Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
85. Aku Masih Mencintainya!


__ADS_3

Nurwa masuk ke dalam ruang dapur. Rinjani memunggunginya, sibuk dengan aktivitasnya memasak telur kesukaannya.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Nurwa. Menyapa dengan senyum seadanya.


Rinjani menatapnya sejenak. Tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Sudah hampir selesai," jawabnya. "Tinggal meniriskan saja."


Rinjani mematikan kompor di depannya. "Mbak Nurwa tolong ambilkan piring itu!" titah Rinjani. Dia menunjuk piring yang ada di dalam rak piring.


Nurwa menganggukan kepala. Mengambil piring sesuai perintah Rinjani.


"Ngomong-ngomong soal piring," ucap Nurwa tiba-tiba. Dia menyodorkan piring pada Rinjani. "Kemarin saat pulang kerja, aku melihat Mas Adam keluar membawa kotak besar dari toko porselen."


Rinjani hanya manggut-manggut sembari meniriskan telur gorengnya.


"Sepertinya dia membeli banyak," ujarnya lagi. Nurwa tersenyum canggung. "Untuk persiapan pernikahan kita juga?"


Sekarang Rinjani menatap Nurwa sedikit bingung. Dia menaikkan kedua alisnya, meminta penjelasan dari Nurwa.


"Maksduku ... setiap pasangan yang mau menikah dan memulai hubungan baru selalu mencicil untuk membeli perabotan rumah," ucapnya. "Itu adalah hal yang wajar bukan?"


Rinjani menggelengkan kepalanya. "Bukan untuk dia."


Nurwa mengerutkan dahi. "Bukan untuk dia?"


"Mas Adam bertanya padaku kemarin di mana membeli piring dan gelas yang bagus." Rinjani menatap Nurwa dengan saksama. "Awalnya aku berpikir yang sama seperti yang Mbak Nurwa pikirkan hari ini."


Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Namun, aku menemukan tulisan tangan di meja kerja Mas Adam," ucap Rinjani lagi.


Nurwa semakin penasaran. "Tulisannya tentang apa?" tanyanya.


Rinjani tiba-tiba mengubah raut wajahnya. Nurwa tidak bisa menyimpulkan perasaannya.


"Ada apa?" tanya Nurwa.


"Ini untuk mengganti kerusakan kerja yang aku lakukan kemarin siang di hari pertama aku bekerja," tutur Rinjani tiba-tiba.


Nurwa dibuat semakin bingung dengan gadis ini.

__ADS_1


"Aku janji kalau aku tidak akan mengulanginya lagi dan akan giat bekerja untuk ke depannya." Rinjani menatap lawan bicaranya dengan saksama. "Tebak nama siapa yang ada di pojok kiri kertas sebagai identitasnya?"


Nurwa mulai menangkap arah pembicaraan mereka. Ada satu nama yang terbesit dalam benaknya.


"Laura Mentari." Rinjani menghela napas. "Aku tidak tahu kenapa Mas Adam masih peduli dengan mantan istrinya."


"Mungkinkah dia masih merasa kalau dia berhutang budi pada orang tua Laura?" Rinjani berdecak. "Dia memang terlalu baik."


Rinjani memungkasi pembicaraan. Dia fokus pada telur gorengnya yang mulai dingin. "Mbak Nurwa tidak perlu khawatir. Naura juga tidak akan mau menerima Mas Adam lagi."


Nurwa tiba-tiba kehilangan semangatnya. Tersenyum saja dia sudah tidak bisa.


Rinjani kembali menatap Nurwa. "Aku juga tidak setuju kalau mereka bersama. Laura terus saja menginjak-nginjak harga diri kakakku."


Nurwa tersenyum miring. "Semoga saja."


>>>><<<<


Nurwa mendapatkan sebuah alamat dari Rinjani. Alamat itulah yang membawa langkah kakinya sampai ke tempat ini. Tempat kerja Laura.


