
Rumah sakit Jakarta.
"Haruskah aku menggugurkan kandungan ini?" gumam Laura seorang diri. Hidupnya sudah hancur lebur, hanya bersisa dirinya yang mengokohkan kaki untuk berdiri.
Laura mengusap perutnya. Bukan tentang kehamilan, dia sedikit lapar sebab sejak tadi tak makan apapun.
"Kita gugurkan sama-sama," sahut Adam yang berdiri di belakang Laura. Pria jangkung itu mengejutkan dirinya.
Laura mengerutkan kening. "Pak Adam ngapain di sini?" ketusnya. "Sudah tanda tangani suratnya?"
Adam mengabaikan Laura. Tiba-tiba saja dia merangkul gadis itu dan menuntunnya paksa masuk ke dalam rumah sakit.
Laura meronta, mendorong tubuh Adam menjauh darinya. "Kamu ini aneh sekali!" gerutunya.
Adam malah tertawa mendengar Laura menggerutu. "Aneh gimana?"
"Aku mengajukan surat perceraian dan berharap kamu menandatanganinya." Laura menjelaskan satu persatu. "Aku harap kita bisa bercerai besok dan semuanya cepat selesai."
Laura menatap Adam serius. "Aku tidak mau bertemu kamu lagi."
Adam membaca kalimat lain dari cara Laura menatap. Sepertinya yang baru saja dia dengar, tidak berasal dari dalam hatinya.
Adam tidak mau berdebat seperti orang bodoh di depan umum. Orang-orang pasti mengira semua ini salahnya, karena dia yang paling tua di sini.
"Aku akan menandatangani surat perceraiannya, setelah aku memastikan kalau kamu benar-benar menggugurkan kandunganmu." Adam kembali menarik tangan Laura. Membawa gadis itu masuk ke dalam rumah sakit.
Laura terpaksa menurutinya.
>>>><<<<
"Perkembangan janinnya baik-baik saja. Tumbuh dengan sehat dan kuat."
Layar monitor USG di samping Laura menjadi momok menyeramkan untuk gadis itu. Siapa sangka ada kehidupan di dalam perutnya di usia belia? Laura hampir meneteskan air mata.
"Usia kandungannya sudah mencapai 40 hari." Dokter itu menambahkan lagi. "Untuk ibunya, jangan terlalu banyak beraktivitas. Hilangkan pikiran yang membuat tertekan, dan usahakan menjaga kesehatan dengan baik."
Adam mendapat kepastian dari ahlinya. "Terima kasih, Dokter."
Dokter meninggalkan sisi ranjang Laura. Dia duduk di depan Adam sembari mencatatkan sesuatu dalam buku resep. Sejenak Adam menyimpulkan mungkin Laura akan mendapatkan beberapa vitamin.
__ADS_1
"Aku menuliskan beberapa vitamin untuk Bu Laura." Dokter itu tersenyum pada Laura. Sedangkan Laura terus berusaha menghindari kontak mata dengannya, bahkan dengan Adam sekali pun.
"Anda kakaknya atau ...." Dokter itu sedikit ragu, Adam tidak pantas dikatakan suami Laura. Usianya lebih pas menjadi kakak atau paman Laura.
"Suaminya," jawab Adam tegas, membanggakan dengan senyum simpul.
Dokter itu manggut-manggut. "Syukurlah. Aku berbicara dengan orang yang tepat."
"Untuk kesehatan Bu Laura, aku yakin dia kadang kala masih terkejut dengan keadaannya karena hal yang paling sulit adalah hamil di usia muda, Pak Adam." Wanita tua itu melanjutkan. "Pak Adam harus banyak memperhatikan dia, mulai dari jam tidur hingga apa saja yang Bu Laura makan."
Laura tak berani mendekati Adam. Dia memilih berdiri di sisi ranjang rumah sakit. Tujuan awalnya bukan mendengar omong kosong tentang bayi ini, Laura ingin membunuhnya.
"Anda bisa datang dua minggu sekali untuk—"
"Bagaimana dengan prosedur menggugurkan kandungan, Dokter?" Adam memotong kalimat. Laura terkejut, begitu juga dengan wanita yang ada di depannya.
Dokter tidak mengerti kenapa pertanyaan mengerikan itu datang.
"Untuk apa bertanya?" Dokter itu melirik Laura. Laura tak tenang dengan pertanyaan Adam.
Adam percaya diri dengan posisinya. Kondisi Laura boleh dibilang baik-baik saja, hanya gadis itu yang membuatnya menjadi buruk.
"Kami datang ke sini bukan untuk membuat harapan agar anak itu lahir suatu saat nanti." Adam berbicara, kalimat itu membuat Laura tak nyaman.
