Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
22. Suami Yang Tak Diidamkan


__ADS_3

Laura berkali-kali mengembuskan nafas. Resah menyelimuti diamnya. Bukan tentang dirinya, tetapi apa yang dia lihat. Adam bersama Nurwa.


"Mas Adam ini lucu sekali," gumam Nurwa seraya memainkan jari jemarinya.


Adam menoleh, dipandangnya Nurwa dalam diam.


"Menikahi gadis muda asing yang tengah hamil anak orang," kata Nurwa seakan mencela. "Kamu harus bertanggung jawab atas kelakukan bejat pria lain."


Nurwa harus mengorbankan seluruh perasaannya pada Adam, padahal pada orang terdekatnya Nurwa selalu membanggakan lelaki ini.


Adam tersenyum simpul. "Tidak salah kan, Nur?" Adam tetap sabar, meskipun dirinya tahu Nurwa datang dengan kecewa.


"Aku menyukai Mas Adam sejak dulu," katanya. Nurwa mengaku lagi. "Aku yang selalu ada di sampingnya Mas Adam, tetapi malah dia yang Mas Adam nikahi."


Protesnya Nurwa tak akan mengubah apapun.


"Sekali lagi aku minta maaf, Nur." Adam begitu lembut. "Aku pasti mengecewakan kamu."


"Ayah juga!" Nurwa menatap Adam dengan jeli. Berharap penyesalan Adam mengubah kemarahannya. Namun, Adam tetap sama. Kukuh pada pendiriannya.


"Aku sudah pernah bilang sama ayah kalau kita pasti menikah, Mas Adam." Berbicara seperti itu membuat hati Nurwa sesak bukan main.


Nurwa mendengus kesal. "Kamu malah meninggalkan aku."


Adam tak sepenuhnya salah, Nurwa yang menaruh harapan lebih padanya.


"Kita juga tidak bisa mengubah apapun sekarang, Nur." Adam pasrah tanpa mau berjuang, dia ingin terus melanjutkan pernikahannya.


Nurwa menggelengkan kepalanya. Dia memberanikan diri untuk menyentuh tangan Adam. "Ada yang bisa mengubah keadaan."


Adam tidak bereaksi, kali ini dia membiarkan Nurwa seenaknya sendiri. Mungkin dengan begini dia bisa menebus kesalahannya.


"Kamu bisa menceraikan Laura, Mas Adam."


Kalimat Nurwa barusan membuat Adam tercengang. Belum ada satu bulan mereka hilang kontak, Nurwa sudah banyak berubah.


"Kalau kamu menceraikan dia, aku rela menunggu kamu lagi." Nurwa seakan meyakinkan. "Seperti yang kamu katakan, aku akan menunggu kamu sampai sukses."


Adam perlahan-lahan melepaskan genggaman Nurwa. Dia jadi ragu akan kebaikan gadis ini. "Nurwa, dengarkan aku."


"Kamu tidak seharusnya begini. Kamu punya masa depan yang lebih panjang," jawab Adam. Tutur katanya begitu lemah lembut. "Kalimatku yang waktu itu, tidak benar-benar dalam maknanya, Nur."


Nurwa dibuat tak mengerti.

__ADS_1


"Aku menolak lamaran pernikahan yang kamu ajukan secara tidak formal, bukan karena aku takut tidak bisa membahagiakan kamu." Adam mulai berterus-terang.


Nurwa mulai was-was tanpa sebab. Dia belum menyiapkan ruang hati untuk menerima kalimat buruk ini.


"Aku tidak mencintai kamu, Nur." Adam menolak Nurwa setelah menahan itu selama bertahun-tahun


Hati Nurwa begitu panas. Dadanya terasa sesak bahkan hampir tidak bisa bernafas.


"Mas Adam ...." Nurwa memandang Adam dengan penuh kekecewaan. "Kenapa Mas Adam bilang begitu?"


Adam langsung terdiam. Meskipun dia tidak pernah merasakan hubungan asmara yang intens dengan lawan jenis, tetapi Adam tahu kalau jawabannya barusan membuat Nurwa patah hati.


"Nurwa, aku tidak bisa menjelaskannya." Adam bangun dari tempat duduknya. Dia tidak bisa menyakiti Nur wah lebih dari ini.


Nurwa seakan tidak terima. "Mas Adam bilang begitu karena ingin aku menjauh dari Mas Adam?"


"Aku tahu kalau Mas Adam terpaksa menikahi Laura," ucap Nurwa. Dia hampir meraih tangan Adam. "Tapi, bukan begini caranya."


"Nur, aku benar-benar minta maaf sama kamu." Adam kembali mengulang. "Aku pasti mengecewakan kamu."


