Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
14. (Bukan) Malam Pertama


__ADS_3

Malam pertama pernikahan Laura.


"Mama menyuruh aku menemani kamu malam ini." Adam keluar dari kamar mandi. "Tidak ada yang salah juga, aku adalah suamimu."


Laura tersenyum miring. Dia duduk di kursi rotan samping jendela kamarnya. "Kamu juga akan tidur di sini? Sepertinya kamu menikmati status barumu sebagai suami orang."


Laura tidak punya semangat membahasnya. "Kamu bisa tidur di ranjang. Aku akan cari tempat lain."


Laura hendak bangun dari tempat duduk, tetapi Adam menghentikannya. Lelaki itu duduk di ujung ranjang tak jauh dari tempat Laura. Tanpa kata-kata, dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Memberikan sebuah kotak kecil untuk Laura.


Laura terheran-heran, tetapi mata Adam memberi kode untuk mengambil pemberiannya.


"Apa ini?" tanya Laura ketus. Dia membuka kotak itu perlahan-lahan. Laura terperangah ketika melihat cincin pernikahannya ada di tangan Adam, padahal dia menyimpannya di saku jaketnya tadi.


"Kita baru menikah tadi pagi, tapi kamu sudah melepasnya sore ini." Adam tersenyum tipis. "Katanya itu pertanda buruk."


"Kamu percaya mitos seperti itu?" Laura terkekeh. "Ternyata kamu pria yang kuno."


Laura mengangkat cincin yang tersemat di dalam lubang kotak kecil itu, ia tidak menyangka kalau cincinnya berubah menjadi liontin sebuah kalung. Laura memandang Adam tak mengerti.


"Aku yakin kamu tidak akan menggunakannya ketika sekolah," ucap Adam. Dia memamerkan cincin di jarinya. "Karena aku yang akan menggunakannya."


Laura masih diam, berusaha memahami ucapan Adam.


"Kamu juga tidak bisa meninggalkannya di sembarang tempat, nanti bisa hilang." Adam cukup berbasa-basi. "Jadi aku membuatkan kalung untukmu. Kamu bisa menyembunyikan itu di balik seragam kamu tetapi kamu bisa memakainya terus-menerus."


Laura sampai tidak bisa berkata-kata. Dia memang berniat untuk tidak pernah memakai apapun yang berhubungan dengan pernikahan ini.


"Mau aku pakaikan?" tanya Adam. Hampir dia berdiri, tetapi Laura mencegahnya. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak mau?"


Laura tidak memberi jawaban.


"Ya sudah kalau tidak mau." Adam memutar langkah kaki, hendak pergi dari dalam kamar Laura.


"Pak Adam?" Laura mencegahnya. "Ada yang ingin aku tanyakan."


Adam menatap dan mengangguk. Senyum tipis dia berikan untuk menenangkan kekhawatiran Laura. Meskipun tidak ada kata-kata tentang itu, tapi Adam setidaknya tahu apa yang ada dalam benak Laura saat ini.

__ADS_1


"Soal Nurwa," kata Laura dalam kecemasan. "Dia sepertinya begitu menyukai kamu, Pak Adam."


Adam hanya menganggukkan kepalanya. "Lantas?"


"Kamu tidak menyesal meninggalkan wanita baik sepertinya hanya untuk aku?" tanya Laura. "Maksduku adalah ...."


"Bukannya kamu berharap pernikahan ini selesai ketika ayah kamu tidak ada nanti?" Adam membalikkan pertanyaan. Kalimat itu membuat Laura bungkam 1000 bahasa.


Semua yang terjadi seperti angin berlalu yang begitu cepat. Laura bahkan tidak menyangka dia akan duduk di sini sebagai istri seorang pria.


"Aku hanya tanya aja. Barangkali ...." Ucapan Laura terhenti ketika dering ponsel menyela, itu adalah ponsel milik Adam.


Adam meraih ponselnya. Melihat siapa yang membuat panggilan suara padanya. "Tante Desi?"


"Mama?" Laura langsung menyahut. Kepanikan datang begitu saja jika sudah menyinggung tentang mamanya.


Di saat yang bersamaan, bel rumah berbunyi. Menandakan seorang tamu datang mengunjungi mereka malam ini. Laura tidak bisa mengabaikan ketika suara bel semakin mendesaknya untuk segera membukakan pintu. Menyegerakan dirinya menerima tamu yang datang.


