
Pernikahan Laura dan Adam.
Laura tidak menyangka kalau dirinya akan terjebak dalam sebuah pernikahan bersama dengan pria yang baru dia kenal beberapa hari lalu. Adam mengucapkan janji suci, di depan ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Tidak ada yang bisa menolongnya, Laura seperti menyerahkan dirinya sendiri dalam kehidupan yang akan membelenggunya mulai hari ini.
"Sah!" Penghulu mengucapkan kalimat penentu kehidupan Laura. Dia bukan lagi gadis SMA, yang bebas pergi ke mana saja. Laura berstatus sebagai suami Adam Dhanurendra.
Mata Laura tak bisa berbohong, kesedihan membelenggu kebahagiaannya. Keikhlasan tidak dia dapatkan, meskipun status lajang dia pertaruhkan.
Adam menoleh pada Laura. "Semuanya akan baik-baik saja," bisiknya pada Laura. Genggaman tangan Adam membinasakan sedikit keresahannya.
Desi memandang putrinya. Siapa sangka, Laura mengikuti jejak Desi menikah di usia muda. Bedanya, Desi dan Faishal terikat cinta sejak awal.
....
Laura memandang dirinya sendiri di cermin kamar mandi rumah sakit. "Bahkan menikah saja aku gak pakai riasan," gerutu Laura.
Laura kesal, pernikahan seakan menjadi sesuatu yang digampangkan dalam hidupnya.
Suara pintu dibuka, satu orang asing masuk mengabaikan dirinya begitu saja. Disusul Adam yang tidak jauh kemudian. Dia berhenti memandang Laura yang ikut menatapnya.
"Kamu sepertinya kesal," tutur Adam sembari tersenyum. "Aku kira kamu jauh lebih lega, karena kamu menyetujui pernikahan ini."
Laura membalikkan tubuhnya, ketika Adam berdiri di sampingnya, pura-pura mencuci tangan.
"Aku bahagia?" Laura memprotesnya. "Kamu bisa bilang aku bahagia?"
"Aku hanya menduga, Laura," jawab Adam seadanya.
Adam bukan tipe pria yang banyak bicara. Dia dikenal pendiam yang tak suka berbasa-basi. Nurwa pasti paham tentang itu. Namun, tidak untuk Laura.
"Jika kamu jadi aku, kamu bisa bilang kalau kamu bahagia?" Laura mencoba menukar posisinya. "Seakan baru kemarin kamu menggunakan seragam SMA," imbuh Laura. Dia menyunggingkan senyum. "Sekarang aku sudah pakai cincin nikah," ucap Laura sembari memamerkan cincin yang tersemat di jarinya.
Adam hanya tersenyum tipis. "Lebih cocok untuk jari kamu."
"Aku serius!" Laura mendengus kesal. "Aku tidak bisa memakainya kalau aku sekolah."
__ADS_1
Adam tak menjawab, dia hanya melirik Laura, melanjutkan lagi aktivitasnya.
"Kamu mau melarang aku?" tanya Laura sedikit kesal. "Kamu sendiri yang bilang kalau aku masih bisa bersekolah. Tidak akan ada yang berubah."
Adam menutup keran air. Sekarang fokusnya hanya untuk Laura. "Tentu saja. Selama perut kamu belum membesar, semua orang tidak akan tahu jika kamu sudah menikah dan hamil dari anak pacarmu."
Laura ditampar dengan cara bicara Adam yang meremehkan. Laki-laki itu punya watak yang aneh untuk Laura. Jika dibilang Adam adalah pria jahat, seharusnya dia menyia-nyiakan Laura. Faktanya Adam menolong kehidupan Laura secara tidak langsung.
"Mama Desi menyuruh aku untuk tinggal di rumah untuk beberapa hari," ucap Adam. "Tapi aku menolak."
Laura mengerutkan dahi. "Jangan bilang kamu yang minta aku untuk tinggal di rumahmu?" Dia langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Aku tidak mau tinggal di rumahmu!"
"Kamu adalah istriku dan sudah sepantasnya kamu—"
"Haruskah kita bercerai hari ini?" Laura memotong kalimat Adam dengan tegas. "Aku tidak suka diatur. Aku juga tidak bisa tiba-tiba pergi dari rumah dan pindah ke tempatmu."
Adam mengulum salivanya. Selama ini dia hanya menghadapi sikap Nurwa, yang hanya marah kalau dikritik tentang masakannya. Laura punya pemberontakan yang lain.
