
Kafetaria, Jakarta.
Adam tidak berani berbicara. Nurwa yang memanggilnya datang kemari. Lagian, dia memang ingin bertemu dengannya. Dua hari berlalu perempuan ini menghindarinya. Pesan dan panggilan darinya diabaikan begitu saja.
"Nurwa, aku ...." Belum sempat Adam selesai berbicara, Nurwa tiba-tiba Nurwa meletakkan sesuatu di atas meja. Itu cincin tunangan mereka.
Adam mengerjap. Dia menatap Nurwa tak percaya.
"Undangan sudah disebar, aku tahu," ucap Nurwa tiba-tiba. "Persiapan hampir matang, aku tahu." Nurwa mendesah panjang. "Aku tahu semuanya, Mas Adam."
Entah harus bagaimana, tetapi inilah tujuan Adam mengajak Nurwa bertemu. Dia ingin membicarakan hal ini. Entah harus lega atau bagaimana.
"Aku tidak mau meneruskan hubungan ini, Mas." Nurwa menunduk. "Maafkan aku," ucapnya lagi. "Aku tidak mau meneruskan apapun lagi."
Adam mendesah panjang. "Nurwa." Dia memanggilnya. Pandangan mata itu penuh makna. "Aku minta maaf. Aku tahu ... kamu pasti menyadarinya," ucapnya penuh penyesalan.
Adam menunduk. "Aku tidak bisa menahannya," ucapnya lagi. "Aku tidak bisa membohonginya lagi."
Nurwa memandangnya.
"Membohongi kita semua." Adam menyerah, dia pasrah. Berulang kali berpikir ulang, mencari sesuatu untuk tetap bertahan dalam hubungan ini. Sayangnya, dia tidak bisa.
"Aku tahu, Mas Adam." Nurwa tidak bisa melawannya juga. Sama seperti Adam, berulang kali dia mencari cara untuk mempercayai Adam lagi. Dia tahu semuanya, puncaknya adalah kedatangan Wanda dan segala ucapannya.
Adam menghela napas. "Aku akan menjelaskan pada orang-orang. Kamu tidak perlu melakukan apapun. Secara teknis, ini adalah salahku."
Nurwa menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar, Mas."
__ADS_1
"Aku tidak akan tinggal diam. Jika memang harus ada yang disalahkan, aku pun ikut salah." Nurwa tersenyum tipis. "Bukan hanya dirimu yang bertanggung jawab, tetapi aku juga."
Adam manggut-manggut. "Kita selesaikan ini dengan cara baik?"
Nurwa menggelengkan kepalanya. "Aku membencimu, Mas Adam." Dia menatap Adam. "Aku akan membencimu. Jika aku tidak bisa melakukannya, aku akan berusaha untuk membencimu."
Adam tidak bisa melawannya. Dia tidak bisa menolaknya juga, Nurwa memutuskan hal yang benar.
"Tentu saja hubungan kita tidak akan bisa sama seperti dulu lagi, Mas Adam." Nurwa menatapnya dalam-dalam. "Aku akan menjauhimu."
Adam mengangguk. Pasrah, tanpa kata-kata.
"Nurwa," panggil Adam dengan lembut. "Aku tahu kamu tidak akan bisa memaafkanku, tetapi aku akan mencoba untuk meminta maaf terus menerus."
Nurwa tersenyum tipis. "Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanyanya. "Jujur saja aku penasaran sejak beberapa hari yang lalu."
Adam mengangguk. Pasti tentang Laura.
Adam tersenyum.
"Kalian jauh berbeda. Laura mengecewakan dirimu berkali-kali, dia menginjak-injak harga dirimu, Mas Adam." Nurwa terus mengutarakan isi hatinya. Dia tidak mau menahan apapun lagi, semuanya akan ditumpahkan hari ini.
"Karena dia adalah Laura." Adam berbicara dengan yakin. "Aku tidak punya alasan tertentu, meskipun aku memikirkannya beberapa kali."
"Aku mencintainya karena dia adalah Laura." Adam menjelaskan singkat. Sebenarnya dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini, Adam takut melukai Nurwa lebih dalam lagi.
Nurwa menghela napas panjang. "Ah, begitu rupanya."
__ADS_1
"Aku tidak akan membenci dirimu, Nurwa." Adam menyahut lagi. "Aku tidak akan menjauhimu."
"Bagiku pertemanan kita dan persahabatan kita sejak kecil akan masih sama, tidak akan ada yang berubah." Adam berusaha tetap dewasa. "Kapan kamu mau datang padaku, aku akan terbuka untukmu."
Nurwa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan datang padamu, Mas Adam."
"Aku menghargai keputusan itu, Nurwa."
Nurwa mendesah ringan. Seharusnya dia merasa lega, seperti keinginannya. Namun, Nurwa malah merasakan hal yang lain. Kecewa yang baru, entah benar atau tidak. Nurwa tidak yakin apa yang dia lakukan sekarang benar atau tidak.
"Sampaikan maafku sama ibu dan abah." Adam menutup kalimatnya. "Aku akan mengunjungi abah jika keadaan sudah membaik."
Jika tentang keluarga, Nurwa tidak bisa melarangnya. Lagian, ini juga salahnya. "Jangan bilang apapun pada abah dulu, Mas Adam. Biarkan aku yang bilang."
"Baiklah. Aku ikut kamu." Adam menutup pembicaraan. "Sekali lagi maafkan aku, Nurwa. Aku mendoakan yang terbaik untuk kamu."
"Kamu bisa pergi dulu. Orang-orang akan melihat kamu meninggalkan aku, bukan aku yang meninggalkan kamu." Adam tersenyum. "Aku akan berbicara seperti itu. Aku akan mengatakan kalau kamu yang meninggalkan aku dan keputusan kamu itu ...."
"Kamu akan menikahi Laura, Mas Adam?" Nurwa memotong kalimatnya lagi.
Adam langsung terdiam.
"Kenapa malah diam?" tanya Nurwa. "Aku tanya sama Mas Adam."
Adam menunduk. Lagi-lagi hanya menghela napas.
"Kamu akan menikahi Laura?" Nurwa mengulang kembali.
__ADS_1
Sayangnya, Adam tidak bisa memberi jawaban Semarang. Pertanyaan itu di luar dugaannya.
Next.