis itu, kamu selalu saja terburu-buru. Kamu memprioritaskan dia, terlepas dari apapun." Wanda mulai mengulas apa yang terjadi. "Kamu pikir, Ibu tidak tahu?"
"Kalian berdua memang sudah memutuskan untuk tidak saling bertemu selama satu minggu terakhir ini, kamu juga berjanji akan melupakannya." Wanda berbicara lagi. "Kamu memang melakukan itu, berniat untuk fokus pada Nurwa. Namun, apa kenyataannya?"
Adam tidak bisa berkata-kata.
"Kamu bahkan rela pinjam mobil tetangga hanya untuk menjemput Laura." Wanda menutup kalimatnya. "Aku menyebutnya bukan rasa iba, Dam. Aku menyebutnya rasa cinta."
Adam memandang Wanda tanpa henti.
"Kamu masih mencintainya. Kamu mencintai Laura bukan Nurwa, Dam." Wanda berusaha menyadarkan Adam. "Lalu, kamu masih mau memaksa pernikahan kalian?"
__ADS_1
Wanda benar-benar mengakhiri. "Itu hanya akan melukai kalian berdua saja."
Next.