Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
67. Penyesalan?


__ADS_3

"Dam?" Wanda mendekati putranya.


Adam duduk di serambi rumah, memandang cakrawala lepas di atas sana. Perasaannya tidak baik-baik saja, tidak perlu dijelaskan tentang apa.


"Maafkan ibumu ya, Dam." Wanda duduk di samping Adam. Dia memandang putranya itu dengan saksama. "Mungkin memang Ibu yang terlalu memaksakan pernikahan kalian."


Adam tersenyum tipis. "Bukan salah siapa-siapa," kata Adam. "Aku dan Laura memang tidak berjodoh. Mau bagaimana lagi?"


"Katanya kamu mencintai Laura, Dam." Wanda mengusap punggung tangan putranya. "Kamu tidak mau berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kalian?"


Adam menghela napas panjang. "Memangnya aku masih bisa mempertahankan rumah tanggaku?" Dia pasrah dan menyerah. "Laura bertindak sejauh ini untuk lepas dari diriku. Itu artinya memang aku yang terlalu memaksakan kehendak."


"Aku hanya berpikir, kalau aku terus mencoba mempertahankan dan memaksakan keadaan ... maka, kita berdua hanya akan saling menyakiti." Adam menatap Wanda. "Tujuan menikah bukan untuk itu, Bu Wanda."


Wanda manggut-manggut. "Kamu sudah dewasa. Tidak seperti Adam yang dulu." Kalimatnya diakhiri dengan senyum seadanya.


"Aku hanya merasa bersalah sama Pak Faishal dan Bu Desi." Adam kembali menuturkan. "Aku sudah berjanji akan menjaga Laura apapun yang terjadi. Sayangnya, aku tidak bisa menepati janjiku itu."


"Bukan salahmu juga, orang yang meminta lepas dari dirimu," ujar Wanda. "Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, Dam. Hasilnya kita serahkan pada Yang Maha Kuasa."


Adam manggut-manggut. "Bu Wanda benar."


"Kita hanya perlu berdoa, Laura bisa menjalani kehidupannya dengan baik setelah bercerai denganmu nanti," imbuh Wanda. "Semoga dia bisa berubah."


>>>>><<<<


"Aku bercerai!" Laura berteriak kegirangan di tepi sungai. Dia tertawa, seakan sudah melepaskan sesuatu yang berat dalam hidupnya.


Daffa tersenyum memandang Laura. "Belum resmi. Jangan senang dulu," katanya.


Laura ikut menoleh. Dia duduk di samping Daffa yang sedang merokok. "Semua ini berkat dirimu. Kalau kamu tidak membantu, aku tidak akan pernah bisa lepas dari pernikahan itu."

__ADS_1


Laura menyandarkan kepalanya di bahu Daffa. "Akhirnya setelah sekian lama, aku kembali pada kehidupanku."


"Aku tidak lagi terikat pada laki-laki yang tidak pernah aku cintai dan aku bisa kembali padamu lagi." Laura mendongak sembari menatap wajah Daffa.


Daffa mengusap pipi Laura dengan begitu lembut. "Kamu yakin tidak akan menyesali ini kan?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Kenapa aku harus menyesalinya?" tanyanya. "Sejak dulu memang aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini ada."


"Pak Adam yang memaksaku, katanya mau bertanggung jawab tentang kehamilaku." Laura mulai mengulas masa lalunya. "Papa dan mama ...."


Kalimat Laura berhenti sampai di sana. Tidak sengaja dia menyinggung tentang orang tuanya. Aneh sekali, tiba-tiba Laura merasa bersalah. Padahal kesalahan itu tidak ada hubungannya dengan orang tuanya.


Daffa menoleh ketika Laura tidak bersuara. "Ngomong-ngomong soal orang tua kamu, kapan mereka akan kembali ke Indonesia?"


"Kamu akan terus tinggal sama tante kamu?" tanya Daffa lagi. "Memangnya ada urusan apa di luar negeri?"