"Mas Adam." Nurwa hampir menangis. Perempuan ini hanya menggunakan perasaan tanpa logika, mengejar Adam untuk kembali mendapatkannya. Padahal Nurwa seharusnya tahu, itu membuang waktunya.


"Aku lebih memilih Laura dan keadaannya," ucap Adam dengan tegas. "Aku tidak akan menceraikannya. Aku akan terus bersamanya."


Di perjalanan pulang, Laura tidak berani menatap Adam yang berjalan di sampingnya. Mencari objek pandangan agar tidak terlalu canggung sekarang.


"Apa kata dokter?" Adam menyela hening. "Kapan kamu bisa menggugurkan kandungannya?"


Laura tidak menjawab. Berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Adam.


"Butuh uang yang banyak untuk menggugurkan kandungannya?" Adam terus berusaha menarik perhatian Laura. "Kamu tidak punya uang?"


Laura menoleh pada Adam. "Kamu meremehkan aku?"


"Orang tuamu meninggal dan perusahaannya bangkrut. Kamu bahkan tidak punya mobil untuk menjemputmu lagi dan sekretaris papamu mengundurkan diri." Adam merunut semua keburukan yang terjadi dalam hidup Laura.


Laura berhenti di tempatnya. Menoleh pada Adam. "Kalimatmu sudah keterlaluan!"


"Sekiranya menggugurkan kandungan butuh lebih dari puluhan juta," ucap Adam, mengabaikan Laura. "Haruskah aku mencari uang untukmu? Sebagai bentuk kompensasi dari pernikahan kita juga."


Laura mendebu-gebu di tempatnya. Hidungnya kembang kempis, menahan rasa jengkel untuk Adam. Lelaki jangkung ini benar-benar unik untuknya.


Sepertinya Faishal tahu, Adam adalah penjaga yang paling tepat untuk mengurus Laura sepeninggalnya. Lelaki ini punya seninya sendiri untuk memahami Laura.

__ADS_1


"Aku akan mengajukan pinjaman. Lagian aku sekarang adalah PNS yang—"


"Berhenti membicarakan itu!" Laura menggerutu kesal pada akhirnya. "Kamu membuat aku terlihat jahat."


Laura berjalan lagi, mendahului Adam yang berdiri di tempatnya.


Adam tersenyum tipis, inilah harapannya.


"Dokter bilang kandungannya terlalu kuat untuk digugurkan." Laura menyambut kedatangan Adam lagi dengan kalimat itu. "Prosedurnya juga sulit."


Adam menatap Laura. Semesta memberikan takdir yang buruk untuk gadis yang cantik.


"Dokter menunggu aku untuk memikirkannya," imbuh Laura. "Menggugurkan kandungan ini mungkin akan mengubah banyak hal termasuk kemungkinan aku bisa hamil di masa depan."


Laura menoleh pada Adam. Dia berdesak ringan ketika melihat Adam hanya manggut-manggut seperti orang bodoh.


"Cih, kamu pasti nggak paham kan?" kesalnya. Laura menghela nafas. "Tentu saja. Kamu laki-laki."


Adam tersenyum miring. "Aku mau beli es krim, kamu mau?"


Laura menoleh sembari memicingkan matanya. Pria ini terlalu 'random' untuk dirinya.


"Food truck-nya ramai, pasti es krimnya enak." Adam menunjuk food truck di sisi jalan. "Ada promo juga."


Laura hampir menggumpati pria ini habis-habisan. Dia bercanda di tengah keseriusan Laura. Sayangnya, sebelum Laura memberi sumpah serapah pada lelaki ini, Adam sudah dulu mendahuluinya. Mau tak mau, Laura harus mengikuti.


"Tunggu aku!" teriak Laura. Di hampir tersandung batu ketika mengejar Adam. Beruntungnya Adam menangkap tubuh Laura, hampir memeluknya.


"Hati-hati!" gerutu Adam penuh kekhawatiran. "Aku tidak peduli kalau kamu terluka, besok juga akan sembuh."


Laura berdehem. Segera dia mendorong tubuh Adam karena terlalu dekat dengannya. Rasa canggung mengudara begitu saja.


"Mulai sekarang khawatirkan soal anak kita, Laura." Adam membalas lagi. "Kita harus menjaganya."


Adam meninggalkan Laura di tempatnya. Gadis itu seakan tersihir dengan kata-katanya. Laura hanya memandang kepergian Adam dari punggung lebar pria itu.


"Kenapa dengan diriku?" Laura menggerutu pelan. Dia menggelengkan kepalanya. "Aku nggak boleh suka sama dia!"


"Kalau begitu suka denganku saja," balas seseorang. Kedatangannya membuat Laura terkejut.


"Daffa?"


Next.

__ADS_1


__ADS_2