"Kabari aku apa yang dikatakan mama. Aku harus membuka pintu untuk tamu!" tandas Laura.


....


Laura berlari ke arah ambang pintu, siapa pun yang datang tidak boleh mengetahui keberadaan Adam di sini. Dia malas menjelaskan banyak hal apalagi jika itu adalah Belen.


Alangkah terkejutnya Laura ketika dia mendapati Daffa berdiri di ambang pintu. Pemuda itu mendatanginya malam ini.


"Daffa?" Laura sedikit panik, tapi dia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia bahagia. Hatinya lega tanpa alasan pasti.


Laura sekali menoleh masuk ke dalam rumah, harap Adam tidak menyusulnya.


"Kamu ada apa malam-malam ke sini?" tanya Laura. "Hubungan kita sudah berakhir. Aku yakin aku tidak perlu mengulangi kalimat untuk menyakiti hatimu lagi."


Daffa menganggukkan kepalanya. "Justru itu aku datang ke sini. Aku ingin berbicara empat mata denganmu."


"Mamamu ada di dalam?" tanya Daffa sembari celingukan. "Tolong izinkan padanya agar aku bisa bicara sama kamu malam-malam begini. Aku tahu ini waktunya untuk belajar, tapi ...."


"Apa yang ingin kamu bicarakan sama aku?" Laura langsung menyahut, nada bicaranya dipenuhi ketidaksabaran. "Tentang kehamilan ini?"

__ADS_1


"Ra?" Daffa sedikit terkejut ketika Laura mengatakannya dengan lantang. "Nanti kalau mama kamu dengar bagaimana?"


Laura menyeringai tipis. "Itulah kenapa kamu malah datang ke sini? Padahal kamu tahu kalau pembicaraan kita bisa didengar sama mama."


Tidak ada yang tahu bagaimana kondisi keluarga Laura saat ini. Semuanya berbanding terbalik dari harapan Laura di masa lalu. Mungkin kebahagiaan yang akan berhenti malam ini.


Laura menghela nafas panjang. "Aku tidak mau membicarakan pasal kehamilan dengan siapa pun termasuk kamu."


"Ra, aku adalah ayah dari bayi itu. Aku juga berhak tahu apa yang terjadi." Daffa mendesak. Dia meraih pergelangan tangan Laura. "Belen bilang, kamu bersikap aneh belakangan ini. Dia bahkan mulai mencurigai aku."


"Kita sudah memutuskan hubungan kita, Daffa. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Laura keras kepala. Sembari melepaskan genggaman tangan Daffa perlahan-lahan agar tidak menyakitinya, dia kembali berbicara. "Kehamilan ini biar aku yang mengurus. Biar aku yang memutuskan apa yang harus aku lakukan."


"Kamu tidak perlu memusingkan ini. Kamu bisa melanjutkan kehidupan dan cita-citamu yang tinggi itu," tandas Laura. Senyum seringai tidak pernah lepas dari bibirnya. "Aku hanya berdoa kamu menikmati perjalanan hidup tanpa penyesalan apapun."


Daffa mengerti Laura sedang mengajukan protes padanya


"Ra, aku mengerti kalau kamu marah sama aku. Tapi ...."


"Ra! Kita pergi ke rumah sakit sekarang!" Sialnya, Adam tiba-tiba saja turun dari lantai atas dengan langkah yang terburu-buru. Dia berjalan mendekati Laura sembari membawakan jaket miliknya.


Laura terkejut bukan main, dia tidak menyangka pertemuan Adam dan Daffa akan sedramatis ini.


Daffa mengerutkan kening. "Kamu ....guru baru kan?" Daffa menunjuk wajah Adam. Sekarang fokus pandangannya tertuju pada Laura. "Ra? Kenapa dia bisa ada di sini?"


Laura tidak bisa menjelaskan. Di depan Daffa, Laura gagap sekarang.


"Laura? Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa guru baru ini bisa ada di rumah kamu?" tanya Daffa lagi. "Sepertinya kalian akrab satu sama lain."


Adam menatap Daffa. "Jadi kamu yang namanya Daffa?" tanya Adam.


Sebelum Adam melanjutkan kalimatnya, Laura menarik ujung jaket Adam agar diam.


Daffa manggut-manggut. "Benar, kenapa memangnya?"


"Baguslah. Temui aku di ruanganku besok pagi di sekolah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Nak." Adam menutup kalimatnya. "Sekarang ini aku dan Laura sangat sibuk."


Next.

__ADS_1


__ADS_2