Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
25. Kehilangan Harta


__ADS_3

Rumah ini disita.


Laura hampir jatuh ketika dia berhasil membaca tulisan di depan pintu rumahnya. "Disita?" Gadis itu tak habis pikir, mau sejauh mana lagi semesta mengobrak-abrik takdirnya.


"Mereka benar-benar akan melakukan itu?" Laura bersimpuh di atas tanah. Dia membiarkan lututnya kotor dan terluka.


"Sekarang aku harus pergi ke mana?" gumamnya. Laura bahkan tak sempat untuk bernafas. Dia meninggalkan Adam begitu perdebatan mereka selesai.


Laura tak mau peduli, nyatanya Adam tidak mengejarnya.


Laura memberanikan diri untuk berjalan mendekati ambang pintu. Semua barang-barang miliknya berserakan. Menandakan kalau dia memang bukan pemilik rumah mewah ini lagi.


Laura menunduk, hatinya sakit. Dia sendirian, ditinggalkan banyak orang yang dulu ada di sisinya. Sekarang Laura hanya bisa meratapi nasib. Perlahan-lahan dia memunguti semua pakaian dan barang-barangnya. Memasukkan ke dalam koper miliknya.


"Papa dan Mama benar-benar jahat," gerutu Laura di sela isak tangis. "Bagaimana bisa mereka pergi begitu saja dan meninggalkan semua ini, huh?"


Merengek memang tak ada gunanya. Rumahnya tidak akan kembali, keperawanan Laura juga tidak bisa didapatkan lagi, kehidupan bahagia tak ada dalam pandangan masa depan ... dan Adam, akan terus menghantuinya sebagai suami Laura.


Laura menyeka air mata. "Sekarang aku harus pergi ke mana?" Dia melirik jam tangannya. "Ke Bandung? Menyusul Tante Danira?" Laura tersenyum picik. "Aku bahkan tidak punya uang sebanyak itu."


"Kamu tinggal sama aku," ucap Adam tiba-tiba datang.


Laura mendongak. Adam jelas menuju ke arahnya.


Adam mengulurkan tangannya. "Bangun, kita pulang sekarang."


"Kamu puas kan?" Laura tak menghiraukan Adam. "Kamu puas karena aku tidak punya orang selain kamu untuk diandalkan? Sesuai kata kamu tadi."

__ADS_1


Adam berjongkok, menyamakan tinggi dengan Laura. "Rumah kamu di sita, perusahaan papa kamu juga mulai diambil alih oleh pihak-pihak asing untuk melunasi hutangnya." Adam tak henti-hentinya menekan Laura secara halus. "Sekolah kamu juga akan kacau jika kamu terus kepala, Ra."


Laura menyeringai tipis. "Aku akan cari tempat tinggal sendiri!"


"Mau ke mana?" Adam menyahut. "Rumah Belen?"


Laura menganggukkan kepala. "Dia teman aku! Aku yakin dia akan memahami aku dan kondisiku."


"Lalu tentang kematian Papa dan Mama, kehamilan dan pernikahan kita ...." Adam melunak. "Apa yang akan kamu katakan padanya?"


Laura kalah lagi. Adam punya pemikiran yang jauh lebih baik dari si dungu Laura. Sayangnya, mereka bukan pasangan yang tepat.


Adam ikut mengemasi barang-barang Laura. "Kita tidak akan tinggal di rumah Bu Wanda."


Laura mengikuti semua aktivitas Adam. Sebenarnya ada banyak pertanyaan di dalam kepalanya, salah satunya adalah keterlibatan Adam dalam hidupnya secara Laura tidak sadari itu.


"Aku tidak mau," tolak Laura mentah-mentah.


"Rumahnya memang tidak mewah." Adam mengabaikan Laura. "Mungkin luasnya hanya satu ruang tamu di rumah mewah kamu ini," imbuhnya.


"Aku bilang aku tidak mau!" Laura masih kukuh. "Aku bilang aku tidak mau!" Dia hampir berteriak, tetapi pandangan mata Adam meredam suaranya.


"Setidaknya rumahnya bersih dan layak ditinggali." Adam tetap pada pendiriannya. "Aku membangunnya dengan seluruh harta warisan yang ditinggalkan mendiang orang tuaku."


Laura merapatkan bibirnya. Jari-jemarinya perlahan meremas tanah yang ada di bawahnya. Dia tidak peduli jika lukanya kotor karena itu.


"Kamu ini tuli atau gimana?" ketus Laura. "Aku bilang aku nggak mau tinggal sama kamu, Pak Adam!"

__ADS_1


Adam melunak sejenak. Dia menghela nafasnya. "Lalu?"


"Aku bilang aku akan cari tempat tinggal yang lain!" ketus Laura. "Aku akan cari penginapan yang murah untuk malam ini!"


"Kamu pikir aku sudah tidak punya uang?" kekeh Laura dalam kekesalan. "Aku anaknya orang kaya!"


"Orang kaya itu sudah tidak ada, Laura," balas Adam tegas. "Kamu bukan lagi putri raja. Kamu orang biasa sepertiku."


"Siapa kamu berani menghina aku?" tandas Laura. "Kamu bukan siapa-siapa!"


Adam memendam kekesalan. Laura memang sulit diatur, seperti kata mendiang Pak Faishal.


"Jadi kamu tidak mau tinggal di rumahku?" Adam mengulang, memberi pemahaman.


Laura manggut-manggut. "Kamu guru! Jadi harusnya kamu lebih pintar, Pak Adam."


"Baiklah." Adam melepaskan tangan dari baju Laura. "Bersihkan ini sendiri dan pergilah ke rumah teman kamu."


Adam merogoh pena dalam jaketnya. Menarik tangan Laura dan menuliskan sesuatu di atas pergelangan tangannya.


"Apa yang kamu lakukan!" ketus Laura, menarik tangannya lagi. Untung saja Adam sudah selesai menuliskan tujuannya.


"Itu alamatnya. Datang ke sana kalau kamu menyerah dengan ego kamu," tutur Adam lembut.


Adam menutup kalimatnya sebelum pergi. "Aku menunggumu, Laura."


Next.

__ADS_1


__ADS_2