Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
139. Ikatan Simpul


__ADS_3

"Laura! Laura!"


Laura menoleh ke sumber suara. Kehebohan milik sahabatnya itu hampir membuat dirinya malu ketika orang-orang juga ikut memandang ke arahnya, tetapi mau bagaimana lagi? Begitulah Belen.


"Kamu tuh bisa tidak kalau tidak usah teriak-teriak?" Laura memprotes. Dia kembali melanjutkan langkah kakinya. Belen mengikuti di sampingnya.


Belen terkekeh. "Maaf, Ra." Dia menambahkan lagi. "Habisnya aku penasaran apa yang terjadi?"


Laura menoleh. "Apanya yang apa?"


"Kamu dan Daffa!" Belen menepuk pundak Laura. "Katakan sama aku, bagaimana kamu bisa keluar dari kantor polisi siang ini?"


Laura menyunggingkan senyum. Dia berhenti tiba-tiba, begitu juga dengan Belen. Keduanya bertukar pandang. Belen mengerutkan keningnya ketika melihat senyum aneh dari Laura.


"Jujur saja, Kamu bukan mau memastikan perkembangan kasusnya, bukan?" Laura menggoda Belen. Dia mencubit sisi perut temannya. "Jujur saja!"


Belen langsung tertawa. "Semudah itu kamu menangkap basah aku?" Dia memprotesnya. "Setidaknya pura-pura dulu tidak tahu."


"Kamu yang mengadu sama Pak Adam, memangnya siapa lagi?" Laura menghela napas. Dia melangkah lagi. "Kalau menyangkut soal Pak Adam, selalu saja dari kamu."


Belen cekikikan sembari mengekori langkah kaki Laura. "Aku hanya mencoba untuk membantu. Aku berpikir kalau Pak Adam pasti punya jalan keluarnya."


"Dia adalah orang dewasa. Meskipun bukan wali kamu yang sah lagi, aku yakin dia masih mau jadi wali kamu." Belen menyimpulkan. "Lagian, dia pasti langsung berlari panik kalau sudah menyangkut tentang kamu. Aku bahkan tidak perlu menjelaskan panjang lebar atau memohon sama dia."


Laura melirik Belen dengan sinis. "Sudah aku bilang, jangan libatkan dia lagi. Kenapa masih keras kepala?"


"Memangnya kenapa?" Belen menyanggah. "Dia tidak punya pacar atau bahkan istri. Kamu adalah mantan istrinya dan ...." Kalimat Belen terhenti ketika dia mendapat tatapan sinis dari Laura. Belen menganggukkan kepala kemudian. Dia paham, dengan tatapan itu, Laura menyuruhnya untuk berhenti bicara.


"Aku akan cari bantuan yang lain. Aku masih punya keluarga di luar negeri," ucap Laura pasrah. "Meskipun sedikit sulit, aku akan mencobanya."


Beleng hanya pasrah. Sejak dulu, Laura keras kepala. Semua keputusan Laura adalah mutlak.


"Pak Adam?" Belen tiba-tiba menunjuk ke samping Laura. Langkah kaki mereka disela oleh kedatangan Adam dari arah yang berbeda.


Laura langsung memalingkan pandangan. Dia bergegas mengubah langkah kaki, tak mau berpapasan dengan Adam. Sialnya, seorang pemuda menghadang langkah kaki Laura. Dia adalah Bayu. Orang yang pernah mengutarakan perasaan pada Laura.


"Laura?" Bayu tersenyum padanya. Sedangkan Laura menatapnya dengan penuh tanya.


Tanpa kata-kata, Bayu menyodorkan tiket bioskop padanya. "Nanti malam ada film bagus. Aku terlanjur membeli dua tiket."

__ADS_1


Laura mengerutkan kening. "Bukan urusanku." Dia menjawab ketus.


Di sisi lain, Adam berjalan mendekati Laura. Dia berusaha tahu apa yang sedang dilakukan pemuda itu terhadap mantan istrinya.


"Aku mau ngajak kamu nonton." Bayu mempertegas. Suaranya sampai ke telinga Adam. "Kamu mau?"


Belen melirik Adam. Suasananya menjadi canggung.


Laura hendak menjawab, tetapi Bayu menarik tangannya dan memaksa Laura untuk menerim tiket bioskop itu.


"Aku tunggu kamu di depan mall-nya," ucap Bayu. "Pukul tujuh malam nanti, Ra." Bayu tersenyum sumringah. Padahal Laura tidak memberi persetujuan.


Laura hanya melirik Belen dan Adam, dia seperti orang kikuk sekarang. Bayu pergi setelah memberikan tiketnya. Namun, pemuda itu tiba-tiba berhenti dan kembali menoleh pada Laura.


Bayu berteriak. "Atau mau aku jemput, Tuan Putri?"


