Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
111. Senja Yang Manis


__ADS_3

Senja memikat hati. Laura tak berhenti tersenyum sembari terus melangkah, mengikuti ayunan langkah kaki jenjang Adam. Entah mengapa, ini hari bahagia untuk mereka.


"Pak Adam, aku ingin tanya sesuatu," ucap Laura tiba-tiba. Dia menoleh, sedikit mendongak. Adam jauh lebih tinggi darinya.


Adam mengangguk. "Apa?"


"Pak Adam bilang kalau Pak Adam adalah pembunuh. Pak ada pernah masuk penjara," tandas Laura. Pandangan matanya begitu yakin.


Sebenarnya Laura tidak ingin membicarakan ini, tetapi dia tidak bisa bohong pada keresahannya sendiri. Laura terus aja memikirkan hal yang sama, kemungkinan Adam adalah pria yang buruk.


"Kamu akan bertanya segamblang ini?" tanya Adam sembari terkekeh. Dia melihat sekitarnya. "Di tempat ramai begini?"


Laura berhenti, begitu juga dengan Adam. Keduanya saling memandang. "Mau bicara di rumah saja?"


Adam mengembangkan senyum manis. Kepalanya menggeleng dan tangannya mencubit pipi Laura. "Kamu ini."


Laura merasakan cinta di antara mereka. Dia berharap ini bukan keyakinan miliknya saja. Namun, juga Adam.


"Pak Adam tidak harus menjawab jika memang tidak bisa menjawabnya sekarang," ucap Laura. Dia kembali melangkah.


Adam mengekorinya. Tiba-tiba dia merangkul Laura. "Aku memukuli temanku sampai koma," ucap Adam menjelaskan.


Laura mendongak. Ah, dia sedang bercerita.

__ADS_1


"Bagaimana menjelaskannya, ya?" Adam menggosok dagu lancipnya. Sejenak berpikir. "Mungkin karena masa remaja itu labil." Dia manggut-manggut sembari menatap Laura.


Laura tersenyum manis. "Aku paham. Itu terjadi padaku juga."


"Karena itu aku dipenjara." Adam meneruskan. "Anak yang aku pukuli adalah anaknya orang kaya, cukup berpengaruh di sekolahanku saat ini."


Laura mendengar sembari membayangkan, kiranya seperti apa Adam melakukan itu di masa lalu.


"Orang tuaku tidak mampu, jadi mereka mengaku bersalah." Adam melirik Laura. "Aku dipenjara selama satu minggu sebelum akhirnya ada orang baik yang menolongku keluar dari penjara."


"Mereka menjamin hidupku sampai aku bisa kuliah," imbuh Adam lagi.


Laura terus manggut-manggut mendengarkan. Entah siapa, dia tidak terlalu peduli sejauh itu.


"Kamu tidak tanya siapa orangnya, Ra?" Adam menatapnya. "Orang yang mengubah hidupku, hingga aku bisa hidup nyaman seperti sekarang."


Adam manggut-manggut. "Itulah kenapa, aku merasa bersalah padamu."


"Jangan bilang kalau Pak Adam kembali padaku hanya karena ingin membayar hutang," tutur Laura. "Aku akan sangat kecewa jika memang itu adalah alasannya."


Adam mengusap puncak kepala Laura. "Kenapa harus kecewa? Fakta bahwa orang tua kamu memberi kehidupan pada orang lain, seharusnya membuat kamu bangga."


"Bukan itu yang aku maksudkan!" gerutu Laura. "Untuk sekarang ini aku tidak membutuhkan alasan apapun untuk terus bersama Pak Adam."

__ADS_1


Adam tersenyum geli. Dia kembali mengusap kepala Laura.


"Aku serius!" Gadis itu merengek lagi. "Untuk sekarang ini, aku benar-benar mencintai Pak Adam. Aku tidak mau ada alasan yang lain."


"Jika orang tuaku pernah berjasa pada hidup Pak Adam, itu bukan urusanku. Itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku." Pandangan mata Laura semakin tegas. "Aku hanya berharap, Pak Asam mencintaiku tanpa alasan."


Adam mengangguk. "Aku sudah melakukannya sekarang, Laura."


"Awalnya aku berpikir, aku merasa bersalah karena berhutang budi pada orang tuamu." Adam kembali menarik tangan Laura untuk ikut berjalan bersamanya. "Namun, lambat laun aku mulai menyadarinya."


Adam memandang wajah cantik Laura. "Ternyata aku mencintai kamu, Laura. Benar-benar mencintai kamu."


Laura tersenyum bahagia. "Kalau begitu ... Pak Adam mau menikahi aku lagi?" tanyanya dengan antusias.


"Huh?" Adam memicingkan mata. "Untuk itu ...." Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Kalau soal yang itu ...."


Laura tertawa terbahak-bahak. "Bercanda!" Dia menepuk dada bidang Adam. "Aku hanya bercanda! Kenapa serius sekali."


"Pak Adam?" Laura memanggilnya lagi. "Mau menginap malam ini?" tanyanya pada Adam. "Aku di rumah sendirian," godanya. "Besok juga akhir pekan, aku tidak sekolah dan Pak Adam tidak bekerja," ucapnya lagi.


Laura bergelayut manja. "Bagaimana?"


Adam tersipu. Dia tidak memberi jawaban pasti padanya. Hanya terus melangkah, menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Entahlah. Adam hanya punya gambaran hubungan yang sederhana dan manis, bukan dewasa dan bergairah.


Next.


__ADS_2