
Ketika suara ketukan pintu terdengar, Laura terpaksa menunda mandinya. Dia tidak jadi masuk ke dalam kamar mandi, tetapi bergegas ke ambang pintu masuk.
"Sebentar!" Laura berteriak sembari berjalan cepat, suara ketukan pintu itu mulai menghilang.
Laura membuka pintu. Alangkah terkejutnya dia melihat siapa yang datang sekarang. Seharusnya wanita ini tidak tahu rumah baru Laura, kecuali seseorang memberitahunya.
"Bu Wanda?" Laura menatap wanita itu dengan saksama. Sepasang mata meneliti barang bawaan milik Wanda.
"Tidak sulit cari rumah kamu ternyata," ucap Wanda. Wanita itu tersenyum manis. Tanpa menunggu Laura mengizinkan dia masuk, perempuan itu langsung masuk ke dalam rumah.
Mata tua Wanda menyapu setiap sudut ruangan. "Kamu tidak pandai menata barang-barang, atau malas melakukannya?" tanya Wanda sembari meletakkan buah tangan yang dia bawa.
Laura menutup pintunya. Dia langsung berlari pada Wanda.
"Kamu tinggal sendiri?" tanya Wanda lagi. Dia duduk di tengah sofa. "Sering ada yang datang ke sini?"
Laura hanya terdiam sembari memandang Wanda dengan sedikit aneh. Pertanyaan yang terkesan tiba-tiba, tetapi dia tidak punya cara untuk menghindarinya.
"Kadang kala ada teman yang datang," ucap Laura.
Padahal Laura sedang tidak dihukum, tetapi gadis itu berdiri layaknya sedang mendapatkan hukuman. Laura melipat tangannya ke belakang, dia bahkan menundukkan pandangan mata.
Wanda tersenyum. "Duduklah. Kenapa malah berdiri di sana?"
Laura manggut-manggut, seperti seekor anak anjing, dia menurut saja.
"Aku bawa sop daging untukmu makan malam," ucap Wanda. "Makan yang banyak. Aku tahu kamu pasti makan makanan yang tidak terlalu banyak gizi di sini. Itu akan mempengaruhi kesehatanmu. "
Laura mengangguk lagi.
"Kedatanganku membuatmu tidak nyaman?" Wanda langsung menyimpulkan. Dia tidak berbicara asal, tetapi berdasarkan sikap Laura sekarang ini.
Laura langsung menggelengkan kepalanya. "Aku hanya kaget Bu Wanda tiba-tiba datang."
Bahkan sejak hari pertama dia menikah dengan Adam dulu, Wanda tidak pernah menjenguknya. Sekarang wanita yang tiba-tiba datang dan membawakan semua ini untuknya.
"Kenapa memangnya kalau aku datang menjenguk kamu?" kekeh Wanda. "Kamu tidak senang?"
"Sangat senang!" Laura tiba-tiba antusias. "Hanya saja ... Bu Wanda tidak menyukaiku. Bu Wanda takkan meminta untuk menjauhi Pak Adam waktu itu."
Wanda menghela napas. "Tentu saja aku masih tidak menyukaimu sampai detik ini, Laura."
__ADS_1
Laura memandang Wanda dalam diam.
"Kamu gadis yang arogan, tidak punya sopan santun, kehidupan yang bebas, hamil diluar nikah, dan ...." Wanda diam, mengulum ludahnya sendiri. "Dan aku tidak yakin apa yang kamu lakukan setelah hidup sendiri seperti ini, Laura."
Laura tersenyum tipis. "Begitulah. Aku hanya berusaha untuk berjuang bertahan hidup sembari menikmati masa mudaku, Bu Wanda."
Tidak ada yang membicarakan tentang kehamilan Laura sekarang. Gadis itu juga enggan memulainya.
Wanda menghela napas panjang. Resah didapat ketika mendapati Laura hidup begini sekarang.
"Aku bertanya pada Adam apa yang dia lakukan tadi pagi," ucap Wanda tiba-tiba.
Fokus Laura kembali disita. Dia perlahan-lahan mengerutkan dahinya.
"Adam pergi dari rumah pagi-pagi sekali. Aku tidak tahu apa tujuannya melakukan itu, lalu aku mendesaknya untuk mengaku," imbuh Wanda.
Wanda mengembangkan senyum. "Katanya dia harus memastikan ibu dari anaknya sampai ke sekolah dengan selamat."
Ah, wanita Ini sedang membahas tentang kehamilan Laura pada akhirnya.
"Kamu hamil anak Adam?" tanya Wanda, dia berhenti untuk berbasa-basi. "Kamu yakin itu ...."
"Aku hanya berhubungan dengan Pak Adam." Laura menjawab dengan tegas. "Aku tidak berhubungan dengan laki-laki manapun selain dia."