Laura terkejut mendengar panggilan itu. Dia hampir saja tersenyum.


"Tidak usah. Aku datang sendiri," jawab Laura kemudian. Dia memamerkan tiket bioskop pada Bayi. "Thanks, Bayu."


Bayu mengangguk, senyuman gak pernah pudar dari wajahnya. "Nggak perlu dandan cantik, karena kamu sudah cantik." Dia menutup kalimatnya dan pergi. Meninggalkan Laura yang tersipu di tempatnya.


"Sepertinya aku pergi," bisik Belen ketika mendapat suasana tak mengenakkan. "Susul aku di kelas, Ra," ucap Belen sembari menepuk pundak Laura.


Namun, Laura tak akan diam. Dia menarik lengan Belen untuk menghentikannya pergi.


"Kita pergi sama-sama." Laura berbicara sembari memandang Adam dengan sengit. "Aku nggak mau di sini sendirian," imbuh Laura sembari menyeringai pada Adam.


Adam tak bicara, dia berdiam diri dan membiarkan Laura pergi bersama Belen. Lelaki itu memandang kepergian Laura. Perlahan-lahan, senyuman manis merekah di bibir Adam.


"Kenapa dia marah padaku?" gumam Adam seorang diri. "Padahal aku tidak bicara apa pun."


>>>><<<


"Laura, tunggu!" Belen berusaha mengimbangi langkah kaki Laura, meksipun sulit. Secara fisik, kaki Laura lebih jenjang, jadi langkah kakinya jauh lebih lebar dari Belen--yang kerdil seperti kurcaci.


"Kenapa kamu jadi badmood?" Belen mengimbangi langkah kaki Laura. "Pak Adam melakukan kesalahan di kantor polisi?"


Laura tak memberi jawaban. Dia terus berjalan, menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Laura!" Belen membentak dengan kesal. "Setidaknya jawab dulu! Aku jadi bingung di sini."


Laura melirik Belen. "Apa yang membuat kamu bingung?" tanya Laura dengan ketus. "Beginilah kita sekarang."


Belen menghela napas. Dia menarik tangan Laura agar berhenti di tempatnya.


"Apa lagi?" Laura membentak kesal. "Aku mau masuk ke dalam kelas."


Belen meneliti raut wajah Laura. Kemudian dia menoleh ke arah Adam pergi. Punggung lelaki itu samar-samar terlihat, hilang ketika dia berbelok di ujung lorong sekolah.


Belen mendesah panjang. "Kalian ini lucu sekali," ucap Belen. Dia bersedekap sembari meneliti cara Laura memandang. Belen selalu mudah menangkap kebohongan dan membaca isi kepala Laura, tetapi sekarang dia tidak bisa melakukannya.


"Kamu masih sakit hati sama Pak Adam?" tanya Belen. "Padahal dia sudah meminta maaf dan berjanji untuk bertanggung jawab?" tanyanya lagi. "Kenapa?" Belen mendesak Laura.


Laura memalingkan wajah. "Kenapa kamu pengen tahu banget?" Dia berdecak. "Kamu masih suka sama Pak Adam?"


Belen mengerutkan keningnya. "Apa itu penting?"


Laura manggut-manggut. "Tentu saja. Kamu pasti ingin memastikan apakah aku masih suka sama dia atau tidak, kan?" Laura menarik kesimpulan. "Semua itu kamu lakukan agar kamu bisa mendekatinya lagi."


Belen diam sejenak.


"Jadi kamu tidak akan merasa bersalah kalau kamu mengejar Pak Adam lagi." Seulas senyum seringai merekah di bibir Laura. "Benar begitu?"


Belen terkekeh. "Kalau iya, memangnya kenapa?" Dia menantang Laura. "Pak Adam masih muda, tidak punya pacar atau bahkan istri. Keluarganya juga tidak menjodohkan dia dengan perempuan mana pun."


"Jadi, aku masih punya kesempatan." Belen menggoda Laura. "Kamu juga tidak menyukainya lagi, bukan?"


"Kata siapa!" Laura membentak. "Aku bukannya tidak menyukainya lagi, tetapi aku ...." Laura berhenti berbicara ketika dia menyadari dirinya lepas kendali.


Belen menangkap basah Laura. Dia menjentikkan jari di depan wajah Laura sembari terkekeh. "Lihatlah! Si ratu gensi!"


Laura memalingkan wajah. "Terserahlah!" Laura menutup pembicaraan mereka. Dia pergi dari hadapan Belen.


Belen mengejarnya. Gadis itu terus menggoda Laura dengan menyenggol bahunya. "Katakan saja, kamu masih menyukai Pak Adam."


"Diam bisa tidak?" Laura berdecak marah. Namun, Belen terus saja menggodanya.


Next.

__ADS_1


__ADS_2