"Gadis itu ...." Adam menunjuk Laura dengan pandangan mata. Sejenak keduanya saling bertemu satu sama lain.
Adam kembali melanjutkan kalimat. "Dia ingin menggugurkan kandungannya. Aku menemaninya dan mewakilinya, barangkali sampai di sini dia tidak berani mengutarakan tujuannya."
Laura melangkah mendekati Adam. "Pak Adam." Dia memanggil dengan lirih. Sayang sekali, Adam sama sekali tidak menggubrisnya.
"Aku hanya ingin memastikan kalau dia mendapatkan prosedur yang benar," ucap Adam lagi. "Tolong katakan padanya bagaimana cara untuk menggugurkan kandungan itu," pinta Adam.
Laura menghela nafas. "Pak Adam ...."
"Dia harus mendengar semuanya." Adam berucap lagi. "Tolong katakan sejujurnya, jangan menakut-nakutinya."
Dokter itu tersenyum canggung pada dua pasien aneh di depannya. Ini adalah kali pertamanya dia bertemu sepasang suami istri yang tak saling berkomitmen satu sama lain. Kehamilan yang tak diinginkan, merugikan dua pihak.
"Karena usianya sudah 40 hari, akan sangat beresiko ditambah lagi usia Bu Laura yang masih muda." Dokter itu kembali menunjukkan hasil USG. "Perkembangan bayinya juga sehat dan baik-baik saja. Tidak ada alasan untuk menggugurkannya."
__ADS_1
"Prosedur pasti akan menolaknya, Pak Adam." Dokter itu tersenyum tipis. "Aku juga tidak bisa menyalahi prosedur yang ada."
"Ini adalah rumah sakit besar di Jakarta, bukan klinik kesehatan praktek ilegal," pungkasnya. "Aku harap Pak Adam—"
"Jangan bicara padaku," sahut Adam. "Laura yang butuh informasi itu. Kamu harus berbicara langsung dengannya."
"Pak Adam," tandas Laura dengan penekanan. Dia diam, setelahnya.
"Tolong diskusikan ini dengannya. Aku akan menunggu di depan ruangan." Adam berpamitan setelah menyelesaikan kalimat. Bangun dari tempat duduk, berniat pergi dari ruangan ini.
Laura mencegahnya, menarik tangan Adam. "Apa yang sedang kamu lakukan?" bisik Laura ketus. Pandangan matanya penuh amarah.
"Melakukan keinginanmu," jawab Adam seadanya. Perlahan-lahan pria jangkung itu melepaskan tangan Laura. "Aku akan menunggu di depan ruangan, selesaikan urusanmu hari ini agar kita bisa bercerai besok."
Adam meninggalkan Laura yang lemas di tempatnya. Laura ingin mengumpat jika saja tidak ada wanita berpendidikan di depannya.
"Bu Laura?" panggil dokter itu menarik fokus Laura. "Sepertinya kita harus berbicara, aku punya saran yang lebih bagus daripada menggugurkan kandungan itu. Bagaimana?"
>>>><<<<
Sesuai janjinya, Adam menunggu di depan pintu. Dia tidak serius dengan kalimat bahwa dia mendukung keputusan Laura. Resah kini menyelimuti hatinya. Berharap ada kabar baik yang dia dengar.
"Mas Adam?" Suara Nurwa menggema di lorong rumah sakit. Adam menoleh mengikuti sumber suara.
Nurwa menatap ruangan yang baru saja ditinggalkan Adam untuk menghampirinya. Rasa penasaran mulai menggebu. "Kenapa Mas Adam ada di sini? Ini tempat tubuh konsultasi ibu hamil."
"Aku menghantar Laura," jawab Adam. "Istriku."
Seharusnya Nurwa bisa menerima itu. Pernikahan Adam dan Laura memang mengejutkan dirinya, tetapi dia bisa apa? Hanya bersisa rasa sakit hati yang luar biasa. Ketidakrelaan membangun kebencian dalam dirinya untuk Adam.
"Dia memeriksa kandungan," imbuh Adam lagi. "Kalau kamu?"
Nurwa tak membalas pertanyaan Adam.
"Kamu menemui temanmu di sini?" Adam asal menebak. Tak mungkin Nurwa memeriksakan dirinya sendiri.
"Laura hamil anak kamu?" Nurwa lebih penasaran tentang itu. "Bagaimana bisa? Kalian baru menikah."
"Anak orang lain." Laura menyahut setelah keluar dari ruangan. "Anaknya pacarku," imbuh Laura lagi.
__ADS_1
Adam menghela nafas. Laura memang suka seenaknya sendiri.
Next.