Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
55. Pernikahan Yang Membahagiakan


__ADS_3

Kembali ke rumah. Laura menghela napas lega. Seakan dia baru saja keluar dari penjara dunia, akhirnya dia bisa mencium aroma rumah ini lagi.


"Kamu bisa letakan barang-barang di sana dulu. Nanti aku yang akan bereskan." Adam berbicara dengan lembut.


Laura menoleh padanya. Pria itu sibuk meletakkan semua barang-barangnya sepulang dari rumah sakit. Adam merawatnya dengan cukup baik, dia bahkan rela tidak masuk mengajar demi memastikan Laura pulih dengan cepat.


Laura berdehem ringan. "Makasih, Pak Adam."


Adam menoleh. Ditatapnya Laura dengan serius. "Kamu bisa juga mengucapkan terima kasih," kekehnya.


Mendapat jawaban yang tidak semestinya, Laura beranjak dari tempatnya sembari menggelengkan kepalanya. Dia bergumam lirih di sepanjang langkah. "Dasar menyebalkan!"


"Ada yang ingin aku tanyakan." Adam menghentikan langkah kaki Laura. Gadis itu menoleh dan memandangnya. Menunggu Adam kembali berbicara.


"Apa yang kamu bicarakan sama Daffa di rumah sakit?" tanya Adam. "Sepertinya kalian membicarakan masalah yang serius."


Tentu saja Laura tidak bisa jujur apa adanya. Laura tidak mungkin mengatakan kalau dia mengambil uang Adam untuk membantu melunasi hutang Daffa.


"Tidak mau berbicara denganku tentang itu?" tanya Adam memastikan. "Jangan lupa kalau aku berhak mengetahuinya."


Laura menghela napas panjang. "Aku saja tidak penasaran dengan kelanjutan hubunganmu dan Nurwa."


"Kenapa kamu penasaran dengan hubunganku dan Daffa?" Laura mencari-cari alasan. "Privasi tetaplah privasi. Papa dan mamaku juga punya privasi masing-masing, tidak semuanya harus diumbar ke pasangan."


Laura pergi setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Benar juga," gumam Adam menurutinya. Bukan saat yang tepat untuk berdebat dengan Laura. Laura belum pulih sepenuhnya. Dokter bilang kalau dia harus banyak beristirahat.


>>>><<<<

__ADS_1


Senja turun dari peraduannya. Seharian penuh Laura tidak melakukan apapun, dia hanya tidur di atas ranjang. Meratapi nasibnya sendiri.


Laura memutuskan keluar dari kamar. Melihat Adam yang sibuk mencari sesuatu di kamarnya dari ambang pintu yang terbuka.


Laura mendekati Adam. Dia berdiri di depan pintu kamar pria itu. "Pak Adam cari sesuatu?" tanya Laura. "Sepertinya penting?"


Adam menjawab sembari memunggungi Laura. "Cari buku nikah."


Laura mengerutkan keningnya mendengar jawaban Adam. Hal yang hilang di luar dugaannya. "Buku nikah kita hilang?"


Adam mengangguk. "Saat selesai dicetak, aku meletakkannya di dalam laci itu."


Adam berhenti mencari dan menatap Laura. "Aku hendak menjadikan satu dengan dokumen yang lain."


"Aku membeli map baru," kata Adam menjelaskan.


Laura mengangguk paham. "Tidak perlu dicari mati-matian. Nanti juga ketemu."


"Pak Adam!" Laura berteriak dari kamar mandi. Adam panik dan langsung berlari ke arahnya. Berharap tidak ada yang terjadi pada Laura.


"Kenapa?" tanya Adam ikut panik ketika melihat Laura panik di tempatnya. "Ada masalah?"


Laura menunjuk keranjang di sudut kamar mandi. "Krim mataku hilang!"


Adam menghela napas pasrah. Raut wajahnya berubah begitu saja. "Aku kira sesuatu yang penting! Kamu berteriak tadi."


"Itu juga hal yang penting!" Nada bicara Laura dipenuhi protes. "Krim mataku itu harganya ratusan ribu! Aku yakin Pak Adam tidak akan memberikan uang kalau aku memintanya."


Laura mendesah. "Bagaimana bisa itu hilang padahal masih banyak isinya? Aku baru membuka segelnya satu minggu yang lalu," tutur Laura. Dia berjongkok di depan Adam, menyerah dan pasrah tanpa mau usaha apapun.

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau tidak pakai krim itu? Kulitmu akan alergi sekujur tubuh?" kekeh Adam menghinanya.


Laura mendongak. Dia memandang Adam dengan kesal. "Pak Adam memang tidak akan pernah paham sedikit pun!"


"Percuma saja merengek di depanmu!" kesal Laura. Dia keluar dari kamar mandi dengan menghentakkan langkah kaki. Berharap Adam tahu sebesar apa kemarahannya.


Adam memandangnya.


"Kamu bukan papa!" gerutu Laura. "Kalau itu papa, dia pasti langsung akan memberikan uang untuk membeli yang baru," gumamnya sembari berjalan.


Adam mengikuti Laura.


"Make up-ku banyak yang habis, sekarang malah krim ratusan ribu itu juga hilang." Laura tidak punya semangat. Benda-benda seperti itulah yang menjadi sesuatu untuk membuat Laura tersenyum.


"Kamu boleh menggunakannya." Adam tiba-tiba menyahut dari belakang Laura.


Laura menoleh. Ditatapnya Adam dengan tanda tanya.


"Kartu ATM-nya," imbuh Adam. Dia ragu. Laura tipe gadis yang tak tahu cara menabung. Padahal Adam mati-matian untuk menyimpan uangnya.


Laura mengerutkan kening. "Kartu ATM?"


"Kartu yang aku berikan padamu kemarin. Yang aku bilang untuk pegangan kamu, kamu bisa mengambil uang dari sana untuk membeli krim itu," ujar Adam lagi.


Laura langsung melengkungkan senyum di atas bibirnya. Tanpa basa-basi, saking senangnya dia memeluk Adam.


"Aku senang sekali!" teriak Laura.


Adam hanya terdiam kaku ketika Laura memeluknya. Dia bahkan menahan napas agar tidak mengganggu kebahagiaan gadis ini.

__ADS_1


Namun, Adam hanya laki-laki biasa. Sekuat apapun iman yang dia bangun, kenyatannya Laura adalah istrinya. Dia terbawa arus suasana yang ada.


Next.


__ADS_2