Entah setan apa yang mengantarkan dirinya sampai ke sini, tiba-tiba saja dia ingin berbicara dengan Laura.


"Ada pelanggan!" Seseorang berteriak dari meja kasir. Seperti memanggil seseorang untuk keluar dari persembunyiannya.


Nurwa mengambil tempat duduk yang tak jauh dari jendela. Tujuannya agar dia bisa melihat pemandangan jalanan di luar sana.


Tak berselang lama, seseorang menghampiri Nurwa. "Mau pesan apa?" Suaranya begitu familiar. Nada bicaranya begitu malas. Tidak ada sambutan baik, meskipun Nurwa adalah pelanggan di tempat ini.


"Laura?" Nurwa memandang ke arah Laura. Ternyata begitu mudah untuk menemui gadis ini.


"Aku tanya sama kamu, kamu mau pesan apa?" tanyanya. Laura meletakkan buku menu dan selembar kertas di hadapan Nurwa. "Kamu bisa tulis di sana. Panggil aku lagi kalau sudah selesai."


Laura berpaling dari Nurwa. Hendak pergi, tetapi wanita berkerudung itu menarik tangannya. "Bisa kita bicara sebentar?"


Laura memicingkan mata. "Kamu tidak lihat kalau aku sedang kerja?" Dia menjawab dengan ketus. "Aku tidak punya waktu."


"Haruskah aku memanggil bosmu?" Nurwa tidak pernah memberi ancaman pada seseorang. "Tempat ini dikenal karena pelayanan yang ramah."

__ADS_1


Laura tidak punya pilihan lain. Dia harus menjaga sikapnya hari ini. Kesalahan sekecil apapun, tidak boleh dia lakukan.


Laura duduk di depan Nurwa. "Mau apa kamu?" tanyanya.


Nurwa tiba-tiba meletakkan ponselnya di atas meja. Dia memberikan foto kepada Laura. "Kamu sudah tahu ini pasti."


Laura mengerutkan kening. "Kamu mengambil gambarnya untuk membuktikan kalau Pak Adam masih peduli padaku?" Gadis itu tertawa. "Kamu kekanak-kanakan sekali."


"Bukan itu yang ingin aku bicarakan." Nurwa kembali menyimpan ponselnya. Bersyukurnya dia, Rinjani sempat mengambil foto surat itu dengan ponselnya.


"Aku dan Mas Adam menikah." Rinjani mengerutkan kening. "Masa kamu belum tahu berita itu?"


Laura manggut-manggut yakin. "Kalian mau mengundangku untuk datang?" kekehnya. "Kalau begitu bawakan aku undangan resmi."


Nurwa menghela napas. "Laura!" Dia mulai kesal. "Tolong ganggu kita lagi. Jangan ganggu Mas Adam lagi."


Laura menatapnya dalam diam.


"Itu yang ingin aku katakan," imbuh Nurwa. Wajahnya dipenuhi kegelisahan. "Kamu masih menyukai Mas Adam?"


Laura memalingkan wajahnya.


"Kamu masih berharap sama dia?" cecar Nurwa. "Ingat, kamu yang menceraikan dia. Kamu menuduhnya berselingkuh! Kamu merendahkan harga dirinya."


Laura mengulum ludah. Dia menyesali itu.


"Jadi, jalani hidupmu karena ini adalah pilihanmu sendiri." Nurwa memohon. "Mas Adam akan jadi suami orang. Kamu tidak boleh mengganggunya."


Laura menatap Nurwa. "Kalau iya, kamu mau apa?"


Nurwa terdiam.


"Kalau aku masih menyukai Pak Adam, memangnya kenapa?" Laura ketus. "Aku tidak boleh menyukai mantan suamiku? Kami pernah menikah dan membangun rumah tangga!"


"Kamu menyukai Mas Adam?" Nurwa memandang tak percaya.


Laura mangut-manggut. "Hm! Aku menyukainya!"

__ADS_1


Next.


__ADS_2