Laura menjauhkan wajahnya dari Daffa. Gadis itu terdiam sembari berpikir. Laura mencari jawaban yang terdengar masuk akal.


"Kenapa malah diam saja?" Daffa memiringkan kepalanya, mencoba mengambil alih fokus Laura. "Aku seharusnya tidak bertanya tentang itu?"


Laura tersenyum tipis. "Sesuatu yang tidak boleh aku ceritakan sama orang lain untuk saat ini. Bisa dikatakan papa dan mamaku melakukan sesuatu yang bersifat pribadi."


Keduanya saling memandang, Laura berharap kebohongannya bisa dipercaya. Daffa juga diam cukup lama, seakan sedang menerka sesuatu dalam pandangan mata Laura.


"Nanti aku ceritakan kalau semuanya sudah normal." Laura tersenyum kuda, berusaha menghilangkan kecanggungan yang ada.


Daffa akhirnya menganggukkan kepalanya. "Aku tunggu penjelasan itu," jawabnya.


Pembicaraan sejenak terhenti, tidak ada suara. Keduanya saling memandang aliran air di depan mereka. Ini adalah tempat kencan pertama Daffa dan Laura, setidaknya ada jejak cerita di titik ini.


"Aku sepertinya tidak bisa melanjutkan kuliah." Daffa membuat topik pembicaraan.

__ADS_1


Laura menoleh sembari mengerutkan keningnya. "Kenapa tidak bisa? Kamu tergolong pandai di sekolah," ucapnya.


Daffa menunduk, seolah-olah ada beban besar yang sedang dia pikul sekarang. "Uangnya akan aku gunakan untuk membayar hutang."


Hutang lagi? Itulah yang ada di dalam benak Laura sekarang. Akan tetapi, dia tidak berani mengatakan itu. Laura terlalu mencintai Daffa, dia dibutakan akan hal itu.


"Kamu masih punya hutang yang lain?" tanya Laura.


Daffa manggut-manggut. "Jumlahnya cukup besar," jawabnya yakin. "Aku masih memikirkan cara untuk segera melunasinya sebelum jatuh tempo."


Dulu, Laura akan langsung menawarkan bantuan. Gadis itu akan dengan senang hati menyumbangkan uang jajannya untuk membantu Daffa. Namun, Laura tidak bisa melakukan itu sekarang. Dia baru saja mengembalikan kartu ATM atas nama Adam.


"Memang berapa hutangnya?" tanya Laura ragu. Dia memandang Daffa, begitu juga sebaliknya.


Daffa menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak perlu membantuku lagi, yang kemarin saja sudah cukup." Pemuda itu berpura-pura. Tentu saja dapat berharap bantuan dari Laura.


Laura meraih tangan Daffa. "Kamu sudah membantuku banyak, jadi giliran aku yang membantu kamu."


Kebodohan Laura memang tidak terkira jika sudah dihadapkan dengan Daffa. Cinta memang membuat seseorang menjadi lupa diri.


"Kamu yakin?" tanya Daffa memastikan.


Laura manggut-manggut. "Memangnya berapa?"


"Lima juta," jawab Daffa dengan tegas. "Kalau mau meminjamkan uang dulu, nanti aku ganti di bulan depannya, Ra." Daffa menggenggam tangan Laura. "Kamu bisa membantuku?"


Laura terdiam. Uang itu sangat banyak untuk dirinya sekarang. Laura harus berhemat jika ingin mencukupi kebutuhannya sendiri.


"Ra? Kamu tidak bisa, ya?" Daffa menyela lagi. "Tidak apa-apa jika tidak ...."


"Aku bisa. Tentu saja. Aku akan mengirimkan uangnya sama kamu nanti," ucapnya lagi. Laura tersenyum manis pada Daffa. "Kamu jangan khawatir."

__ADS_1


Next.


__ADS_2