Adam menghela nafas. "Jadi kita harus tinggal di bedah rumah?"
Laura berjalan mendekati Adam, bersedekap di depannya. "Kamu berharap kita melakukan malam pertama atau semacamnya?" Gadis itu tertawa puas. "Aku sudah pernah melakukan itu bersama kekasihku. Kamu bukan pria yang pertama."
"Aku beri waktu tiga hari, gunakan itu untuk berkemas dan berpamitan dengan mamamu." Adam mengabaikan kalimat Laura.
Adam melanjutkan. "Pekan ini, aku akan menjemputmu dan kita tinggal di rumahku."
"Aku tidak mau tinggal—"
"Haruskah aku meminta ini di depan papamu?" Adam punya ancaman yang tak bisa ditolak Laura. Pernikahan ini saja didasari atas kemauan papanya. Laura tidak bisa melukai hati papanya.
Laura mendengus kesal. "Aku tidak mau!" Dia tetap menolak. "Sekalinya tidak mau, ya tidak mau!"
"Aku adalah suamimu, Laura. Sudah sepantasnya kamu ikut denganku," ucap Adam tegas. "Aku tidak menyukai bantahan apapun."
Belum sempat Laura menjawab, Adam berpaling dari hadapannya. Dia meninggalkan Laura yang menggerutu di tempatnya.
"Cih, laki-laki sialan!"
__ADS_1
....
"Laura tidak masuk." Belen mengaskan, ini sudah yang kesekian kalinya. "Kamu masih tidak percaya lagi?"
Daffa menelisik masuk ke dalam kelas. "Emangnya kamu pernah jujur?"
"Dia tidak ada kabar. Hp-nya mati dan rumahnya kosong," jawab Belen lagi. "Aku juga tidak tahu dia ada di mana. Tidak ada kabar darinya, dia menghilang begitu saja."
Daffa menatap Belen curiga. Belen sama sekali tidak menunjukkan kepanikan dalam dirinya. Belen tidak pandai berbohong, dia selalu saja tertangkap basah di awal pembicaraan kalau sedang berbohong.
"Haruskah aku mempercayai kebohonganmu lagi, Bel?" Daffa mendesak. "Aku cuma pengen ketemu sama Laura. Aku pengen bicara sama dia. Ada banyak yang harus kita bicarakan sejak pertemuan terakhir kali."
"Laura bilang kalau kalian sudah putus." Belen menegaskan. "Laura bilang kalau dia nggak mau ketemu kamu lagi. Jadi jangan memaksa dan jalani saja hidup kamu."
Daffa memandang Belen. "Laura mengatakan sama kamu kalau dia putus dariku dengan alasan sesuatu?"
Belen mengerutkan dahi. "Sebenarnya aku curiga dengan kalian berdua. Belakangan ini Laura jadi menghindari aku, sepertinya menutupi sesuatu."
Daffa langsung mengalihkan pandangan mata. Tentu saja dia tidak mau bercerita apa yang terjadi. Tidak mungkin Jika dia mengatakan kalau Laura sedang mengandung anaknya sekarang.
"Kalau begitu terima kasih. Aku sendiri yang akan mencari tahu," ucap Daffa menutup kalimatnya.
Daffa hendak pergi dari hadapan Belen, tetapi gadis itu mencegahnya. "Katakan sama aku, rahasia apa yang kalian sembunyikan?"
Daffa awalnya tidak mau menggubris. Dia ingin melanjutkan langkah kaki agar tidak menyesali keputusannya untuk tanya pada Belen.
"Laura tidak seperti biasanya. Dia bahkan menghindari kita semua. Menolak bermain bersama kita dan menghabiskan uangnya seperti biasa," ucap Belen. "Aku yakin bukan masalah biasa di antara kalian."
Daffa menolehkan pandangannya. "Tanya sendiri sama Laura. Kamu sahabatnya."
Belen mendekati Daffa. "Terjadi sesuatu bukan?" Belen masih kokoh. "Laura tidak pernah memusingkan tentang hubungan percintaan."
"Laura akan melepaskan laki-laki yang membebaninya," imbuh Belen. Belen menatap curiga pada Daffa. "Kecuali ada sesuatu yang mengikatnya."
Daffa mengulum ludahnya. "Kenapa menatapku begitu?"
"Kamu ... menghamili Laura?"
__ADS_1
Next.