
"Nurwa kemarin sudah mengabariku. Katanya kalian tidak bisa datang. Katanya, kalau kamu ada kerjaan lembur. Jadi, dia ingin mengganti hari temunya."
Adam berlari di lorong rumah sakit. Sejak tadi pagi dia mencari keberadaan Nurwa, tetapi dia tidak bisa menemukannya. Rumah sakit ini adalah harapan terakhirnya bisa berbicara dengan Nurwa.
"Nur!"
Tuhan memihak pada Adam. Saat dia datang kebetulan Nurwa keluar dari kamar rawat abahnya. Sepertinya gadis itu ingin menemui dokter dengan membawa catatan pemeriksaan abahnya.
"Nur!" Adam mendekati Nurwa. Dia terengah-engah. "Maafin aku."
Nurwa berdiri di depan Adam sembari memandangnya. Dia tidak berbicara sepatah kata pun. Jujur, ada rasa kecewa di dalam hatinya. Adam menghilang begitu saja. Dia mengabaikan pesan dari Nurwa, juga tidak mengangkat panggilannya.
"Aku ada urusan mendadak. Aku sampai lupa kalau kita ada janji." Adam tidak mungkin berbicara jujur apa adanya, meskipun dia juga enggan untuk berbohong. "Maafin aku, sekali lagi."
Nurwa memaksakan senyum melengkung di atas bibir merah mudanya. "Nggak masalah, Mas." Dia mengusap punggung tangan Adam. "Aku paham, kok."
Adam mencoba untuk mengatur napas. "Kemarin aku menginap di rumah ...."
"Aku menelepon Surya," sahut Nurwa tiba-tiba. "Aku penasaran apa Mas Adam ada di sana," imbuhnya.
Perasaan Adam mulai was-was. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Bahkan kebohongan saja terasa sangat sulit untuk dikatakan.
"Kalian memang bersama." Nurwa menambah. "Sepertinya kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, sampai-sampai ketiduran di rumah temanmu, Mas."
Seharusnya Adam tidak bersyukur dan berterima kasih, tetapi dia melakukannya dalam hati. Siapa pun yang sudah membantunya, kebohongannya terasa begitu mudah.
"Kita bisa mengubah janjinya hari ini, bagaimana?" tanya Adam. "Aku akan mengosongkan jadwal hari ini. Aku janji."
Nurwa menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Mas."
__ADS_1
"Lagian aku hari ini sedikit sibuk. Ibu ada panggilan kerjaan dan harus membantu majikannya. Jadi aku harus menjaga abah sepanjang hari." Nurwa menjelaskan. "Aku tidak tega meninggalkan abah sendirian."
Adam menghela napas. Dia manggut-manggut. "Ah, begitu rupanya."
"Kalau begitu katakan padaku jika kamu sudah mengatur waktunya. Aku akan mencoba untuk menyesuaikan." Adam berusaha membangun kepercayaan Nurwa Lagi, meskipun dia tahu Nur wah sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tentu, Mas. Nanti aku kabari kamu." Perempuan itu menjawab dengan lembut. "Sekarang aku mau menemui dokter dulu. Aku harus berdiskusi tentang keadaan abah."
"Mau aku temani?" Ada menawarkan. "Kebetulan aku ada jam sore hari ini. Jadi aku bebas sampai nanti pukul empat sore."
Nurwa manggut-manggut. "Boleh, Mas."
>>>><<<<
Laura tidak fokus. Dia hanya menghabiskan jam istirahatnya dengan duduk sembari melamun, membiarkan semangkuk bakso tidak lagi mengeluarkan asap di udara.
"Ah, kenapa aku kepikiran terus?" Laura menggerutu di tempatnya. "Masa bodoh dia mau menikah dengan siapa! Kenapa aku jadi memikirkannya?"
"Itu karena kamu mencintainya." Belen datang. Dia membawa semangkuk mie ayam dengan porsi besar. "Mencintai Pak Adam," kekehnya.
"Jangan sok tahu!" Laura memprotes. Sekarang dia mulai terbiasa dengan suasana seperti ini di sekolah. Tidak lagi menarik perhatian banyak orang, menjadi penghuni kantin dengan menu makanan murah seperti ini.
"Kalau aku mencintainya, harusnya sejak kali pertama kita menikah." Laura tidak terima atas tuduhan temannya itu. "Kenapa harus sekarang?"
"Cinta terkadang datang terlambat." Belen menimpali. Dia melirik Laura, lalu kembali pada semangkuk mie ayam di depannya. "Kadangkala setelah tragedi terjadi, itulah yang disebut penyesalan."
Belen tertawa kecil lalu memasukkan gulungan mie ayam ke dalam mulutnya.
Laura mendengus. "Aku bilang jangan sok tahu. Kamu bahkan tidak pernah terlibat percintaan, gimana bisa ceramah begitu?"
__ADS_1
"Itu bukan hal yang aneh." Gadis itu menatap Laura dengan jeli. "Kebanyakan siklus percintaan selalu seperti itu."
Laura terdiam di tempatnya.
"Mencintai setelah tragedi terjadi." Belen tersenyum puas. Dia menelan mie ayam yang penuh dalam mulutnya. "Kamu hanya tidak mau mengakuinya saja. Kamu berada di fase gengsi sekarang."
Laura hampir memukul kepala Belen, tetapi dia menahan tangannya sendiri. Belen ada benarnya.
"Laura," panggil Belen. "Kenapa tidak mencoba untuk mengakui perasaanmu saja? Alih-alih terus berusaha untuk menolaknya?"
"Aku tidak punya perasaan apapun!" Laura masih membantah. "Mungkin saja aku sedang bingung karena mendapati Pak Adam tiba-tiba mau menikah. Nanti juga hilang seiring berjalannya waktu."
Belen tertawa mendengar alasan Laura yang baginya tidak masuk akal.
"Cobalah untuk merasakannya." Dia masih kokoh pada pendirian dan kepercayaannya. "Lakukan apa yang ingin hatimu lakukan, maka kamu akan menemukan jawabannya."
"Jawaban tentang apa?" Laura memprotes. "Aku tidak butuh jawaban apapun."
"Jawaban tentang kelanjutan hubunganmu dan Pak Adam," ucap Belen. "Kamu bisa memperjuangkannya atau berhenti sampai di sini."
"Pak Adam itu mau menikah!" gerutu Laura. "Aku tidak mau punya urusan dengan laki-laki yang mau menikah."
"Hampir menikah!" Belen memberi penekanan. "Belum menikah. Artinya dia belum punyanya siapa-siapa."
Laura memandang temannya.
"Maksudku, Jika kamu mencintainya lagi karena dia adalah mantan suamimu ... itu adalah wajar, Laura." Belen menyakinkan. "Kamu hanya tinggal merasakannya saja."
Laura mendengus. "Aku ...."
__ADS_1
"Berhenti bersikap seolah-olah kamu mengenal dirimu sendiri. Kamu tidak pandai melakukannya." Belen mengakhiri kalimatnya. "Ikuti saja apa kataku, nanti kamu akan tahu jawabannya," pungkasnya.
Next.