"Kamu mau aku percaya setelah tahu gaya hidup kamu yang bebas?" tanya Wanda lagi. "Aku tidak tahu apakah kamu berbicara jujur atau tidak, Laura."
Laura hendak membalas perkataannya. Namun, Laura sudah cukup dewasa untuk menghadapi permasalahan seperti ini sekarang. Jadi, dia memilih diam saja.
"Haruskah Adam bertanggung jawab padahal kamu tidak bisa membuktikan kalau itu adalah anaknya?" tanya Wanda lagi.
Laura mulai merasakan perih di hatinya. Kata-kata Wanda benar-benar menggores hati Laura. Menghadapi kehamilan di masa seperti ini saja sudah sulit, sekarang ditambah kata-kata kasar darinya.
"Laura ...."
"Aku tidak memaksa Pak Adam untuk bertanggung jawab!" Laura memotong kalimat Wanda.
Gadis itu menatap dalam diam. Sepasang matanya berbinar, jelas-jelas menahan air mata agar tidak turun membasahi pipinya.
"Aku juga tidak pernah memaksa dia untuk datang ke rumah ini pagi-pagi buta hanya untuk mengantarkan aku ke sekolah, Bu Wanda!"
Laura memalingkan wajahnya. Dia kesal. Kehamilannya diragukan. Laura dihakimi padahal dosa tidak sepenuhnya ada pada dirinya, seakan semesta selalu saja memihak Adam.
__ADS_1
"Aku tidak memaksa dia untuk menikahiku atau mengakui anak ini! Aku bisa membesarkannya sendiri!" ketus Laura.
Wanda menyungging senyum. "Kamu yakin? Terakhir kali kamu menggugurkan kandunganmu dengan sengaja, Laura."
Laura langsung diam.
"Kamu tidak pantas menjadi seorang ibu. Jadi, kenapa kamu bisa saya yakin itu sekarang?" Wanda jelas-jelas menekan dirinya.
Laura tidak sadar kalau dia meneteskan air mata.
"Jadi ibu tunggal itu tidak mudah, Laura," ucap Wanda. "Apalagi di usia muda kamu. Aku yakin kalau kamu masih meneruskan sekolah kamu, kamu juga masih ingin jalan-jalan dan hura-hura dengan teman-teman kamu, bukan?"
Laura memalingkan wajah. Dia mengusap air matanya dengan kasar. Jika saja bukan ibu Adam, Wanda pasti sudah dimaki-maki oleh Laura. Wanita tua ini benar-benar sok tahu.
"Jangan rugikan Adam," timpal Wanda lagi.
Laura menatapnya dengan marah.
"Dia hanya pria baik yang kebetulan takdirnya bertemu dengan kamu." Wanda mengemasi barang-barang. Dia hendak pergi, tujuannya hanya untuk melihat Laura dan menekan mentalnya saja.
"Jika memang ini adalah anaknya, bukan kalau di wajah kamu membiarkan dia berjuang untuk melindungi kamu?" tanya Wanda. Dia tak henti-hentinya menatap Laura. "Bukan malah berusaha menghindarinya. Seolah-olah kamu hanya menjebaknya dan mempermainkan hatinya."
Laura merapal di dalam hati. Dia benar-benar menyumpahi wanita ini tersambar petir di luar sana paling tidak.
"Laura. Jika ...."
"Aku bilang aku bisa membesarkan anakku sendiri!" Laura berkaca-kaca. Nada bicaranya gemetar karena diselah oleh isak tangis. "Jangan remehkan aku!"
Wanda tersenyum. "Buktikan kalau begitu. Buktikan semuanya bukan hanya omong kosong, Laura. Jangan permainkan putraku, atau kamu benar-benar berhadapan denganku."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Wanda berpaling dari hadapan Laura. Dia hendak meninggalkan rumah ini.
"Pak Adam yang mempermainkan aku!" Laura menyahut. Kalimatnya sukses membuat Wanda berhenti.
Wanda menatap Laura dalam diam. Mengizinkan gadis itu berbicara se-lega-nya.
Laura mengusap air mata lagi. "Dia bilang kalau hubungannya denganku hanya kesalahan dan dia menyesalinya! Bu Wanda pikir ... kata-katanya dan sikapnya sekarang tidak mempermainkan hatiku juga?"
"Aku mencintainya. Aku mencintai Pak Adam," ucap Laura mengaku. "Namun, dia mempermainkan aku! Dia menganggap perasaanku remeh dan sekarang ...." Laura menghela napas. "Ibunya juga melakukan hal yang sama!"
Wanda tak berbicara.
__ADS_1
Laura menunjuk ke luar pintu. "Pergi dari sini! Bawa semua buah tanganmu pergi dari sini! Aku tidak akan memakannya!" ketus Laura. Dia pergi dari hadapan Wanda. Masuk ke dalam kamarnya.
Next.